Keberkahan Ramadan 1447 H Yang di Sia Siakan

Oleh : Hendra Gunawan

Dalam tulisan ini, penulis bukan menjustifikasi semua umat muslim di Indonesia atau bahkan di dunia ini semuanya telah menyia nyiakan Ramadan 1447 H. Namun bisa jadi hanya segelintir umat muslim.

Bahkan menjadi pengigat diri sendiri, ketika melaksanakan ibadah puasa dan melaksanakan ibadah di malam hari baik sholat tarawih, witir, tahajud dan amalan lainnya akan tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Simak penjelasannya agar tidak terjadi mispersepsi atau misinterpretasi.

Ibadah puasa dalam Islam bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan spiritual yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan seorang Muslim baik keadaan lahir maupun batin. Namun, dalam realitasnya, ada peringatan penting dalam ajaran Islam.

Bahwa tidak semua orang yang berpuasa mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT. Sebagian hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga tanpa nilai ibadah yang berarti.

Ungkapan ini berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat masyhur: “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.” Pesan ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga refleksi mendalam bahwa kualitas puasa jauh lebih penting daripada sekadar pelaksanaannya.

Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah utama dalam Islam yang memiliki dimensi spiritual, moral, dan sosial yang sangat mendalam.

Banyak orang memahami puasa hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Padahal, hakikat puasa jauh lebih luas dari sekadar menahan lapar dan dahaga.

Puasa adalah ibadah yang bertujuan membentuk manusia yang bertakwa, yaitu pribadi yang selalu sadar akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya.

Oleh karena itu, puasa seharusnya memengaruhi perilaku, ucapan, cara berpikir, hingga cara seseorang memperlakukan orang lain.

Tujuan Utama Puasa dalam Al-Qur’an

Hampir dipastikan semua umat Islam mengetahui makna dan hakikaat tujuan utama puasa adalah menjadi insan yang bertaqwa.

Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتب عليكم الصيامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تتَّقُونَ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa.

Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah puasa adalah membentuk ketakwaan. Takwa berarti menjaga diri dari segala hal yang dilarang Allah SWT serta menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesadaran.

Dengan kata lain, puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga latihan spiritual yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kedisiplinan.

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Menahan makan dan minum hanyalah aspek paling dasar dari puasa. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang bisa saja berpuasa secara fisik, tetapi tidak mendapatkan pahala karena tidak menjaga perilakunya.
Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِم لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

Artinya : Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. (HR. An Nasa’i)

Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa puasa bisa kehilangan nilai spiritualnya jika tidak disertai dengan pengendalian diri dari perbuatan dosa.

Mengapa Puasa Bisa Menjadi Sia-Sia ?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang tidak memperoleh pahala dari ibadah puasanya.

1. Tidak Menjaga Lisan

Salah satu penyebab paling umum rusaknya nilai puasa adalah tidak menjaga lisan. Perkataan seperti dusta, ghibah (menggunjing), fitnah, atau ucapan kasar dapat menghilangkan pahala puasa.

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ
طعامه وشرابه

Artinya : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah SWT tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya (yaitu puasanya). (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah moral.

2. Perilaku yang Tidak Terpuji

Puasa seharusnya menjadikan seseorang lebih sabar dan santun. Namun jika seseorang tetap mudah marah, menipu, atau menyakiti orang lain, maka puasanya hanya menjadi rutinitas tanpa makna spiritual.

Rasulullah SAW bahkan menganjurkan agar orang yang berpuasa menahan emosi ketika diprovokasi. Sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan kepada semua melalui hadistnya :

إِذَا ا كان يوم صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُتْ وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنْ سَابَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صائم

Artinya : Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa. Maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Dan Jika ada seseorang mencaci atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Sahih Muslim)

3. Tidak Menjaga Pandangan

Islam juga mengajarkan agar umat Muslim menjaga pandangan. Mata yang tidak dijaga dari hal-hal yang diharamkan maka hal itu dapat mengurangi nilai ibadah puasa.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Aluran surat An Nur ayat 30 :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بما يصنعون

Artinya : Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Menjaga pandangan adalah bagian dari menjaga hati dan kesucian jiwa selama menjalankan ibadah puasa.

BACA JUGA

Cara Memperoleh Lailatul Qadar di Bulan Suci Ramadan

Amalan I’tikaf di Masjid pada Bulan Ramadan: Memaksimalkan Ibadah di 10 Malam Terakhir

4. Kurangnya Keikhlasan

Keikhlasan merupakan ruh dari setiap ibadah. Jika puasa dilakukan hanya karena kebiasaan, tekanan sosial, atau sekadar mengikuti tradisi, maka dikhawatirkan nilai spiritualnya bisa berkurang. Dalam konteks ini Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua melalui hadistnya :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya : Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Maka fokus ibadah puasa Ramadan itu harus diluruskan hanya untuk Allah SWT. karena niat yang tulus untuk Allah SWT menjadikan puasa bernilai ibadah yang tinggi.

5. Mengabaikan Ibadah Pendukung

Puasa seharusnya diiringi dengan ibadah lain seperti salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan bersedekah. Tanpa ibadah-ibadah tersebut, puasa akan terasa kering dari nilai spiritual.

Sementara yang kerap terjadi, menjelang Idul Fitri di posisi saat ini, justru terkadang umat muslim disibukkan dengan persiapan hari raya dalam konteks kebutuhan lahiriah semata.

Misalnya mempersiapkan baju, sepatu, kue lebaran. Bahkan sibuk tunjangan hari raya (THR). Sementara ibadah yang tersisa 5 hari lagi Ramadan menjadi terlupakan atau tidak maksimal lagi.

Yang pada hakikatnya lupa bahwa bisa jadi Lailatul Qodar yang disiapkan Allah SWT justru di akhir Ramadan.

Padahal, bila kita ingin berkaca dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Qadr. Bahwa Allah SWT akan menurunkan ribuan malaikat-malaikatnya ke bumi ini, untuk melaksanakan urusan hamba-hambanya baik untuk keberkahan dan kesejahteraan.

Yang sejatinya fokus terhadap pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadan, Karena diturunkannya Alquran itu adalah di bulan Ramadan. Maka sangat disayangkan bila hal itu berakhir dengan sia-sia.

Sehingga sebelum Ramadan ini berakhir, sebaiknya menjadi momentum bagi kita semua untuk meningkatkan kualitas ibadah Ramadan kita semua secara keseluruhan.

Dimensi Spiritual Ramadan

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah spiritual yang melatih manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui puasa, seorang Muslim dilatih untuk :

– mengendalikan hawa nafsu
– meningkatkan kesabaran
– memperkuat hubungan dengan Allah
– menumbuhkan empati kepada sesama

Rasa lapar yang dirasakan selama puasa juga mengajarkan manusia untuk memahami penderitaan orang-orang yang kekurangan.

Tanda-Tanda Puasa yang Berkualitas

Puasa yang diterima akan meninggalkan perubahan nyata dalam diri seseorang. Beberapa indikator puasa yang berkualitas antara lain:

1. Lisan lebih terjaga dari perkataan buruk
2. Emosi lebih terkendali
3. Ibadah meningkat dibanding hari biasa
4. Tumbuh empati dan kepedulian sosial
5. Perilaku sehari-hari menjadi lebih baik

Jika setelah Ramadan seseorang menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap sesama, maka itu merupakan tanda bahwa puasanya membawa perubahan positif.

Peringatan bahwa puasa bisa sia-sia seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim. Ibadah tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki diri.

Ramadan memberikan kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Pada akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa puasa itu sejatinya merupakan perjalanan ibadah menuju ketakwaan. Lapar dan haus hanyalah sarana, bukan tujuan utama.

Begitu banyak keberkahan yang disiapkan Allah SWT di bulan suci Ramadan ini. Maka apabila berpuasa tanpa menjaga hati, lisan, pandangan, dan perbuatan, puasa bisa kehilangan maknanya bahkan di khawatirkan sia-sialah keberkahan yang disiapkan Allah SWT itu.

Dengan kondisi Ramadan 1447 H yang tersisa kisaran 5 hari lagi, sejatinya kita merefleksi diri sejauh mana kualitas ibadah Ramadan 1447 H baik puasa, sholat malam tarawih, witir, membaca Alquran, perbanyak sedekah infaq dan sebagainya.

Sehingga berakhirnya Ramadan 1447 H ini, jangan sampai terasa sia-sia dan tidak bermanfaat di mata Allah SWT. Wallahua’lam bis showab

Karena itu, setiap Muslim diharapkan menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri secara komprehensif. Sehingga setelah Ramadan berakhir, ia keluar sebagai pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin.**


Penulis adalah Alumni Mahasiswa Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang tahun 2020 Prodi Studi Islam Konsentrasi Islam dan Komunikasi Massa 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *