Puasa Ramadan: Dari Ibadah Waktu Terbatas Menuju Integritas dan Ketakwaan Sepanjang Hayat

Prof Dr Asep Usman Ismail MA

Jakarta — Puasa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan yang dijalani umat Islam selama sebulan penuh. Lebih dari itu, puasa merupakan proses pendidikan dan pelatihan ruhani (diklat ruhani) yang dirancang untuk membentuk pribadi bertakwa dan berintegritas sepanjang hayat.

Gagasan ini mengemuka dalam kajian bertajuk “Integrasi Puasa dalam Batas Waktu dengan Puasa Abadi” yang disampaikan oleh Prof Dr Asep Usman Ismail MA, dalam Forum Pengajian Guru Besar dan Doktor Insan Cita diprakarai oleh keluarga besar Alumni Himpunan Mahasiswa Islam dan dipandu oleh Sujana Sulaiman atau akrab di sapa Kang Jana, Kamis (19/2/2026) sore menjelang buka puasa.

Dalam pemaparannya, salah satu Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini menegaskan bahwa puasa memiliki fondasi teologis yang kuat sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183 bahwasannya puasa itu diwajibkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, dengan tujuan utama membentuk ketakwaan.

“Artinya, puasa bukan ibadah eksklusif umat Nabi Muhammad SAW, melainkan benang merah yang juga diberikan kewajiban seluruh umat para nabi sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW,”kata Asep seraya mengajak kepada umat Islam semuanya untuk senantiasa di bulan Ramadan 1447 H ini bukan hanya sebatas bersih dari segi fisik melainkan juga bersih secara hati dan kesadaran bahwa segala kehidupan kita ini diawasi oleh Allah SWT.

Puasa sebagai Pendidikan Ruhani

Puasa Ramadan dipahami sebagai sarana pembentukan iman yang utuh. Iman tidak berhenti pada pengetahuan dan pengakuan lisan, tetapi harus meresap, dihayati, menjiwai, dan mengakar hingga tercermin dalam sikap serta tindakan nyata. Dalam konteks ini, puasa menjadi indikator sekaligus penguat kualitas iman seseorang.

“Puasa melatih manusia untuk mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, dan menjaga panca indra dari segala yang diharamkan Allah,”jelas Asep, yang juga pernah menjabat Ketua Bidang Kekaryaan HMI Cabang Ciputat pada tahun 1983–1984.

Lebih jauh Asep membagi tingkatan puasa ke dalam beberapa level, mulai dari puasa orang awam (menahan makan, minum, dan hubungan seksual), puasa orang khusus (menjaga panca indra), hingga puasa khusus dari yang khusus (mengendalikan sikap, niat, dan orientasi hidup).

Dari sinilah lahir konsep puasa temporer (ṣaum al-mu’aqqat) yang terintegrasi menuju puasa abadi (ṣaum al-mu’abbad).

BACA JUGA

Minuman dan Makanan yang Perlu Dibatasi Saat Puasa

Pilihan Makanan Aman dan Sehat Saat Buka Puasa

Ramadan dan Pakta Integritas

Sementara itu, Asep juga menyebut Ramadan sebagai momentum strategis untuk membangun pakta integritas dalam kehidupan pribadi dan sosial. Puasa melahirkan kesadaran spiritual yang mendorong manusia hidup lebih bersih, lebih dekat dengan Allah, dan lebih sadar akan tanggung jawab moralnya.

Menurut Asep, terdapat tiga langkah strategis menjadikan puasa sebagai modal spiritual integritas, yakni niat yang tulus, tekad yang kuat, serta motivasi internal yang konsisten. Dari proses ini, umat Islam diharapkan mampu mewujudkan delapan sikap positif: keyakinan, perencanaan yang matang, aktualisasi nilai, kesabaran dan daya tahan, konsistensi, disiplin, pengendalian diri, serta harapan yang berkelanjutan.

“Jika nilai-nilai puasa hanya berhenti di bulan Ramadan, maka esensi ibadah belum sepenuhnya tercapai. Puasa seharusnya membentuk karakter dan integritas yang terus hidup sepanjang waktu,” tegasnya.

Dari Puasa Waktu Terbatas Menuju Puasa Abadi

Konsep puasa abadi menjadi penegasan bahwa tujuan akhir Ramadan adalah transformasi kepribadian. Puasa dalam batas waktu menjadi titik awal untuk membangun kesadaran hidup yang istiqamah, melakukan perbaikan (ishlah), pencerahan (tanwir), serta pengarahan hidup menuju ridha Allah SWT.

Dengan demikian, puasa Ramadan tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, tetapi juga pada hubungan horizontal dengan sesama dan kehidupan sosial secara luas.

Integrasi antara puasa temporer dan puasa abadi inilah yang diharapkan melahirkan pribadi muslim yang bertakwa, berintegritas, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi peradaban.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *