Hakikat Tradisi Makan Bersama Anak Pondok Pesantren

MAKAN BERSAMA : Santri Ponpes Abu Bakar Ash Shiddiq makan bersama di samping aula ponpes, Kamis (5/2/2026)

Tradisi makan bersama menyambut Ramadhan pada dasarnya adalah ritual sosial-keagamaan yang mengandung tiga lapisan makna.

Yang pertama Spiritual. Yakni sebagai bentuk syukur dan penyucian social sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kemudian lapisan makna kedua yakni sosial sebagai bentuk upaya mempererat silaturahmi, rekonsiliasi, dan solidaritas. Dan yang ketiga yakni kultural – sebagai bentuk ekspresi identitas lokal yang diwariskan turun-temurun.

Intinya, makan bersama ini adalah transisi simbolik dari waktu biasa menuju waktu sakral (Ramadhan).

Di sejumlah daerah negara Indonesia memiliki beragam nama tradisi makan bersama yang berbeda-beda. Hal tersebut mencerminkan kekayaan budaya Nusantara. Berikut tradisi makan bersama berbagai daerah di Indonesia menyambut bulan suci Ramadhan.

Wilayah Nama Tradisi Ciri Khas
Jawa Megengan / Ruwahan Doa, sedekah, dan makan bersama sebelum Ramadhan
Sunda Munggahan Berkumpul keluarga, ziarah, dan makan bersama
Betawi Nyorog Mengantar makanan ke orang tua/tokoh agama
Madura Pèttok Bulan Makan bersama di masjid/kampung
Minangkabau Malam Bainai versi Ramadhan / Makan Bajamba Makan bersama dalam dulang
Banjar (Kalsel) Balimau / Ba’arakan Ritual pembersihan diri + makan bersama
Aceh Meugang Memasak daging besar-besaran dan makan bersama
Makassar Mappasoro Silaturahmi dan jamuan makan
Lombok Nyaleg Berkumpul keluarga + ziarah

 

Kendatipun nama namanya berbeda, esensinya sama yakni sebagai bentuk kebersamaan, berbagi, dan kesiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan.

Sama halnya yang dilakukan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Abu Bakar Ash Shiddiq di Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatera Selatan. Diprakarsai oleh Muslimat Nahdlatul Ulama dan di support oleh Kementerian Agama Kabupaten Empat Lawang dan tentunya para santri dan kyai yang berada di Ponpes tersebut.

Selain melaksanakan sholat tasbih dan tausiyah dari pimpinan ponpes tersebut. Mereka menyambut bulan suci Ramadhan dengan cara makan bersama anak santri.

“Alhamdulillah ini bentuk kepedulian social bersama, dan sebagai bentuk penyucian diri menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah,”ungkap ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Empat Lawang Titin Sumarni, Kamis (5/2/2026).

Strategi Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H

Cara Mengetahui Muslim Yang Beruntung

Cara Mengetahui Musiim Yang Merugi

Titin menerangkan bahwa tradisi makan bersama bukan sekadar kebiasaan, tetapi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah di antara santri. “Ramadhan itu bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih sabar, disiplin, dan kepedulian kepada sesama. Makan bersama ini mengajarkan para santri arti kebersamaan,”pesan beliau kepada para santri Ponpes Abu Bakar Ash Shiddiq.

Usai sholat tasbih, sambutan dari DWP Kemang Empat Lawang, pimpinan Ponpes Abu Bakar Ash Shiddiq, serta Kepala KUA Tebing Tinggi,  juga dilanjutkan dengan doa.

Kemudian para santri duduk melingkar memanjang di aula dan halaman pondok. Mereka makan bersama beralaskan daun pisang. Yang memanjang hingga puluhan meter. Suasana tampak akrab saling berbagi lauk, saling menunggu, dan saling mengingatkan adab makan.

Pendidikan Karakter di Balik Tradisi
Kegiatan ini memiliki nilai pendidikan karakter yang kuat. Tak ayal, anak-anak belajar berbagi, tidak serakah, menghormati yang lebih tua, dan menghargai hasil kerja bersama. Ini pendidikan yang tidak mudah didapatkan di ruang kelas.

Tradisi ini juga menjadi momen pelepas rindu bagi santri yang sudah lama tinggal di pondok. Mereka teringat suasana makan bersama di rumah sebelum masuk pesantren.

Bukan Pesta, Tapi Latihan Kesederhanaan
Hidangan di pondok pesantren dibuat lebih sederhana. Artinya berbeda dengan acara makan di luar yang cenderung mewah. Prinsipnya bukan kemewahan, melainkan kebersamaan dan keberkahan. Mereka diajarkan bahwa yang penting bukan banyaknya makanan, tapi keberkahan dan kebersamaan.

Tradisi yang Tetap Terjaga di Era Modern
Meski zaman berubah dan banyak pesantren mulai memanfaatkan teknologi, tradisi makan bersama menyambut Ramadhan tetap dipertahankan. Menurut pihak pesantren, kegiatan ini menjadi identitas budaya pesantren yang tidak boleh hilang. Acara ditutup dengan saling berjabat tangan dan permohonan maaf antar santri, menandai kesiapan mereka menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *