Jakarta | Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, harga energi dunia kembali bergejolak.
Minyak mentah, gas, hingga bahan bakar minyak (BBM) mengalami fluktuasi yang signifikan.
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi negara-negara besar, tetapi juga memberikan dampak langsung pada perekonomian negara berkembang, termasuk indonesia
Dalam situasi tersebut, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang akrab disapa SBY, turut memberikan pandangannya.
Melalui akun media sosialnya, ia mengungkapkan bahwa dirinya terus memantau perkembangan pasar energi global dari singapura.
Fokus utamanya adalah pada pergerakan harga minyak, gas, dan BBM yang saat ini masih berada dalam kondisi tidak stabil.
Menurut SBY, gejolak harga energi bukanlah fenomena baru dalam perekonomian global.
Namun, dampaknya kini terasa lebih luas karena hampir semua negara merasakan tekanan yang sama.
Ia menilai bahwa meskipun situasi ini cukup serius, Indonesia tidak perlu meresponsnya dengan kepanikan berlebihan.
“Tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh lengah,” menjadi pesan utama yang ingin disampaikan SBY.
Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang menekankan keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
SBY juga menyoroti langkah-langkah yang telah diambil oleh sejumlah negara di Asia seperti Filifina dan Korea Selatan
Menurutnya, negara-negara tersebut telah mulai mengambil kebijakan strategis untuk melindungi perekonomian mereka dari dampak lonjakan harga energi.
Hal ini, kata SBY, bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam merumuskan kebijakan yang tepat.
Pengalaman masa lalu menjadi dasar penting dalam pandangan SBY.
Ia mengingat kembali masa kepemimpinannya ketika Indonesia menghadapi krisis energi pada tahun 2004-2005, 2008, dan 2013.
Pada periode tersebut, lonjakan harga minyak dunia memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Saat itu, pemerintah di bawah kepemimpinan SBY mengambil sejumlah kebijakan yang tidak populer, seperti menaikkan harga BBM, memberikan subsidi tambahan, serta menggalakkan kampanye penghematan energi.
Kebijakan tersebut memicu reaksi keras dari masyarakat dan parlemen.
Gelombang protes dan perdebatan politik menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan tersebut.
Namun, dalam jangka panjang, kebijakan itu dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi kelompok masyarakat rentan melalui program bantuan langsung tunai (BLT).
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa dalam situasi krisis, pemerintah sering kali dihadapkan pada pilihan sulit.
Keputusan yang diambil mungkin tidak populer, tetapi diperlukan untuk menjaga keberlangsungan ekonomi negara.
Silaturahmi Kebangsaan: Saat Ulama dan Negara Duduk Bersama Membahas Geopolitik Dunia
Prabowo Kumpulkan Para Mantan Presiden dan Wakil Presiden Bahas Geopolitik Global di Istana Negara
Dalam konteks saat ini, SBY menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah yang tengah disiapkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto.
Ia menilai bahwa pemerintah perlu bergerak cepat namun tetap terukur dalam merespons gejolak energi global.
Salah satu langkah yang ditekankan adalah pentingnya penghematan energi.
Menurut SBY, gerakan penghematan tidak hanya berdampak pada pengurangan konsumsi, tetapi juga membantu menjaga stabilitas anggaran negara.
Dengan konsumsi energi yang lebih efisien, tekanan terhadap APBN dapat diminimalkan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, dan perlindungan tenaga kerja.
Dalam situasi global yang tidak menentu, risiko inflasi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi ancaman yang harus diantisipasi sejak dini.
SBY menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan ekonomi tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat, terutama kelompok rentan, dapat terlindungi.
Dalam setiap kebijakan yang diambil, aspek keadilan sosial harus tetap menjadi prioritas.
Pernyataan SBY ini mendapat perhatian luas karena mencerminkan pandangan seorang pemimpin yang pernah menghadapi situasi serupa.
Perspektif tersebut memberikan konteks historis yang penting bagi masyarakat dalam memahami dinamika ekonomi saat ini.
Gejolak harga energi global memang menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari.
Namun dengan pengalaman, kebijakan yang tepat, serta koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, dampak negatifnya dapat diminimalkan.
Indonesia sebagai negara dengan ekonomi yang terus berkembang memiliki potensi untuk tetap bertahan di tengah tekanan global.
Kunci utamanya terletak pada kesiapan pemerintah dalam mengambil langkah strategis serta kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan.
Pesan SBY pada akhirnya bukan sekadar peringatan, tetapi juga ajakan untuk bersikap bijak dalam menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian.
Ketenangan, kewaspadaan, dan kebijakan yang tepat menjadi kombinasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
**












