(Tanggapan atas Orasi Ilmiah “Jurnalisme Plastik” Prof Dr Dudi Iskandar S Ag M Ikom)
Saya membaca orasi ilmiah tentang Jurnalisme Plastik itu seperti orang sedang bercermin di kaca etalase minimarket. Pantulannya jelas, tapi wajah kita terlihat lebih mengkilap dari aslinya. Bukan karena wajah kita bersih, melainkan karena kacanya memang dilapisi lapisan plastik. Kita tersenyum, tetapi senyum itu palsu. Kita marah, tetapi marah itu direkayasa. Kita menangis, tetapi air mata itu dikomersialkan.
Maka, kegelisahan yang disampaikan Dr. Dudi Iskandar bukan sekadar kegelisahan akademik. Itu kegelisahan manusia yang sedang kehilangan tanah tempat berpijak. Jurnalisme yang seharusnya menjadi mata, telinga, dan nurani publik, kini seperti boneka etalase: bisa digerakkan ke mana saja, oleh siapa saja, untuk kepentingan apa saja.
Plastik itu apa? Plastik itu ringan, lentur, murah, mudah dibentuk, dan yang paling berbahaya tahan lama sebagai sampah. Ia tidak membusuk, tidak kembali ke tanah, tidak menyuburkan apa pun. Ia hidup lama, tetapi tak memberi kehidupan. Maka ketika jurnalisme disebut plastik, itu bukan pujian atas kelenturannya, melainkan peringatan tentang ketahanannya sebagai sampah makna.
Jurnalisme dan Hilangnya Akar
Orasi ini mengingatkan kita bahwa jurnalisme sejatinya adalah konstruksi informasi publik yang terkonfirmasi, terklarifikasi, dan terverifikasi.
Kalimat ini sederhana, tetapi di situlah seluruh martabat jurnalisme diletakkan. Tanpa verifikasi, jurnalisme hanyalah gosip yang dilegalkan. Tanpa klarifikasi, ia hanya emosi yang dipoles. Tanpa konfirmasi, ia hanya dugaan yang berisik.
Masalahnya, hari ini jurnalisme tercerabut dari akarnya. Ia lupa bahwa dirinya lahir dari rahim kepentingan publik, bukan dari rahim pemodal, penguasa, atau algoritma. Ia lupa bahwa tugasnya bukan menyenangkan siapa pun, tetapi menyadarkan semua orang.
Ketika jurnalisme menjadi alat pemenuhan hasrat politik kekuasaan, ia berhenti menjadi jurnalisme dan berubah menjadi pengeras suara.
Ketika ia menjadi komoditas ekonomi, ia berhenti menjadi nurani dan berubah menjadi etalase. Ketika ia hanyut dalam arus teknologi tanpa kendali nilai, ia berubah menjadi buih: tampak ramai, berkilau, tetapi kosong.
Ini yang oleh Dr. Dudi disebut sebagai jurnalisme yang kehilangan akar historis dan kesejatiannya. Ia ada, tetapi tidak hadir. Ia hidup, tetapi tidak bernyawa. Wujuduhu ka adamihi – keberadaannya seperti ketiadaannya.
Teknologi Bukan Masalah, Ketamakanlah Masalahnya
Sering kali kita menyalahkan teknologi: ICT, kecerdasan buatan, robotika, media sosial. Padahal teknologi itu seperti pisau dapur. Ia bisa dipakai untuk memasak, bisa juga untuk melukai. Yang bermasalah bukan pisaunya, melainkan tangan dan niat yang memegangnya.
Masalah jurnalisme hari ini bukan karena ia digital, tetapi karena ia kehilangan adab. Kecepatan mengalahkan ketepatan. Viral mengalahkan benar. Trending mengalahkan penting. Dan public termasuk kita semua ikut menikmati itu semua sambil pura-pura kritis.
BACA TULISAN SEBELUMNYA !
Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM)
Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM) (Bagian 2)
Kita marah pada jurnalisme plastik, tetapi kita sendiri setiap hari mengonsumsinya. Kita mengutuk berita dangkal, tetapi kita menyebarkannya. Kita mengeluh media tidak bermutu, tetapi kita tidak sabar membaca yang mendalam. Kita ingin jurnalisme ideal, tetapi perilaku kita justru memberi makan jurnalisme plastik.
Di sinilah saya ingin menambahkan satu lapisan refleksi: jurnalisme plastik bukan hanya produk media, tetapi juga cermin publik. Media memproduksi apa yang kita klik. Wartawan menulis apa yang kita baca. Redaksi mengemas apa yang kita beli secara emosional.
Jurnalisme Kehilangan Keberanian Moral
Dr. Dudi menggambarkan jurnalisme hari ini seperti kehilangan tenaga, impoten, loyo, tidak berdaya menghadapi ketidakadilan, korupsi, kekerasan, kejahatan ekologis, hingga pinjaman daring. Ini kritik yang tajam dan menyakitkan, tetapi jujur.
Namun, saya ingin bertanya dengan cara yang pelan:
Apakah jurnalisme kehilangan keberanian, ataukah kita yang tidak lagi memberi ruang bagi keberanian itu?
Keberanian jurnalisme selalu mahal. Ia menuntut risiko: kehilangan iklan, kehilangan akses, kehilangan kenyamanan. Di zaman ketika semua diukur dengan traffic dan engagement, keberanian menjadi barang langka. Yang laku adalah sensasi, bukan substansi. Yang cepat adalah emosi, bukan refleksi.
Maka jurnalisme plastik tumbuh subur karena ia murah, cepat, dan menguntungkan. Ia tidak menuntut keberanian moral, hanya keterampilan teknis. Ia tidak membutuhkan nurani, cukup headline.
Jurnalisme dan Krisis Makna
Yang paling mengerikan dari jurnalisme plastik bukanlah kebohongannya, melainkan kehilangan maknanya. Ia tidak lagi bertanya: “Untuk apa berita ini?” Ia hanya bertanya: “Berapa yang klik?”
Padahal, jurnalisme lahir sebagai penunjuk arah, bukan sekadar pemberi sinyal. Ia seharusnya membantu publik memahami realitas, bukan menenggelamkannya dalam kebisingan. Ia seharusnya memperlambat kita untuk berpikir, bukan mempercepat kita untuk bereaksi.
Ketika jurnalisme kehilangan makna, masyarakat kehilangan kompas. Ketika kompas hilang, yang tersisa hanyalah kerumunan yang mudah digiring. Di sinilah jurnalisme plastik menjadi berbahaya: ia tampak netral, tetapi sesungguhnya manipulatif. Ia tampak informatif, tetapi sesungguhnya membingungkan.
Jalan Pulang Jurnalisme
Orasi ini, bagi saya, bukan sekadar kritik, tetapi panggilan pulang. Pulang ke akar. Pulang ke nilai. Pulang ke kesadaran bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, tetapi amanah kebudayaan.
Jurnalisme tidak harus kembali ke masa lalu, tetapi harus membawa masa lalu sebagai fondasi. Ia boleh digital, tetapi harus bermoral. Ia boleh cepat, tetapi harus benar. Ia boleh populer, tetapi tidak boleh mengorbankan martabat.
Dan yang paling penting: jurnalisme tidak bisa diselamatkan sendirian. Ia membutuhkan ekosistem yang sehat—wartawan yang berani, pemilik media yang beretika, publik yang kritis, dan negara yang tidak alergi terhadap kritik.
Jika tidak, kita akan terus hidup di dunia yang penuh berita, tetapi miskin pengetahuan; penuh informasi, tetapi hampa kebijaksanaan.
Plastik atau Tanah?
Plastik tidak pernah kembali ke tanah. Ia hanya menumpuk, mencemari, dan diwariskan sebagai masalah. Jurnalisme seharusnya seperti tanah: diinjak, dicangkul, ditanami, lalu memberi kehidupan.
Maka pertanyaannya bukan hanya: apakah jurnalisme kita plastik?
Tetapi: apakah kita rela terus hidup di atas sampah makna, atau ingin kembali menjejak tanah kebenaran?
Orasi “Jurnalisme Plastik” ini penting bukan karena istilahnya, tetapi karena keberaniannya menamai penyakit. Dan setiap kesembuhan selalu dimulai dari keberanian mengakui bahwa kita sedang sakit.**
Penulis adalah Jurnalis dan Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muara Enim Prov Sumatera Selatan









