Sahabat pembaca Interaksi Massa yang berbahagia. Dalam pengajian Ramadan 1447 H, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab di sapa Gus Mus menjelaskan bahwa bagi umat muslim menginginkan keberhasilan dunia dan akhirat, syaratnya hanya satu yakni kembali kepada Allah SWT.
“Kembali kepada Allah SWT, bahkan sejak langkah pertama kehidupan di mulai,”ujar Gus Mus dikutip situs resmi NU Online yang di akses, Jumat (27/2/2026).
Dalam pengajian yang mengulas kitab klasik Al-Hikam, Gus Mus mengajak jamaah merenungi sesuatu yang kerap luput. Yakni pentingnya permulaan.
Ia menggambarkan hidup layaknya perjalanan panjang. Ada sebuah titik berangkat (bidayah) dan ada titik akhir (nihayah). Namun, menurutnya, arah akhir sering kali sudah ditentukan sejak awal langkah diambil.
“Kalau sejak awal kamu sudah kembali kepada Allah, maka kamu boleh berharap akan sukses di akhirnya,”ucapnya, sederhana namun mengandung kedalaman yang sulit diabaikan
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering mengagungkan usaha dan kemampuan diri, Gus Mus justru mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar. Kepada siapa kita bersandar saat memulai?. Sebab, dari situlah cahaya atau kegelapan perjalanan akan bermula.
Ia mengutip sebuah hikmah yang telah berabad-abad menjadi pegangan para pencari jalan: “Man asyraqat bidayatuhu asyraqat nihayatuhu”. Barang siapa permulaannya bercahaya, maka akhirnya pun akan bercahaya.
Kalimat itu bukan sekadar untaian indah, melainkan cermin bagi setiap langkah manusia. Dalam dunia pendidikan misalnya, seorang penuntut ilmu bisa saja tampak sama di permukaan. Duduk di kelas yang sama, membaca buku yang sama. Namun, yang membedakan adalah apa yang tersembunyi di dalam hati saat memulai.
Apakah ia melangkah dengan keyakinan penuh pada kecerdasan diri semata? Ataukah ia menundukkan hati, berdoa lirih: “Ya Allah, tuntunlah aku dalam meraih ilmu ini”!
BACA JUGA
Doa Qunut: Ini Dalil, bacaan Arab dan Latin Serta Tata Caranya
Cara bersedekah Menjadi Lebih Istimewa di bulan Ramadan ; Simak Ini Penjelasannya !
Perbedaan yang tampak ringan itu, menurut Gus Mus, justru menentukan arah akhir kehidupan seseorang. Permulaan yang dilandasi doa, harapan, dan ketergantungan kepada Allah akan memancarkan cahaya. Bahkan sebelum seseorang mencapai tujuan akhirnya.
Lebih jauh, pesan ini tidak berhenti pada urusan menuntut ilmu. Dalam jalan spiritual atau tasawuf, manusia mengenal banyak metode untuk mendekat kepada Allah.
Ada yang menapaki jejak Abdul Qadir al-Jailani, ada pula yang mengikuti jalan Bahauddin Naqsyaband. Beragam jalan itu mungkin berbeda dalam metode, namun bermuara pada tujuan yang sama yakni kembali kepada Sang Maha Kuasa.
Di situlah letak keindahan sekaligus kesederhanaan ajaran ini. Bahwa keberhasilan hidup baik di dunia maupun akhirat. Bukan semata tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita memulai perjalanan.
Gus Mus seolah ingin menegaskan bahwa tanda-tanda keberhasilan sejatinya sudah tampak sejak langkah pertama. Ketika hati sejak awal bersandar kepada Allah, maka perjalanan akan dipenuhi ketenangan, dan akhir akan mendekat dengan penuh harap.
Di ujung pengajiannya, pesan itu kembali ditegaskan lembut namun menguatkan bahwa jika awalnya sudah baik, jika sejak mula kita kembali kepada Allah, maka insyaallah akhirnya pun akan baik.
Sebuah pengingat sederhana, namun cukup untuk mengubah cara pandang hidup. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang capaian akhir, melainkan tentang cahaya yang kita nyalakan sejak langkah pertama.
Semoga Allah SWt meridhoi kita semua dalam melaksanakan aktifitas di muka bumi. Aamiin ya robbal alamiin.**












