Ramadan 1447 H kini sudah memasuki malam 10 kedua Ramadan. Dalam Islam dikenal dalah istilah tahap fase Maghfirah dari Allah SWT.
Hal ini penulis dapatkan dari pengetahuan berbagai sumber bahwasannya para ulama membagi Ramadan ke dalam tiga fase. Pada 10 malam/ hari pertama sebagai rahmat, 10 hari kedua sebagai ampunan (maghfirah), dan 10 hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka.
Rasulullah SAW bersabda :
رمضان أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق منا لنَّارِ
Artinya : Ramadan itu awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka (HR. Al-Baihaqi)
Meski sebagian ulama berbeda pendapat tentang derajat hadist ini. Yakni sedikit lebih lemah. Namun maknanya diperkuat oleh banyak dalil lain yang menegaskan bahwa luasnya ampunan Allah SWT di bulan Ramadan, khususnya bagi orang yang berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan iman.
Salah satunya adalah hadist Rasulullah SAW sebagai berikut ;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya : Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sehingga hadist ini menunjukkan bahwa ampunan Allah SWT bukan hanya diberikan di satu malam tertentu saja. Atau dalam konteks pada fase 10 malam kedua Ramadan saja, melainkan terbentang sepanjang bulan Ramadan.
Oleh karena 10 Ramadan pertama sudah kita lewati semua proses pelaksanaan ibadah puasa dan ibadah malamnya. Sehingga saat ini tengah berjalan malam pada 10 hari kedua Ramadan.
Maka tidak salah kita sebagai umat Islam untuk memproses ulang kembali permohonan ampunan kita kepada Allah SWT sebelum memasuki fase pamungkas Ramadan yakni 10 malam terakhir.
Perlu penulis mengulas kembali bahwa kata maghfirah bermakna ampunan sekaligus penutupan dosa. Artinya, Allah SWT bukan hanya menghapus dosa hamba-hambaNya.
Namun juga menutupi aib dan kesalahan yang pernah dilakukan. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 82.
وَإِنِّي لَغَفَّارُ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
Artinya ; Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.
Dari ayat diatas menegaskan bahwa ampunan Allah SWT itu terbuka luas. Terutama difokuskan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam taubat dan berusaha memperbaiki diri.
Berkesempatan di bulan suci Ramadan 1447 H ini, khususnya di malam-malam 10 hari kedua, menjadi waktu paling tepat untuk meraih ampunan tersebut.
Berikut ada beberapa tips dari penulis kepada umat muslim semuanya, terutama bagi penulis pribadi untuk mengingatkan kepada diri sendiri. Agar tidak kehilangan momentum ampunan di bulan suci Ramadan 1447 H ini. Ada beberapa cara amalan utama yang dianjurkan untuk memperoleh ampunan dari Allah SWT :
BACA JUGA
Cara bersedekah Menjadi Lebih Istimewa di bulan Ramadan ; Simak Ini Penjelasannya !
Ketika Puasa Diremehkan: Azab Berat di Balik Berbuka Sengaja di Bulan Ramadan
1. Memperbanyak Istighfar dengan Hati
Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Nuh ayat 10 “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun”
Permohonan ampunan tersebut salah satunya senantiasa mengucapkan lafaz Astaghfirullahaladzim.
Sebaiknya dilakukan dengan kesadaran penuh, terutama di malam hari dan menjelang sahur, sebagaimana kebiasaan orang-orang saleh.
Terlebih di bulan suci Ramadan kerap kita berdoa Allahumma innaka afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” adalah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon ampunan.
Doa ini bermakna. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf/Pengampun, Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku.
2. Taubat Nasuha
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertaubat dari segala perbuatan maksiat yang pernah dilakukan. Baik yang disengaja maupun tidak disengaja dengan cara yang sungguh-sungguh.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat At Tahrim ayat 8. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
Taubat nasuha mencakup penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
3. Menghidupkan Salat Malam
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim) Tidak perlu panjang, yang terpenting adalah kekhusyukan dan keikhlasan.
4. Memperbaiki Hubungan Sesama
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadistnya : “Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa orang yang bermusuhan hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim)
Karena itu, malam 10 kedua adalah waktu terbaik untuk saling memaafkan. Maka saat ini kita telah memasuki malam 10 kedua Ramadan adalah fase paling menentukan dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Ia menjadi jembatan antara rahmat dan pembebasan dari api neraka.
Siapa yang bersungguh-sungguh membersihkan diri di fase maghfirah, insyaAllah akan memasuki 10 malam terakhir dengan hati yang bersih dan ibadah yang lebih bermakna.
Ramadan bukan sekadar ibadah musiman, tetapi kesempatan transformasi hidup dan malam-malam ampuran inilah fondasinya. Semoga Allah SWT memberikan maghfiroh kepada kita semua. Aamiin ya robbal alamiin. Wallahua’lam bis showab**
Penulis ialah ASN Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu













Masya Allah Barakallah Pak Ustadz Muda Bang Aditya,S.Kom.I ini 🙏🤲🤲🤲🥰🙏
Masya Allah Barakallah Ustadz Muda Bang Aditya,S.Kom.I ini 🙏🤲🤲🤲🥰🙏