Palembang | Polda Sumatera Selatan memperkuat perannya sebagai simpul utama pengendalian arus mudik lintas Sumatera dengan memetakan kondisi lalu lintas secara real time di 17 wilayah.
Langkah ini dilakukan dalam rangka mendukung kelancaran perjalanan pemudik selama pelaksanaan Operasi Ketupat Musi 2026.
Dalam operasi tersebut, aparat berhasil menertibkan sebanyak 143 kendaraan truk over dimension over loading (ODOL) dari jalur strategis nasional, khususnya di Jalur Lintas Timur (Jalintim) yang menjadi tulang punggung mobilitas antarprovinsi di Pulau Sumatera.
Penertiban ini dinilai penting karena keberadaan truk ODOL kerap menjadi salah satu penyebab utama kemacetan, bahkan berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas, terutama saat terjadi lonjakan arus mudik Lebaran.
Kapolda Sumsel Sandi Nugroho menegaskan bahwa pendekatan berbasis data menjadi kunci dalam pengendalian arus lalu lintas tahun ini.
Melalui sistem monitoring real time yang terhubung dengan seluruh Polres, pengambilan keputusan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Kita tidak lagi bekerja berdasarkan prediksi semata, tetapi berdasarkan data real time dari 17 Polres. Ini memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat di lapangan,” ujar Sandi, Selasa (17/3/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, penertiban terbesar dilakukan di wilayah Musi Banyuasin dengan 52 unit truk ODOL yang dikandangkan, disusul Banyuasin sebanyak 50 unit.
Kedua wilayah ini merupakan jalur vital yang tidak hanya digunakan sebagai jalur distribusi logistik, tetapi juga sebagai rute utama pemudik lintas provinsi.
Sementara itu, wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi salah satu daerah dengan tekanan arus lalu lintas tertinggi.
Tercatat terdapat tujuh titik rawan kemacetan, yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas pasar tumpah di sepanjang Jalintim.
Di wilayah ini, aparat juga berhasil menertibkan sebanyak 30 kendaraan sumbu tiga.
Sebagai langkah antisipasi, Polda Sumsel telah menyiapkan sejumlah jalur alternatif strategis guna mengurai kepadatan kendaraan.
Salah satunya adalah jalur Komering yang menghubungkan OKI menuju OKU Timur melalui Lintas Tengah.
Selain itu, jalur Jejawi–Rambutan–Jakabaring juga disiapkan sebagai opsi untuk mengurangi beban lalu lintas menuju Palembang.
Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat di wilayah Prabumulih yang dilaporkan masih relatif lancar tanpa hambatan berarti.
Untuk mendukung kelancaran arus kendaraan, Jalan Lingkar Timur di wilayah tersebut disiapkan sebagai jalur alternatif menuju akses Tol Prabumulih–Palembang.
Secara keseluruhan, dari 17 wilayah yang dipantau, sebanyak 10 wilayah dilaporkan dalam kondisi relatif lancar tanpa titik rawan signifikan.
Sementara tujuh wilayah lainnya masih menjadi fokus pengamanan intensif oleh aparat kepolisian, mengingat potensi kepadatan yang cukup tinggi.
Kabid Humas Polda Sumsel Nandang Mu’min Wijaya menyampaikan bahwa keterbukaan informasi terkait kondisi lalu lintas ini merupakan bagian dari upaya pelayanan kepada masyarakat, khususnya para pemudik.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mudik, tetapi mudik dengan perencanaan. Gunakan jalur alternatif yang sudah kami siapkan agar perjalanan lebih aman dan nyaman,” jelasnya.
Dengan posisi strategis Sumatera Selatan sebagai penghubung utama jalur darat di Pulau Sumatera, keberhasilan dalam memetakan serta mengendalikan arus lalu lintas menjadi faktor penting dalam menjamin kelancaran mobilitas masyarakat.
Upaya penertiban truk ODOL, pemetaan wilayah rawan, serta penyediaan jalur alternatif diharapkan mampu mengurangi potensi kemacetan dan kecelakaan selama puncak arus mudik dan arus balik Lebaran.
Melalui sinergi antara kepolisian dan masyarakat, diharapkan perjalanan mudik tahun ini dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar, sehingga masyarakat dapat merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga di kampung halaman. (*)












