Ramadan 1447 H Dimulai, Madrasah Bersiap Juknis Baru Kemenag Sudah Terbit

foto ilustrasi

Pagi pertama Ramadan 1447 H, di tengah libur awal puasa yang memberi ruang guru dan murid menikmati kebersamaan keluarga. Kini para guru justru mulai menyusun ulang ritme belajar. Bukan hanya soal jadwal, tetapi juga tentang cara mendidik anak-anak di lingkungan madrasah se Indonesia.

Aktivitas belajar mengajar memang diliburkan beberapa hari, namun di balik jeda itu muncul tantangan baru. Madrasah di seluruh Indonesia kini bersiap menjalankan Petunjuk Teknis (Juknis) Pembelajaran Ramadan 2026 yang tertuang dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1290 Tahun 2026. Sebuah pedoman yang disebut-sebut akan mengubah wajah pembelajaran selama bulan suci.

Bukan sekadar soal jam belajar yang disesuaikan, juknis ini membawa pesan besar. Ramadan harus menjadi ruang pembentukan karakter murid.

Di lansir di situs kementerian agama RI, Menteri Agama H Nasaruddin Umar, melalui Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa perubahan jadwal bukan sekadar teknis, melainkan momentum untuk menumbuhkan iman, kedisiplinan, akhlak, serta kepedulian sosial. “Bulan Ramadan adalah bulan diwajibkan berpuasa, sehingga momen untuk meningkatkan ibadah serta kedisiplinan guru dan siswa,”kata Amien di Jakarta Rabu (18/2/2026).

Hal senada juga disampaikan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah. Ia melihat Ramadan sebagai fase penting dalam pendidikan karakter. Aktivitas pembelajaran selama bulan suci, menurutnya, menjadi ruang pembiasaan sikap, penguatan nilai moral, sekaligus pembentukan empati sosial bagi murid.

Dijelaskan Nyayu, tema pembelajaran Ramadan tahun ini difokuskan pada penguatan iman, akhlak, dan kepedulian sosial. Pelaksanaannya dibagi dalam tiga tahap yang saling terhubung.

Tahap pertama adalah Tarhib Ramadan. Yakni masa penyambutan yang menitikberatkan pada penguatan relasi keluarga. Di fase ini, murid diarahkan membangun kebersamaan di rumah: membantu orang tua, memperbanyak doa, serta mempersiapkan diri secara mental dan spiritual menyambut bulan suci.

Tahap kedua menjadi inti pembelajaran di madrasah. Kegiatan tatap muka berlangsung lebih intensif dengan fokus pada tahsin Al-Qur’an, pemahaman makna ayat, praktik ibadah dan adab, serta refleksi diri.

“Orang tua turut dilibatkan dalam proses evaluasi, menjadikan pendidikan sebagai kerja bersama antara rumah dan sekolah,”kata Nyayu.

Adapun tahap ketiga berlangsung saat libur Idul fitri 1447 H. Di sinilah nilai-nilai yang telah dipelajari diuji dalam kehidupan sosial: melalui silaturahmi, saling memaafkan, dan aktivitas kemasyarakatan yang menumbuhkan empati.

BACA JUGA

Pemerintah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 1447 H Jatuh pada Kamis19 Februari 2026

Ketika Perbedaan Menjadi Perekat: Kisah Sidang Isbat dan Pesan Persatuan Menjelang Ramadan 1447 H

Madrasah juga didorong menyelenggarakan Pesantren Ramadan sekurang-kurangnya tiga hari. Pelaksanaannya fleksibel, dapat berupa model mukim, semi full day, maupun pembelajaran terintegrasi. Yang terpenting bukanlah formatnya, melainkan pengalaman spiritual dan kebersamaan yang dirasakan murid.

Menariknya, pembelajaran Ramadan tidak diarahkan pada pencapaian target kuantitatif, seperti kewajiban khatam Al-Qur’an. Pendekatan yang ditekankan adalah kualitas bacaan, kedalaman pemahaman, serta kemampuan menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Evaluasi pun tidak semata berbasis administrasi. Guru menggunakan jurnal refleksi, kartu kendali tahsin, dan lembar observasi perkembangan sikap terutama bagi murid di jenjang RA dan MI kelas awal.

“Dengan demikian, perubahan kecil dalam kebiasaan dan perilaku menjadi indikator keberhasilan yang lebih bermakna,”imbuhya

Pembelajaran kontekstual turut diperkuat melalui kegiatan sosial, seperti edukasi zakat fitrah dan berbagi takjil. Aktivitas sederhana ini menjadi cara nyata bagi murid untuk memahami arti berbagi dan merasakan kebutuhan orang lain.

Kolaborasi antara madrasah dan orang tua dipandang krusial. Ketika nilai yang diajarkan di kelas berlanjut dalam kehidupan di rumah, proses pembentukan karakter menjadi lebih kokoh dan berkesinambungan.

Pada akhirnya, keberhasilan program pembelajaran Ramadan tidak diukur dari tebalnya laporan kegiatan, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku peserta didik. Dari cara mereka berbicara dengan santun, disiplin menjalankan ibadah, hingga kesediaan membantu sesama.

Di bulan yang penuh berkah ini, madrasah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bertumbuh. Ramadan menjelma menjadi sekolah kehidupan berupa tempat ilmu, iman, dan empati bertemu dalam satu perjalanan pendidikan.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *