ORASI ilmiah tentang Jurnalisme Plastik yang disampaikan Dr. Dudi Iskandar adalah sebuah refleksi intelektual yang kaya referensi, luas horizon teoritik, dan jujur dalam kegelisahan.
Ia menggambarkan jurnalisme Indonesia sebagai tubuh yang kehilangan tulang punggung: lentur berlebihan, mudah dibentuk, bahkan rela menghancurkan dirinya sendiri demi kepentingan politik, ekonomi, dan hasrat teknologi.
Namun sebagai jurnalis yang bekerja di daerah pedalaman—di wilayah yang sering luput dari radar media nasional—saya merasa perlu mengajukan satu pertanyaan mendasar: apakah “jurnalisme plastik” ini benar-benar konsep baru, atau sekadar nama akademik bagi problem lama yang selama ini paling parah dirasakan di pinggiran?
Pedalaman, Tempat Jurnalisme Tak Pernah Sempat Menjadi Plastik
Di pedalaman, jurnalisme tidak runtuh karena kecerdasan buatan, robotika, atau hiperrealitas media.
Jurnalisme di sini rapuh karena hal yang lebih mendasar, ketiadaan infrastruktur, ketergantungan ekonomi pada pemerintah daerah, relasi sosial yang terlalu dekat antara wartawan dan kekuasaan, dan absennya perlindungan institusional bagi jurnalis kecil.
Ketika orasi ini menyebut jurnalisme “impoten”, “loyo”, dan “kehilangan elan vital”, bagi kami di daerah, kondisi itu bukan akibat plastisitas—melainkan akibat ketelanjangan struktural.
Banyak wartawan daerah bahkan belum sempat mencapai fase “nilai tanda”, apalagi “nilai plastik”. Kami masih berjuang pada tahap paling dasar: bertahan hidup sambil tetap menyebut diri sebagai wartawan.
Dalam konteks ini, jurnalisme plastik bukanlah pilihan epistemologis, melainkan strategi bertahan hidup.
Antara Kelenturan dan Penyerahan Diri
Konsep plastisitas—yang memuat kemampuan membentuk, dibentuk, dan menghancurkan diri—memang menarik secara filosofis.
Namun, ketika diterjemahkan ke dalam praktik jurnalistik daerah, plastisitas sering kali berarti lentur terhadap tekanan pejabat lokal, adaptif terhadap “titipan berita” humas, elastis dalam memaknai etika jurnalistik. Tentu saja cair dalam membedakan berita dan iklan
Di daerah kecil, jurnalis hidup dalam relasi sosial yang sempit. Narasumber adalah tetangga. Bupati adalah orang yang sama dengan ketua partai, pemilik tanah, dan donatur acara adat.
Dalam kondisi seperti ini, “melanggar batas diri sendiri” bukanlah pilihan teoretik, melainkan keniscayaan sosial.
BACA TULISAN SEBELUMNYA!
Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM)
Ketika Jurnalisme Menjadi Plastik, dan Kita Ikut Memakainya
Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM) (Bagian 2)
Maka ketika jurnalisme plastik didefinisikan sebagai jurnalisme yang anything goes, saya justru khawatir apakah konsep ini sedang menjelaskan realitas, atau tanpa sadar sedang melegitimasi kepasrahan?
Masalahnya Bukan Hanya Teknologi, Tapi Ketimpangan
Orasi ini sangat kuat dalam mengkritik teknologi—ICT, AI, robotika—sebagai pemicu krisis jurnalisme.
Namun dari pedalaman, krisis utama bukan kecepatan, melainkan ketimpangan.
Ketimpangan akses modal, ketimpangan distribusi informasi, ketimpangan perhatian redaksi pusat, dan etimpangan keselamatan kerja jurnalis.
Di pusat, jurnalisme plastik mungkin lahir dari limpahan teknologi dan pasar.
Di daerah, ia lahir dari keterpaksaan struktural. Jurnalisme menjadi lentur bukan karena ingin bereksperimen dengan bentuk baru, tetapi karena jika terlalu tegak, ia patah.
Watchdog yang Dirantai dari Awal
Kritik terhadap kolaborasi jurnalisme dengan humas pemerintah sangat tepat.
Namun di daerah, fungsi watchdog sering kali sudah lumpuh sejak lahir.
Media lokal hidup dari iklan pemerintah daerah, kerja sama publikasi, atau kontrak advertorial.
Dalam kondisi seperti itu, independensi bukan sekadar mitos—ia adalah kemewahan yang tak terjangkau.
Menyebut kondisi ini sebagai “jurnalisme plastik” terasa terlalu elegan. Yang terjadi sesungguhnya adalah jurnalisme yang disandera, bukan jurnalisme yang bermetamorfosis secara sadar.
Yang Hilang dari Orasi Ini: Suara Pinggiran
Orasi ini kaya teori, tetapi minim pengalaman kelas bawah jurnalisme.
Tidak banyak ruang bagi wartawan desa, kontributor lepas, jurnalis media kecil, atau reporter yang bekerja tanpa kontrak dan jaminan sosial.
Padahal, jika ingin bicara tentang krisis jurnalisme Indonesia, pinggiranlah laboratorium paling jujur.
Di sanalah terlihat jelas bagaimana etika bisa runtuh bukan karena nihilisme postmodern, tetapi karena perut kosong dan tekanan lokal.
Dari Plastik ke Tulang
Sebagai jurnalis pedalaman, saya tidak menolak gagasan jurnalisme plastik. Ia membantu memberi nama pada kegamangan zaman.
Namun saya menolak jika plastisitas dijadikan takdir.
Jurnalisme Indonesia tidak hanya butuh paradigma baru, tetapi juga keadilan struktural, redistribusi sumber daya media, perlindungan jurnalis kecil, dan keberanian untuk membangun kembali tulang punggung etika, bukan sekadar merayakan kelenturan bentuk.
Sebab tanpa tulang, tubuh memang lentur, tapi ia juga mudah diinjak san jurnalisme—terutama di pedalaman—sudah terlalu lama berada di bawah telapak kaki kekuasaan. **
Penulis adalah seorang wartawan dan penggiat jurnalistik di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan











