Kegagalan Bukanlah Akhir Perjalanan Prestasi, Api Cambuk Semangat Badminton Indonesia

Oleh : Aditya Chandra Utama S Kom I

Aditya Candra Utama S Kom I

Kegagalan tim badminton Indonesia baik beregu putra dan juga putri dalam melakoni laga sengit dan tajam di laga semifinal kejuaraan badminton Internasional beregu level Asia usai sudah.

Kegagalan tim beregu badminton Indonesia baik beregu putri dan juga putra terhenti langkahnya.

Di laga semifinal kemarin Sabtu (7/2/2026), tim beregu putri badminton Indonesia harus mutlak mengakui keunggulan tim beregu putri Korea setelah menyerah dengan skor 3-1.

Memang dari segi manajemen prestasi, manajemen jam terbang pengalaman dan faktor lainnya mutlak kita akui untuk tim beregu putri badminton Indonesia.

Kenapa?
Karena mereka diturunkan dalam tim beregu badminton kejuaraan level Asia kali ini (edisi awal tahun 2026) merupakan tim masih usia muda-muda (usia 17, 18, 19 hingga 20 tahun).

Jadi sangat wajar, jika tim beregu putri badminton Indonesia dan juga tim beregu putranya masih jauh alias masih minim dari jam terbang pengalaman dilapangan (kompetisi badminton Internasional level Asia).

Jika menurut hemat penulis, capaian semifinal (semifinalis meraih medali perunggu) bukanlah hasil yang buruk melainkan suatu prestasi hebat yang sungguh luar biasa.

Merujuk dari perjalanan tim beregu putri badminton Indonesia dari sejak laga penyisihan group mereka sudah menunjukkan eksistensi skill dan mental keberaniannya.

Hal terbukti, di laga penyisihan yang penghuni group nya terdiri dari Hongkong dan Jepang terkenal tim terkuat di level Asia, tim beregu putri Indonesia kita mampu keluar sebagai runner-up group dibawah Jepang.

Tim beregu putri Jepang saja yang dijagokan juara group, setelah melakoni laga quarter final (perempat final) tidak mampu alias kalah atau tumbang setelah dikalahkan Chinese Taipei (Taiwan) skor 3-2 untuk kemenangan Taipe (Taiwan).

Sedangkan tim beregu putri Indonesia hanya berstatus kuda hitam (runner-up group) mampu bangkit dan keluar sebagai pemenang setelah di laga quarter final sebelumnya sukses menumbangkan tim hebat Negeri Gajah Putih (Thailand) secara dramatis skor ketat 3-2 untuk kemenangan tim beregu putri Indonesia.

Padahal kita tahu semua, tim beregu putri Thailand mayoritas dihuni oleh pemain-pemain senior yang telah banyak jam terbang pengalamannya seperti Busanan Ombarumpan, Opit Tuniphut dan lainnya.

Jadi wajar, jika di laga semifinal kemarin, tim beregu putri Indonesia kita harus puas terhenti langkahnya di semifinal setelah dikalahkan tim beregu putri Korea skor 3-1.

Satu-satunya poin berhasil diraih oleh tim beregu putri Indonesia lewat tunggal putri termuda Indonesia Ni Kadek Dinda merupakan putri berdarahkan Bali, sektor lainnya belum mampu mencuri poin alias kalah dari wakil-wakil terbaik atlit badminton Korea sehingga dipastikan tim beregu putri Indonesia meraih medali perunggu karena bisa mencapai semifinalis.

Kemudian, kita lanjut sektor tim beregu putra Indonesia.

Perjalanan tim beregu putra Indonesia pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan perjalanan dihadapi tim beregu putri.

Hanya saja, tim beregu putra Indonesia jika menurut hemat penulis belum rezeki saja belum mendapatkan keberuntungan saja.

Posisi di penyisihan group yang di isi oleh Myanmar dan Malaysia, tim beregu putra Indonesia kita mampu keluar sebagai juara group.

Di laga quarter final (perempat final) sebelumnya, Mohammad Zaki Ubaidillah biasa disapa akrab Ubed sukses menundukkan tim beregu putra Negeri Gajah Putih (Thailand) secara dramatis sangat ketat yakni 3-2 untuk kemenangan tim beregu putra Indonesia.

Sang anak muda berdarahkan Sampang Madura bernama Mohammad Zaki Ubaidillah alias Ubed mampu mengantarkan tim beregu putra Indonesianya lolos ke laga semifinal.

Thailand Master 2026, Kebangkitan Prestasi Badminton Indonesia

Sektor Tunggal Putra Alwi Farhan Selamatkan Muka Indonesia, Istora Senayan Saksi Utama Prestasi Kejuaraan Indonesia Master 2026

Namun sangat disayangkan, tim beregu putra Indonesia kita terhenti langkahnya alias belum mampu tembus laga pamungkas (final) karena di laga semifinal kemarin Sabtu (7/2/2026), beregu putra kita menyerah alias menerima kekalahan 1-3 dari tim beregu putra Jepang.

Di laga pembuka awal, sang anak muda Ubed sukses membuka jalan kemenangan secara straight game (dua set) 22-20 dan 21-15 atas rivalnya Kenta Nishimoto terkenal ulet dan sangat senior di sektor tunggal putra dari Negara Jepang.

Namun seribu kali sayang, sektor ganda putra Indonesia kita lainnya diturunkan seperti Muhammad Rian Ardianto berpartner Leo Carnando, lalu sektor tunggal lainnya Pradiska Bagas Sujiwo dan ganda putra termuda Indonesia Raymond Indra/Nicolaus Joaquin belum mampu menyumbangkan poin kemenangan untuk tim beregu putra Indonesia.

Untuk diketahui publik, sepengetahuan penulis bahwa tim beregu putra Indonesia untuk edisi sebelumnya khusus level kejuaraan badminton se-Asia ini, Indonesia mampu mencatat rekor sejarah paling dominan meraih Piala Asia Badminton ini sejak edisi kejuaraan Piala Asia Badminton ini di gelar secara Internasional mulai dari tahun 2018, 2020, 2022 dan 2024 serta khusus di tahun 2026 ini langkah tim beregu putra Indonesia kita terhenti dan hanya finish sebagi semifinalis meraih medali perunggu.

Sedangkan khusus untuk tim beregu putri Indonesia mencatatkan rekor sejarah, pertama kali berhasil sukses meraih medali emas Piala Asia Badminton ini di tahun 2022 ketika sang kapten beregu putri dikomandoi oleh Gregoria Mariska Tunjung biasa disapa akrab Jorji ini mampu menumbangkan tim beregu putri Korea secara 3-1.

Lalu di tahun 2024, tim beregu putri Indonesia hanya mampu finish di laga semifinal hingga berlanjut pada tahun 2026 ini juga finish sebagai semifinalis dan berhak atas medali perunggu.

Edisi kompetisi badminton Internasional level Piala Asia Badminton ini digelar setiap dua tahun sekali (setiap tahun genap).

Tim beregu baik putra dan juga putri pemenang 4 besar tembus laga semifinal kejuaraan badminton Internasional level Asia (Piala Asia Badminton ini) berhak mengantongi tiket lolos menuju tim beregu Uber Cup dan Thomas Cup tanpa harus diseleksi kembali.

Harapan emas penulis beserta semua anak bangsa Indonesia khususnya pecinta badminton lovers tanah air Indonesia, semoga di edisi selanjutnya dan kompetisi-kompetisi badminton Internasional dalam kalender BWF dan lainnya.

Atlit badminton Indonesia kita mampu bangkit kembali dan jadikan hasil capaian semifinalis (medali perunggu) ini sebagai cambuk api semangat badminton Indonesia untuk bangkit berlatih lebih disiplin lagi, lebih keras lagi dan lebih konsisten lagi dalam meningkatkan kualitas skill variasi permainan dan mental psikologi lainnya, Amiin.


Penulis ialah Pengamat/Pemerhati Badminton Tanah Air Indonesia dan Alumni Organisasi Persaudaraan Mahasiswa Empat Lawang di Provinsi Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *