BIRMINGHAM (INGGRIS) – Pasca perhelatan sengit dan tajam ajang kompetisi badminton Internasional super 1000 level All England tahun 2026 dijadikan cambuk api semangat membara bagi pasangan muda yang lagi naik daun seperti Raymond Indra/Nicolaus Joaquin.
Ganda putra termuda dimiliki aset terbaik Indonesia saat ini (Raymond/Joaquin) terpacu dan termotivasi untuk terus giat berlatih.
Kemudian meningkatkan konsistensi mempelajari pola-pola strategi dari masing-masing pemain top dunia ranking 1-10 yang telah dilakoninya sejak berlangsungnya ajang All England tahun 2026 di Birmingham Inggris ini.
Dikutip dari group facebook badminton lovers tanah air bahwa, Raymond Indra mengatakan ke publik bahwa dirinya tetap berupaya mempelajari semua pola-pola lawan top dunia terkhusus lawan tangguh ranking 1 dunia Kim Won Ho/Seo Seung Jae yang mengalahkan mereka di laga semifinal All England 2026.
“Pengalaman yang sangat berharga kami dapatkan di All England 2026 ini.
Dari babak pertama hingga tembus laga semifinal kami tidak menemukan lawan yang mudah, semuanya setara di level super 1000 (All England),” ujar Raymond Indra anak muda ganda putra termuda dimiliki aset Indonesia saat ini.

Begitu juga dilontarkan oleh partnernya Nicolaus Joaquin.
“Melawan peringkat satu dunia kami banyak dapat pelajaran. Kami akan mencoba meniru konsistensi mereka supaya bisa lebih baik ke depannya,” ungkap Joaquin.
Untuk menghadapi pemain tangguh ranking 1 dunia sang monster ganda putra Korea Kim Won Ho/Seo Seung Jae ini, mutlak diperlukan konsistensi diri bermental baja dan extra keras meningkatkan tempo pola penyerangan dan kecerdikan dalam menempatkan bola-bola pendek atau drop shot.
BACA JUGA
Pahlawan Badminton Nyaris Menang, Namun Lawan Lebih Agresif
China dan Indonesia Dominasi QF All England 2026, Unggulan Banyak Bertumbangan di Laga Awal
Menurut hemat penulis, tidak mesti hanya mengandalkan pola penyerangan smash-smash tajam dan energi extra.
Namun juga dibutuhkan suatu pola strategi yang matang, pola penempatan bola drop shot menyilang dan arah bola yang susah dijangkau oleh pemain kidal (tangan kiri) Seo Seung Jae Korea ini.
Memang sangat diperlukan energi extra dalam melakoni pasangan monster ganda putra Korea pemain kidal tangan kiri.
Namun juga mutlak diperlukan upaya insting yang bisa mengecoh dan membuat lawan kewalahan.
Seperti yang banyak pernah dicontohkan oleh sang legendaris peraih medali emas Olimpiade Dunia Olympic Games Beijing China tahun 2008.
Hendra Setiawan yang berpartner dengan Almarhum Markis Kido saat laga pamungkas (final) menghadapi pemain kidal asal Tiongkok (China) Chai Yun/Fu Haipeng.
Juga sang monsternya ranking dunia pemilik ganda putra dikala eranya Hendra Setiawan/Markis Kido.
“Kami harapkan, anak muda Raymond Indra/Nicolaus Joaquin mampu mengikuti pola-pola permainan dan skill terbaik dimiliki oleh seniornya Hendra Setiawan, Almarhum Markis Kido dan Mohammad Ahsan sang legendaris ganda putra terbaik Indonesia pernah banyak meraih medali emas baik Olympiade Dunia, Asian Games, Sea Games, Kejuaraan Dunia, All England dan masih banyak lainnya,” ungkap Jerry anak muda pecinta badminton lovers tanah air pada media online nasional interaksimassa.com sore ini, Minggu (8/3/2026).
Terakhir, harapan penulis dan semua pecinta badminton lovers tanah air Indonesia.
Semoga anak muda ganda putra termuda dimiliki Indonesia saat ini terkhusus pada diri Raymond Indra dengan pasangannya Nicolaus Joaquin mampu terus meningkatkan jam terbang pengalamannya.
Kemudian mampu meningkatkan jam terbang berlatihnya untuk lebih extra lagi dan terus menerus belajar mempelajari pola-pola permainan lawan top dunia ranking 1-10 dunia.
Bravo Badminton Indonesia!
Bravo atlit-atlit badminton Indonesia!
Tidak ada kata menyerah selagi nafas masih dikandung badan.**













Mantap Super Anak Muda Ganda Putra NKRI Raymond/Joaquin teruslah mengasah skill & mental diri💪💪💪🇮🇩😎