Sejarah memiliki hukum universal. Namun membuktikan kebenarannya haruslah eksperimental. Nafas kita sedetik yang lalu telah menjadi sejarah. Di lintasan masa itu, perubahan selalu terjadi.
Demikian juga yang dialami oleh organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Pada 5 Februari 2026 nanti, HMI telah melintasi lini masa selama 79 tahun, sejak 5 Februari 1947 lalu. Dinamika menanjak dan menurun terus terjadi. Tikai kebenaran dan kebatilan bergumul dalam tubuh organisasi.
Heroisme-nya telah tercatat pada stase awal kelahiran hingga fase perjuangan untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena usia kelahiran HMI dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, seperti sepasang “kakak dan adik”. Menghadapi situasi dan ancaman yang sama.
*Status dan Peran selama 79 Tahun*
Pada usianya yang ke 79 tahun ini, saya coba mengurai dendrit kesadaran organisasi. Angka 79 dalam teori bilangan, ia adalah gabungan dua bilangan cacah yaitu angka 7 dan 9. Meskipun pada angka 7 bernilai puluhan dan angka 9 bernilai satuan.
Jika ruh suatu organisasi itu ada pada Anggaran Dasar. Maka pada Anggaran Dasar HMI Pasal 7 dan Pasal 9 menjadi sebagian fokus yang ingin saya bincangkan.
Pada Pasal 7 AD HMI tentang status yang berbunyi ” HMI adalah organisasi mahasiswa”. Sedangkan pada Pasal 9 AD HMI tentang peran yang berbunyi
” HMI berperan sebagai organisasi perjuangan”
Dari kedua pasal ini sudah jelas dan tegas bahwa HMI masih berstatus “mahasiswa” dan berperan sebagai “organisasi perjuangan”.
Sayangnya, bila kita membuka lembar-lembar sejarah yang baru-baru ini, apakah kedua pasal itu masih menjadi ruh yang menghidupkan organisasi?
BADKO HMI Sumbagsel Siap Bersinergi dengan Polda
Al-Qur’an Pedoman Hidup dan Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
Mahasiswa sebagai sumber daya (agen) yang perannya untuk perjuangan (perubahan yg lebih baik). Rasanya perlu dicacah ulang. Optik kita selalu menampilkan dinamika organisasi yang berupaya mengingkari ruh Pasal 7 dan Pasal 9 AD HMI tersebut.
HMI yang berstatus mahasiswa justru kehilangan habitatnya di kampus-kampus. Identitas mahasiswa lebih sering diletakkan di atas meja-meja cafe atau di ruang hedonisme, ketimbang di lapangan keilmuan dan karya akademis.
HMI tidak memiliki sudut pandang dan bacaan yang komprehenship. Modernisasi sarana pengetahuan dari buku autentik ke buku digital nyaris kosong dari memori internal teknologi yang ada digenggaman para kadernya.
Mahasiswa tidak lagi “cogito ergo sum” ‘aku berfikir maka Aku ada’. Kini beralih menjadi ” photos ergo sum” “dengan berfoto maka Aku ada”.
Mahasiswa sebagai entitas manusia yang diciptaan Tuhan dalam bentuk yang sempurna. Anugerah kecerdasan illahiah tak lagi diasah. Agaknya, menghambakan kehanifan-nya kepada kecerdasan buatan. HMI hingga detik ini belum melahirkan fajar teori ilmiah terbaru untuk menghadapi era “Homo Deus”.
Selanjutnya, peran sebagai organisasi perjuangan kian meredup dalam sikap aktivisme-nya. Perjuangan individualis dan kelompok lebih sering mewarta. Sementara kehadirannya di tengah-tengah tangisan kaum mustadafin dan bencana hukum serta alam semesta semakin hambar.
Semisal, dalam peran perjuangannya untuk kemerdekaan Palestina dan perlawanan atas genosida yang dilakukan Zionis Israel dan kroni, sepertinya absen dalam catatan sejarah terkini. Berani menjadi martir hanya pada bab “merebut kuasa” dan sumber-sumber kapital.
Ego kelompok yang menjangkiti peran perjuangan, telah merobek batas-batas kesucian perjuangan. Meludahi batas-batas kehormatan. Yang penting “menang”. Bukan yang “benar”. Tidak juga berdasarkan pada Sunah, apa lagi Al Quran. Bahkan dengus nafas bukanlah keislaman, tapi kepentingan.
*Bahagia HMI*
Pada lapisan dendrit kesadaran yang lebih dalam, saya akan coba mengurai makna bahagia. Dengan keterbatasan diri, saya meminjam pandangan tentang makna kebahagiaan menurut para arifillah.
Kebahagiaan menurut Sayyidina Al Farabi, berbeda dengan kenikmatan. Karena kenikmatan bersifat temporer, tidak abadi, dan mudah berubah. Jika ada yang menganggap pencapaian materi, kedudukan sosial, dan kekuasaan adalah kebahagiaan, itu bukan. Tetapi kenikmatan.
Syayidina Al Farabi mengajarkan kebahagiaan adalah hasil dari pengembangan akal, jiwa dan penyempurnaan potensi diri dalam mengenal Allah SWT.
Dalam kitabnya _Tansil al-sa’adah,_ bahwa kenikmatan hanyalah perantara menuju kebahagiaan. Kebahagiaan manusia bukan pada dimensi fisik tapi dimensi spiritual. Kesempurnaan spiritual adalah kebahagiaan itu.
Kebahagiaan sejati (bertemu dan akrab dengan Tuhan) hanya dapat diraih manakala manusia meninggalkan kebahagiaan semu, yaitu kenikmatan duniawi. Inilah yang dimaksud Imam Khomaini, bahwa kebahagiaan duniawi atau pencapaian kenikmatan yang temporer, serta hanya aspek fisik dan materi adalah NAJIS.
Kita sering menganggap kehidupan yang kita jalani, dengan sudah terpenuhi kebutuhan ekonomi, memiliki jabatan, harta yang banyak, keluarga yang lengkap, bisa pergi umroh dan haji berkali- kali.
Dianggap sudah mencapai kebahagiaan sejati. Namun dalam semua itu, adalah kebahagiaan yang diraih karena selain Allah SWT.
Ini bukan kebahagiaan menurut Al Farabi, bahkan adalah Najis yang terus ditumpuk menurut Imam Khomaini.
Yang dianggap Kebahagiaan dan kenikmatan justru adalah penghalang bertemu dengan Allah SWT. Kebahagiaan sejati adalah manusia yang mampu membersihkan kotoran jiwa dan fisik serta akrab dan berjumpa dengan Allah.
Mari kita memaknai lagi “Bahagia HMI” pada baris terakhir Hymne HMI. Adalah bahagia yang telah dimaknai oleh Syayidina Al-Farabi. Yaitu berjuang dalam totalitas perjalanan bertemu Allah SWT.
Dies Natalis ke 79 HMI. Selamat Berjuang,
Bahagiakan HMI.
Bumi Sari, 2 Februari 2026
Penulis adalah Sekretaris SC dan Presidium Sidang Pada Kongres HMI ke-27 di Depok tahun 2010











