BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Sumsel Siaga Karhutla

Palembang | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah Sumatera Selatan akan datang lebih awal dibandingkan kondisi normal. Prediksi ini menjadi perhatian serius, mengingat potensi dampaknya terhadap lingkungan, pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa sebagian wilayah di Sumatera Selatan diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada akhir Mei 2026.

“Awal paling dini terjadi pada akhir Mei, dengan sekitar 29 persen wilayah mulai memasuki musim kemarau,” ujarnya.

Sementara itu, mayoritas wilayah Sumatera Selatan atau sekitar 64 persen diprediksi baru akan memasuki musim kemarau pada awal hingga pertengahan Juni 2026. Meski waktu kedatangan musim kemarau tidak terjadi secara seragam, namun secara umum pola musim menunjukkan percepatan dibandingkan kondisi klimatologis normal.

“Walaupun tidak seragam, namun dominan terjadi pada Juni,” tambahnya.

Percepatan Musim dan Curah Hujan Menurun

Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologi periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami percepatan awal musim kemarau hingga dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat. Hal ini menjadi indikator bahwa perubahan pola cuaca semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak hanya datang lebih awal, sifat musim kemarau tahun ini juga diprediksi cenderung lebih kering dari biasanya. BMKG menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah akan mengalami kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan.

“Kondisi ini menunjukkan kecenderungan musim kemarau yang lebih kering, sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah,” jelas Wandayantolis.

Situasi ini tentu berdampak luas, terutama bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Selain itu, potensi krisis air bersih di beberapa daerah juga perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah daerah.

Puncak Kemarau dan Durasi Lebih Panjang

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah, dan pada Agustus di mayoritas wilayah Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa periode kering akan berlangsung cukup panjang dan merata.

Durasi musim kemarau sendiri diperkirakan berkisar antara 7 hingga 15 dasarian atau sekitar dua hingga lima bulan. Bahkan, wilayah tengah Sumatera Selatan berpotensi mengalami durasi kemarau paling panjang, yakni antara 13 hingga 15 dasarian atau sekitar empat hingga lima bulan.

Durasi tersebut tergolong cukup panjang untuk wilayah Sumatera, yang umumnya memiliki pola hujan lebih stabil dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

“Wilayah tengah Sumatera Selatan berpotensi mengalami durasi kemarau terpanjang, dan ini perlu menjadi perhatian khusus,” tambahnya.

Ancaman Karhutla Mulai Diantisipasi

Seiring dengan prediksi musim kemarau yang lebih cepat dan kering, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian utama. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa musim kemarau panjang seringkali memicu meningkatnya titik api di berbagai wilayah.

Menanggapi hal tersebut, Polda Sumatera Selatan langsung mengambil langkah antisipatif. Kapolda Sumsel, Sandi Nugroho, telah menginstruksikan seluruh jajarannya untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.

Arahan tersebut disampaikan dalam apel hari pertama kerja usai cuti bersama Idulfitri 1447 Hijriah. Dalam arahannya, Kapolda menegaskan bahwa setelah sukses mengamankan arus mudik dan balik dalam Operasi Ketupat Musi 2026, tantangan berikutnya adalah menghadapi musim kemarau dan risiko kebakaran lahan.

“Kita harus siap menghadapi ancaman karhutla. Ini membutuhkan kerja sama semua pihak, tidak hanya kepolisian, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat,” tegasnya.

Sinergi Jadi Kunci Pencegahan

Kapolda juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam upaya pencegahan karhutla. Menurutnya, langkah preventif harus dilakukan sejak dini, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat hingga patroli rutin di daerah rawan kebakaran.

Selain itu, peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam menjaga lingkungan, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar yang dapat memicu kebakaran besar.

Dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat akibat kabut asap, serta mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, dan transportasi.

Imbauan untuk Masyarakat

Dengan kondisi musim kemarau yang diprediksi lebih cepat dan lebih kering, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan infrastruktur pendukung, seperti ketersediaan air bersih, sarana pemadam kebakaran, serta sistem peringatan dini.

BMKG sendiri akan terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat sebagai bentuk mitigasi risiko bencana.

Tantangan Nyata di Depan Mata

Prediksi musim kemarau 2026 ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim membawa dampak nyata yang harus dihadapi bersama. Datangnya musim kemarau lebih awal dengan durasi lebih panjang bukan hanya soal perubahan cuaca, tetapi juga menyangkut ketahanan lingkungan dan kehidupan masyarakat secara luas.

Dengan kesiapsiagaan yang matang, sinergi antarinstansi, serta kesadaran masyarakat yang tinggi, diharapkan dampak negatif musim kemarau, terutama ancaman karhutla, dapat diminimalisir.

Sumatera Selatan kini bersiap menghadapi tantangan tersebut, dengan harapan musim kemarau 2026 dapat dilalui tanpa bencana besar yang merugikan banyak pihak. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *