OKU Selatan | Bencana alam berupa banjir bandang yang disertai tanah longsor melanda wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan tepatnya di Desa Simpang Sender Utara, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, pada Sabtu malam (28/3/2026). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB ini menimbulkan kerusakan cukup signifikan pada permukiman warga, infrastruktur, hingga sektor pertanian.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut sejak sore hari menjadi pemicu utama bencana. Debit air sungai meningkat drastis hingga meluap dan menerjang sejumlah dusun, yakni Dusun I, IV, VI, dan VIII. Dalam waktu singkat, air bercampur material lumpur dan longsoran tanah menghantam rumah-rumah warga serta fasilitas umum di sekitarnya.
Berdasarkan data sementara hingga Minggu malam (29/3/2026) pukul 22.49 WIB, sebanyak tujuh unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Dampak terparah terjadi di Dusun VI, di mana tiga unit rumah tertimbun material longsor. Sementara itu, dua rumah lainnya rusak berat di Dusun VIII, serta masing-masing satu unit rumah mengalami kerusakan di Dusun I dan wilayah lainnya.
Selain kerusakan fisik, bencana ini juga berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Tercatat sebanyak 45 kepala keluarga atau sekitar 130 jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, dua kepala keluarga dengan total enam jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman guna menghindari potensi bencana susulan.
Meski kerusakan cukup besar, peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, satu orang warga dilaporkan mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis dari petugas kesehatan setempat. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana untuk memastikan keselamatan warga ke depan.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan pada sektor permukiman, tetapi juga merusak infrastruktur vital yang menunjang aktivitas masyarakat. Sebuah jembatan beton di Dusun IV dilaporkan mengalami kerusakan, sementara satu gorong-gorong di Dusun VI juga terdampak akibat derasnya arus air dan material longsor. Kerusakan ini berpotensi menghambat mobilitas warga serta distribusi logistik ke wilayah terdampak.
Di sektor ekonomi, khususnya pertanian, kerugian juga cukup besar. Sekitar 100 hektare lahan sawah terdampak banjir, terutama di wilayah Dusun I dan IV. Selain itu, tiga petak kolam ikan milik warga turut mengalami kerusakan, yang tentu berdampak pada sumber penghasilan masyarakat setempat.
Pasca kejadian, kondisi di lokasi bencana mulai berangsur membaik. Air yang sebelumnya merendam permukiman telah surut, sehingga warga bersama tim gabungan dapat mulai melakukan pembersihan material lumpur dan sisa longsoran yang menutupi rumah serta akses jalan.
Penanganan darurat dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta instansi terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan pemerintah setempat. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci dalam mempercepat proses penanganan serta pemulihan pascabencana.
Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan lanjutan guna memastikan jumlah kerusakan dan kebutuhan warga terdampak secara lebih rinci. Bantuan logistik, layanan kesehatan, serta dukungan psikososial juga mulai disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain fokus pada penanganan darurat, pemerintah juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Mengingat kondisi cuaca di wilayah Sumatera Selatan masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, risiko banjir dan longsor masih perlu diantisipasi.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan seperti bantaran sungai dan lereng perbukitan. Jika terjadi tanda-tanda peningkatan debit air atau pergerakan tanah, warga diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan melaporkan kondisi tersebut kepada aparat setempat.
Bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Upaya mitigasi seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, serta edukasi kepada masyarakat terkait penanganan bencana perlu terus ditingkatkan guna meminimalisir risiko di masa mendatang.
Dengan kondisi yang mulai kondusif, proses pemulihan diharapkan dapat berjalan cepat sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Pemerintah daerah bersama seluruh pihak terkait berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama. **












