Jakarta – Di sebuah ruang kelas madrasah, pelajaran bahasa Inggris sering kali berjalan apa adanya. Guru membaca buku teks, siswa menirukan, lalu bel berbunyi. Tidak banyak yang benar-benar merasa bahasa itu hidup.
Padahal, di luar sana, bahasa Inggris adalah jendela dunia—kunci untuk memahami ilmu pengetahuan, teknologi, dan pergaulan global. Kesadaran inilah yang kini perlahan ingin dibangunkan oleh Kementerian Agama.
Di lansir web resmi Kementerian Agama, Kamis (26/2/2026), di Kantor Kementerian Agama Jakarta, pesan itu disampaikan dengan nada tegas namun reflektif.
Menteri Agama H Nasaruddin Umar berbicara bukan sekadar tentang kurikulum, melainkan tentang masa depan guru madrasah dan para siswanya. Bahasa Inggris, menurutnya, bukan lagi pelajaran tambahan, tetapi kebutuhan strategis agar madrasah tidak tertinggal dalam kompetisi global.
“Tanpa bahasa Inggris, sulit bersaing,” kata Nasaruddin Umar seraya meminta kepada pihak Madrasah se Indonesia dengan berbagai tingkatan untuk lebih serius dalam penerapan belajar Bahasa Inggris.
Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya panjang. Bagi guru madrasah, pernyataan tersebut adalah ajakan untuk bercermin. Sejauh mana mereka mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin terbuka?
Bagi siswa, itu adalah peringatan halus bahwa kemampuan berbahasa bisa menentukan arah hidup. Apakah akan berhenti di batas lokal atau melangkah lebih jauh.
Kesadaran itu tidak datang sendirian. Kementerian Agama menggandeng British Council, lembaga yang selama puluhan tahun dikenal konsisten mengembangkan pengajaran bahasa Inggris di berbagai negara.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui Program Continuing Professional Development (CPD), sebuah ikhtiar yang menyasar jantung persoalan: kualitas guru.
Dalam program ini, guru madrasah tidak hanya diajak memperbaiki tata bahasa atau pengucapan. Mereka diajak memahami cara mengajar yang lebih hidup.
Bagaimana membuat bahasa Inggris hadir sebagai alat komunikasi, bukan sekadar hafalan. Metodologi dan pedagogi menjadi penekanan, karena menguasai bahasa saja tidak cukup tanpa kemampuan menyampaikannya dengan cara yang relevan bagi siswa.
Menariknya, Menteri Agama juga mengingatkan bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri. “Behind the language, there is culture,” katanya. Di balik bahasa Inggris, ada budaya United Kingdom dan dunia internasional yang membentuk cara berpikir, berinteraksi, dan memandang perbedaan.
Bagi madrasah, pemahaman ini penting hanya bukan ancaman identitas, tetapi peluang untuk memperkaya perspektif sambil tetap berakar pada nilai keislaman.
Bagi para guru yang mengikuti CPD, delapan minggu pembelajaran daring dengan total 42 jam bukanlah waktu yang singkat. Mereka belajar di luar jam kerja utama, menyisihkan waktu keluarga dan istirahat.
Namun di situlah nilai transformasinya. Program ini menanamkan kesadaran bahwa menjadi guru bahasa Inggris berarti menjadi pembuka jalan bagi masa depan siswa.
BACA JUGA
Hore, Dana BOP dan BOS Madrasah Tahap I 2026 Cair Sebelum Lebaran, Ini Informasinya!
Sementara itu Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, menyebut pendekatan ini sebagai upaya membangun ekosistem.
Pelatihan hanyalah awal. Setelah itu ada modul, monitoring, mentoring, dan komunitas praktik. Guru tidak dibiarkan berjalan sendiri. Mereka saling berbagi pengalaman kelas, tantangan, dan solusi—sebuah budaya belajar yang selama ini kerap hilang.
Bagi siswa madrasah, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Namun ketika guru mulai lebih percaya diri berbicara bahasa Inggris, suasana kelas berubah.
Percakapan menjadi lebih natural. Kesalahan tidak lagi ditakuti, melainkan dipahami sebagai bagian dari proses belajar. Di titik inilah siswa mulai sadar bahwa bahasa Inggris bukan momok, melainkan alat.
Kesadaran itu bisa mengubah orientasi belajar. Siswa mulai membayangkan diri mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi dunia, mengakses jurnal internasional, atau bekerja di sektor profesional yang sebelumnya terasa jauh.
Bahasa Inggris membuka kemungkinan itu. Ia menggeser posisi tenaga kerja dari sektor rendah menuju ruang-ruang yang menuntut keahlian dan pemikiran kritis.
Model daring yang digunakan dalam CPD juga memberi pesan penting: belajar tidak lagi terikat ruang. Guru dari daerah terpencil memiliki akses yang sama dengan guru di kota besar.
Ke depan, pendekatan hibrida dengan proses menggabungkan daring dan luring—akan memperkuat rasa pengakuan dan motivasi, sekaligus menjaga kualitas.
Pada akhirnya, penguatan bahasa Inggris di madrasah bukan sekadar program. Ia adalah upaya membangunkan kesadaran kolektif.
Guru diajak melihat perannya sebagai agen perubahan global. Siswa diajak menyadari bahwa bahasa adalah bekal hidup.
Jika kesadaran itu tumbuh, madrasah tidak hanya melahirkan lulusan yang saleh secara spiritual, tetapi juga tangguh secara intelektual dan siap berdialog dengan dunia, tanpa kehilangan jati diri.Semangat anak-anak madrasah.**












