Hari ini Bertepatan Nisfu Syaban 1447 Hijriah

Oleh : Hendra Gunawan

foto ilustrasi

Sesuai dengan bersumber Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, bahwa kalender Hijriah Indonesia tahun 2026 1 Sya’ban 1447 H jatuh pada hari Selasa 20 Januari 2026.

Artinya bahwa sore setelah Maghrib pada Senin 19 Januari 2026 sudah memasuki malam awal Sya’ban 1447 H.

Kemudian malam pertengahan bulan Sya’ban. Atau yang sering kita sebut dengan istilah malam Nisfu Syaban jatuh pada Selasa 3 Februari 2026. Artinya bahwa sore setelah maghrib pada Senin 2 Februari 2026 itu sudah memasuki Nisfu Sya’ban.

Sehingga sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat Al Ashr ayat 1- 3

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢  اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Dan saling nasehat menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran”.

Sehingga tidak salah bila penulis mengulas kembali keistimewaan bulan Syaban. Karena kini memasuki Nisfu Sya’ban. Jangan sampai terabaikan dan tak dimanfaatkan secara maksimal dalam perjalanannya.

Dan pada akhirnya dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H kondisi keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT benar-benar dalam keadaan sehat wal afiat serta mampu melaksanakan amal ibadah yang maksimal Ramadhan 1447 H.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya. Ada beberapa hal keistimewaan diantaranya amalan manusia diangkat ke Allah SWT. Nah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW di bulan Sya’ban ini adalah dengan cara berpuasa sunnah.

Karena Rasulullah suka ketika amal perbuatannya diangkat ke Allah SWT sedang dalam keadaan berpuasa.  Maka sudah tentu semua saling mengingatkan untuk bersama-sama mengamalkan ibadah puasa sunnah senin – kamis yang tersisa di bulan Sya’ban 1447 H ini

Selanjutnya, di bulan Sya’ban ini turunnya ayat Alquran Surat Al Ahzab 56 tentang perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

“Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah saslam dengan penuh penghormatan kepadanya”.

Dari ayat tersebut sudah sangat jelas, bahwa betapa istimewa dan mulianya Rasulullah SAW. Pasalnya Allah SWT beserta para malaikatNya pun sudah bershalawat kepada baginda Rasulullah SAW sebelum umat (kita) diperintahkan untuk bershalawat.

Sedangkan ibadah yang lain, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji itu tidak dilakukan oleh Allah SWT.

Disebutkan hadist dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah SWT akan bershalawat untuknya sepuluh kali”.

Meskipun ada dibeberapa referensi menyebut bahwa diturunkannya ayat tentang shawalat bukan di bulan Sya’ban.

Ada yang disebut pada malam Isra Miraj, ada juga yang menyebut di bulan Syawal. Namun penulis, hanya mengarahkan sesuai dengan amanat Al Ahzab 56 tadi, agar kita semua khususnya penulis untuk senantiasa gemar bershalawat untuk Rasulullah SAW yang insyaallah akan memberikan kita syafaat di akhirat kelak. Dan bukan hanya dilafazkan saat dalam sholat semata.

Melainkan di setiap kesempatan apapun dalam sehari-hari. Sehingga pertanyaannya, sudah bersholawat kah kita hari ini ? sudah berapa banyakkah kita bersholawat pada bulan Sya’ban ini yang hendak segera berakhir?

Di beberapa riwayat bahwa di Nisfu Sya’ban inilah Allah SWT melihat catatan amalan hamba-hambanya. Sebagaimana yang hadist Rasulullah SWT “Allah SWT melihat catatan amalan hambaNya pada pertengahan bulan Sya’ban. Maka Allah SWT akan mengampuni semua makhluknya kecuali yang melakukan musyrik dan orang yang bermusuhan”. (HR At Thabrani).

Riwayat lain juga disampaikan oleh Aisyah ra istri Rasulullah SAW. Pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW, lalu ia mencari keluar.

Strategi Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H

KEISTIMEWAAN BULAN SYA’BAN YANG TERABAIKAN

Cara Mengetahui Musiim Yang Merugi

Saat itu Rasulullah SAW sedang mengangkat kepala ke langit. Lalu Rasulullah SAW berkata; Wahai Aisyah, apakah engkau takut bahwa Allah SWT dan RasulNya menelantarkan engkau. Aisyah berkata; aku menyangka bahwa engkau mendatangi sebagian istri-stri engkau.

Kemudian Rasulullah SAW berkata; Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam Nisfu Sya’ban ke langit dunia. Lalu mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing milik kabilah Bani Kalb (salah satu kabilah yang memiliki banyak kambing. (HR Ibnu Majah)

Hemat penulis, bahwa Rasulullah SAW mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan banyak ibadah dan memperbanyak doa kepada Allah SWT. Karena pada malam itu, ampunan Allah SWT diturunkan kepada hambaNya sebagai bentuk Rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Juga terdapat sebagian umat muslim terutama dengan mengamalkan pembacaan Surat Yasin 3 kali setelah Maghrib pada malam Nisfu Syaban.

Menurut hemat penulis, hal tersebut merupakan tradisi ulama yang baik. Meskipun tidak ada perintah khusus bersumber dari hadist akan tetapi amalan ini diperbolehkan sebagai tawasul kepada Rasulullah SAW dan tentunya bagian dari ibadah yang beramal sholeh.

Artinya selama diniatkan beribadah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hal tersebut sangatlah positif untuk kita amalkan. Wallahua’lam bis showab

Sehingga pada akhirnya penulis beserta netizen dan pembaca terutama dari kalangan umat Islam. Sama-sama kita memaksimalkan keistimewaan dan keutamaan bulan Sya’ban yang tersisa 2 minggu lagi. Dengan semata-mata beribadah kepada Allah SWT.

Jangan sampai dunia yang penuh fatamorgana ini menyibukkan dan melalaikan kita semua. Sebagaimana yang diingatkan Allah SWT dalam Alquran penggalan surat Al Hadid ayat 20

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.

Serta pada akhirnya menyambut bulan Suci Ramadhan 1447 H/ 2026 M dengan penuh semangat dan diridhoi Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin.(*)


Penulis adalah alumni pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang angkatan 2018 Prodi Studi Islam Konsentrasi Islam dan Komunikasi Massa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *