MUHASABAH DIRI ; Kalau Ini Ramadhan Terakhirku, Sudah Siapkah Aku ?

Oleh: ADITYA CANDRA UTAMA,S.Kom.I

Aditya Candra Utama S Kom I

Menjalankan ibadah puasa suci di bulan Ramadhan 1447 H di usia kita saat ini, rasanya terasa berbeda.

Dulu, ketika masih usia 20 atau 30-an, Ramadhan identik dengan suasana : Menu buka apa, baju baru warna apa, kue lebaran berapa toples. Semuanya terasa ringan. Hidup seakan masih panjang.

Sekarang ?

Ramadhan terasa lebih sunyi, lebih serius, lebih menggetarkan.

Usia ini bukan sekadar angka, ia adalah alarm halus dari Allah SWT. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa waktu yang tersisa tidak sebanyak yang telah berlalu.

Kita mulai melihat teman sebaya sakit. Ada yang tiba-tiba berpulang. Ada yang dulu bercanda bersama, kini tinggal nama.

Dan diam-diam, hati bertanya: “Kalau giliranku, kapan?” Ramadhan datang membawa pertanyaan yang lebih dalam:

Kalau ini Ramadhan terakhirku, sudah siapkah aku? Di usia ini, fisik tak lagi sama. Puasa harus lebih hati-hati, asam lambung mulai protes. Lutut kadang berbunyi lebih dulu sebelum berdiri tarawih.

Namun justru di sanalah indahnya. Kita sadar tubuh ini tidak selamanya kuat. Dan kita dipaksa untuk lebih bersandar pada Allah. Ramadhan di usia kita bukan lagi tentang terlihat rajin.

Bukan soal update ibadah. Bukan lomba khatam tercepat. Ini tentang hubungan yang personal. Tentang hati yang ingin dibersihkan sebelum benar-benar pulang. Karena jujur saja…dosa masa muda kita tidak sedikit.

BACA JUGA

Ramadhan Bulan ‘Laundry’, Kesempatan Raih Derajat Ketaqwaan

GeberMas, Sucikan Hati, Jiwa dan Lingkungan Sambut Ramadhan 1447 H / 2026 M

Ego yang dulu tinggi, lisan yang pernah melukai, waktu yang terbuang untuk hal tak penting, shalat yang sering ditunda, orang tua yang pernah kita kecewakan.

Ramadhan datang seperti kesempatan ulang. Seakan Allah berbisik, “Masih ada waktu. Perbaiki.” Di usia ini pula, kita sadar anak-anak sedang melihat.

Cara kita menyambut Ramadhan akan mereka tiru. Jika yang mereka lihat hanya dapur dan dekorasi, itulah yang mereka anggap penting.

Namun jika mereka melihat ibunya bangun lebih awal untuk tahajud, ayahnya lebih lembut selama puasa, mereka belajar makna yang sesungguhnya.

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan pulang. Latihan menahan diri, latihan merendahkan ego,
latihan melepaskan dunia sedikit demi sedikit.

Usia membuat kita lebih jujur pada diri sendiri. Kita tahu mana yang benar-benar penting. Mana yang hanya gengsi. Kita tahu mana yang akan dibawa mati, dan mana yang hanya tinggal di lemari.

Karena kenyataannya sederhana: yang ikut ke kubur hanya amal. Bukan follower, bukan omzet, bukan pujian manusia.

Namun hanyalah ridho dan keberkahan hidup yang Allah SWT berikan kesempatan ini, mari kita pergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin.

Untuk itu, penulis mengajak dan menghimbau semua pembaca dimanapun berada, mari kita muhasabah diri sedari sejak dini!!! Mari kita fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan)!!!

Mari kita semua esensi Ramadhan ini menjadikan bulan penuh dengan tarbiyah (pendidikan), bulan penuh dengan laundry (kebersihan) dan bulan penuh maghfirah (ampunan Allah SWT).

Jangan kita sia-siakan Ramadhan tahun 1447H/2026M ini bagi kita untuk terus berbenah/evaluasi diri!!!
Wallahu’alam bis showab


Penulis ialah ASN Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *