Palembang – Di mata Firdaus Hasbullah, ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Lebih dari itu, puasa mengandung nilai filosofis yang harus dihayati oleh setiap insan yang menjalankannya.
Hal tersebut disampaikan Firdaus saat menghadiri kegiatan buka puasa bersama pengurus DPW Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan di Hotel Harper Palembang, Kamis (13/4).
Menurut Firdaus, di balik perintah menjalankan puasa terdapat pesan kuat tentang kebersamaan, kesetaraan, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kebenaran.
“Ketika azan magrib berkumandang, kita berbuka bersama. Saat sahur tiba, kita bangun bersama. Ketika lapar dan dahaga terasa, kita belajar merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kekurangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di situlah makna Ramadan sebenarnya bekerja.
Ramadan bukan hanya ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan empati, solidaritas, dan persaudaraan antarsesama.
“Di situlah sebenarnya filosofi Ramadan bekerja. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menumbuhkan rasa empati dan rasa persaudaraan,” terang Firdaus Hasbullah saat membuka acara buka puasa bersama pengurus DPW PGK Sumatera Selatan.
BACA JUGA
Milad ke-79 HMI, Firdaus Hasbullah: Jangan Besar Usia Tapi Miskin Gagasan
Acara tersebut turut dihadiri Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi, Wakil Bupati Lahat Widya Ningsih SH MH, perwakilan Forkopimda Sumatera Selatan, aktivis mahasiswa, LSM, serta berbagai elemen kepemudaan Sumsel.
Dalam kesempatan itu, panitia juga mengundang ratusan anak yatim piatu untuk berbuka puasa bersama.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bijak menyikapi dinamika ekonomi global yang saat ini dipengaruhi situasi geopolitik dunia yang tidak menentu.
Menurutnya, kondisi tersebut harus dijawab dengan memperkuat konsolidasi nasional dan semangat persatuan.
Bursah menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kemandirian bangsa dengan menjalankan peran sesuai profesi masing-masing.
“Para pemuda harus bersatu, menjalankan peran sesuai profesi dan membangun kemandirian nasional. Sehingga apa pun yang terjadi di dunia luar, kita sebagai bangsa mampu berdiri tanpa bergantung pada pihak lain,” kata Bursah yang juga menjabat Bupati Lahat.
Ia juga mengingatkan bahwa persatuan tidak boleh dimaknai sempit hanya dalam satu kelompok saja, melainkan harus diperluas dengan membangun komunikasi dan jaringan lintas elemen bangsa.
“Seluruh elemen masyarakat harus bersatu menggalang konsolidasi dan memperkuat persatuan nasional. Dengan semangat persatuan, setiap kesulitan akan lebih mudah kita hadapi,” ujarnya.
“Bersatu itu artinya menumbuhkan semangat kebersamaan dengan berbagai elemen bangsa lainnya, agar generasi muda saling memahami dan saling menguatkan,” tutupnya.**












