Hari beranjak siang. Surat sudah ditandatangani. Dimasukkan ke map berwarna biru. Terus disatukan dengan perangkat kerja lain di tas. Semua siap. Lalu berpamitan ke istri dan kedua anaknya.
Motor bebek Honda Supra Fit tahun 2004 dinyalakan yang akan mengantarnya ke tempat liputan seperti waktu-waktu sebelumnya. Itu terjadi akhir November 2008 di sebuah rumah mungil di bilangan Pondok Aren, Tangerang Selatan.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 wib. Kring…kring..kring telepon selular di saku celana berbunyi. “Halo Mas Dudi, ini dari SDM. Nanti sore ke ruangan SDM ya. Ada yang perlu ditandatangani,” kata suara perempuan di ujung telepon.
“Tanda tangan apa, ya?” tanya saya.
“Pokoknya ada kejutan buat Mas Dudi. Jangan lupa ya. Nanti sore ditunggu,” ujar suara perempuan itu terdengar gembira.
“Oke. Terima kasih,” kata saya sambil menutup percakapan.
Selesai shalat ashar di salah satu kantor pemerintah kota Tangerang, saya bersiap kembali ke kantor. Seperti biasa di lapangan tidak terjadi apa-apa. Menemui narasumber. Mengetik berita. Dan, mengirimnya ke redaksi.
Selesai tugas keseharian memenuhi pekerjaan rutinnya, pria berusia 36 tahun ini cabut dari wilayah Tangerang menuju kantornya di bilangan Kedoya, Jakarta Barat. Setelah motor diparkir dengan langkah mantap menuju ruangan SDM Media Indonesia.
Sesampainya di ruang SDM, ada beberapa orang yang sedang menunggu. Tampaknya memiliki kepentingan seperti saya. Mau menandatangani sebuah surat. Perempuan yang menelepon tadi muncul di hadapan saya.
“Mas, Dudi di sini,” katanya sambil menunjuk sebuah kursi kosong.
Saya pun duduk di samping teman-teman satu kantor.
“Bapak-bapak, kami panggil ke sini untuk menandatangi surat kredit murah motor Suzuki Arashi seperti yang sudah disampaikan pada surat terdahulu,” kata perempuan berusia sekitar 25 tahunan itu. “Dipotong Rp50 ribu per bulan untuk lima tahun ke depan,” tambahnya.
Selesai perempuan itu berbicara, teman-teman yang berada di ruangan itu satu per satu menandatangani surat perjanjian. Setelah itu mereka keluar dan kembali ke ruangannya masing-masing. Tinggal saya dan beberapa pegawai SDM.
“Mas, Dudi kok belum tanda tangan?” tanya perempuan muda itu. “Teh, saya ke sini itu untuk mengajukan pengunduran diri sebagai wartawan Media Indonesia. Ini suratnya,” kata saya menyerahkan amplop yang berisi surat pengunduran diri yang sudah dipersiapkan dari rumah sejak pagi tadi.
Mendengar penjelasan saya, sontak perempuan dan beberapa pegawai SDM yang ada di ruangan tersebut terperengah; kaget. “Jadi Mas Dudi ke sini bukan untuk mengambil motor tapi mau mundur dari Media Indonesia,” tanya salah seorang pegawai SDM.
“Iya, saya resign. Saya tidak akan mengambil motor. Berikan saja pada karyawan lain yang memenuhi syarat,” balas saya tenang.
Selesai urusan di SDM, kaki ini melangkah ke ruangan redaksi lantai dua. Meja redaktur rubrik Megapolitan yang saya datangi. Belum sempat duduk di kursi yang ada, sang redaktur Bang Mathias Sihombing sudah nyeletuk dengan gaya batak yang khas.
“Aman, kawan?” kata Bang Mathias tanpa melepaskan perhatiannya dari komputer yang ada di depannya. Dia sedang mengedit tulisan kiriman wartawan yang ada di lapangan.
“Bang, saya mau mundur dari Media Indonesia,” kata saya tanpa memberi pengantar obrolan.
“Apa, kau mau mundur. Ayolah ada apa ini, kawan,” balas Bang Mathias sambal mengalihkan perhatiannya ke saya sepenuhnya. “Mari kita bicarakan. Ada apa sebenarnya. Jangan cepat-cepat mengambil keputusan.”
“He…he…ngak ada apa-apa, Bang,” jawab saya. “Saya mau resign saja.” “Mau pindah kerja ke mana? Kenapa pindah? Kalau ada masalah bisa kita bicarakan. Ayolah kita bicarakan dulu” tambah Bang Mathias nyoroscos.
Singkat cerita urusan di Media Indonesia selesai. Semua perangkat kantor saya kembalikan ke ruang sekretariat. Saya pamit ke teman-teman redaksi dan non-redaksi yang saya temui. Setelah sholat magrib, saya pulang ke rumah.
“Ayah sudah sampaikan surat resign ke Media Indonesia. Dua hari ke depan, ayah mulai masuk kerja di Koran Jakarta,” ungkap saya kepada istri ketika makan malam bersama anak-anak.
Saya mulai menjadi wartawan di Media Indonesia sejak 9 Oktober 2001. Resign 8 November 2008. Sekitar tujuh tahun saya berada di lapangan menjadi reporter. Beragam suka-cita dan duka-nestapa dilewati. Terlalu panjang jika diceritakan di sini. Wallahu ‘alam bishowab.Tabik!
Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi (Massa) Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta











