Cara bersedekah Menjadi Lebih Istimewa di bulan Ramadan ; Simak Ini Penjelasannya !

foto ilustrasi

Sahabat pembaca Interaksi Massa yang berbahagia. Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara subuh terasa lebih hening, azan Magrib terdengar lebih dinanti, dan meja sederhana saat berbuka justru terasa begitu bermakna. Sejalan dengan itu, bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 H umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Mari simak cara bersedekah menjadi lebih istimewa di bulan suci Ramadan.

Di bulan inilah, lapar dan haus tidak lagi sekadar rasa, tetapi pelajaran. Haus bukan lagi keluhan, melainkan pengingat. Dan di antara semua ibadah yang menyertainya, sedekah menemukan momentumnya yang paling mulia.

Tidak mengherankan jika para ulama sejak dahulu menempatkan sedekah di bulan Ramadan sebagai amal yang memiliki keistimewaan tersendiri. Bukan semata karena nilainya, tetapi karena konteks waktunya, kondisi pelakunya, dan dampak sosial yang ditimbulkannya. Ramadan adalah bulan ketika hati dilunakkan, ego diredam, dan empati tumbuh lebih cepat dari hari-hari lainnya. Semua itu terjadi atas izin dan ridho dari Allah SWT.

Kemuliaan Waktu yang Melipatgandakan Amal

Ramadan adalah bulan yang dimuliakan Allah. Setiap detiknya bernilai, setiap amalnya dilipatgandakan. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan di bulan Ramadan.

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

Artinya : Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan (HR At Tarmidzi)

Hadist ini memiliki makna spiritual yang sangat besar dan pahala yang berlipat ganda. Berfungsi sebagai dorongan kepada umat Islam untuk senantiasa meningkatkan amal sedekah di bulan suci Ramadan. Karena ini bukan sekadar dorongan untuk memberi, tetapi penegasan bahwa bersedekah di bulan suci Ramadan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas amal.

Di bulan ini, seseorang bukan hanya beramal dengan harta, tetapi juga dengan rasa lapar yang ia tahan, dengan keletihan yang ia sembunyikan, dan dengan kesabaran yang ia rawat. Maka ketika sedekah dilakukan di tengah kondisi itu, nilainya menjadi jauh lebih dalam—ia lahir dari pengendalian diri dan kesadaran spiritual yang tinggi.

Bahkan lebih jauh Allah SWT juga mengajarkan kepada hambaNya melalui firmanNya dalam Surat Al Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.

Sedekah yang Menguatkan Ibadah Orang Lain

Ada keindahan tersendiri ketika seseorang membantu orang lain beribadah. Memberi makan orang yang berpuasa, misalnya, bukan hanya soal berbagi nasi dan air, tetapi tentang menopang ketaatan orang lain.

Dalam hadist Rasulullah SAW melalui Zaid bin Khalid, Nabi Muhammad SAW menyampaikan ;

مَنْ فَطَّر صائمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِه غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائم شَيْئًا

Artinya : Barang siapa yang memberi makan orang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun. (HR Ahmad, At Tarmidzi)

Ramadan menjadikan sedekah bukan hanya hubungan vertikal antara hamba dan Allah, tetapi juga hubungan horizontal yang saling menguatkan. Orang yang memberi dan yang menerima sama-sama sedang meniti jalan ketaatan, saling mengantar menuju ridha-Nya.

BACA JUGA

Gemar Bersedekah, Maka Harta Pun Menemukan Jalannya

Lailatul Qadar ; Ini Pengertian, Tanda, dan Cara Amalan Meraihnya

Bulan Ketika Allah Melimpahkan Kedermawanan-Nya

Ramadan adalah bulan di mana Allah SWT meluaskan rahmat, membuka pintu ampunan, dan membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Dalam suasana kemurahan Allah SWT inilah, umat Islam diajak meneladani sifat kasih sayang tersebut.

Rasulullah SAW menyampaikan kepada umatnya “Sesungguhnya Allah SWT akan melimpahkan kasih sayangnya kepada hamba-Nya yang saling mengasihi.” (HR. Al-Bukhari)

Maka, siapa pun yang berderma kepada makhluk Allah, sesungguhnya sedang membuka pintu agar Allah SWT berderma kepadanya dengan cara yang jauh lebih besar. Sebab balasan Allah selalu sejenis dengan amal yang dilakukan.

Terlebih lagi juga Allah SWT mengajarkan kepada hambaNya dalam Alquran Surat As Saba’ ayat 39 ; ”Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.

Dari ayat tersebut, sangat jelas bahwa tidak akan miskin bagi manusia itu bila gemar bersedekah, dan insyaallah akan diberikan kelapangan rezeki dalam bentuk lain yang dijanjikan Allah SWT melalui ayat Alquran tersebut.

Puasa dan Sedekah: Dua Jalan Menuju Surga

Puasa dan sedekah adalah dua amalan besar yang saling melengkapi. Dalam berbagai hadis digambarkan bahwa orang yang menjaga lisannya, memberi makan, berpuasa dengan konsisten, dan menegakkan salat malam akan mendapatkan kedudukan istimewa di surga. Ramadan adalah satu-satunya bulan di mana seluruh amal itu dapat terkumpul secara bersamaan dalam diri seorang mukmin.

Tameng dari Dosa dan Api Neraka

Puasa kerap disebut sebagai perisai untuk melindungi pelakunya dari dosa dan api neraka. Sedekah pun demikian. Ia menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Ketika keduanya digabungkan, terlebih lagi dengan salat malam, kekuatannya menjadi berlipat.

Ramadan memberi ruang bagi seorang mukmin untuk membersihkan diri secara menyeluruh. Puasa menahan hawa nafsu, sedekah menundukkan ego, dan qiyamul lail menguatkan hubungan dengan Allah SWT. Inilah kombinasi yang jarang ditemukan di bulan selain Ramadan.

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW :

وَالصَّدَقَةَ تَطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النار وصلاة الرجل في جوف الليل

Artinya : Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Dan shalat di tengah malam. (HR At Tarmidzi)

Sepanjang sepengetahuan kami, hadist ini merupakan bagian dari riwayat panjang tatkala nabi Muhammad SAW membimbing Mu’adz bin Jabal ke arah kebaikan. Bahwasannya puasa itu adalah perisai maka sedekah berfungsi sebagai pembersih yang menghapuskan dosa. Dan shalat malam (tarawih, witir, tahajud) adalah hubungan spiritual yang mandalam.

Menutup Kekurangan Puasa dengan Sedekah

Tidak ada puasa yang benar-benar sempurna. Selalu ada celah, lalai, atau kekurangan yang luput disadari. Karena itulah, sedekah menjadi penutup dan penyempurna. Bahkan di akhir Ramadan, zakat fitrah diwajibkan sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata tercela yang mungkin terjadi selama bulan suci Ramadan. Maka, berkesempatan di bulan suci Ramadan 1447 H, penulis tak berlebihan bila mengajak semua umat Islam untuk menutup kekurangan puasa yang kita lakukan dengan memperbanyak sedekah.

Pada akhirnya, sedekah di bulan Ramadan bukan sekadar anjuran, melainkan cermin dari keberhasilan puasa itu sendiri. Sebab puasa yang sejati bukan hanya sedekar menahan haus dan lapar, tetapi melahirkan kasih. Dan dari kasih itulah, sedekah menemukan makna terdalamnya. Karena sedekah hadir sebagai rahmat Allah SWT untuk menambal dan melengkapi kekurangan, serta menyempurnakan ibadah yang telah dijalani.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *