Mengulas Kisah Haru Rina Marlina, Berangkat ART Rp 150.000

Sang Hattrick Emas Asean Para Games Thailand 2025

foto ilustrasi

Jakarta – Di tengah riuh tepuk tangan yang menggema di SPADT 80th Anniversary Stadium, Januari 2026 itu terasa berbeda. Bukan sekadar kemenangan yang dirayakan, melainkan perjalanan panjang yang akhirnya menemukan puncaknya. Di atas lapangan, Rina Marlina berdiri tegak—dengan mata yang mungkin terlihat tenang, tetapi menyimpan kisah yang jauh dari kata mudah.

Dua game langsung, 21-5 dan 21-1, menutup laga final nomor tunggal putri SH6 di ajang ASEAN Para Games akhir tahun 2025 . Lawannya tak mampu membendung permainan Rina. Namun, sesungguhnya yang ia kalahkan bukan hanya atlet dari tuan rumah, melainkan masa lalu yang pernah membatasi mimpinya.

Waktu seolah berputar mundur ke tahun 2009. Saat banyak anak seusianya mulai mengejar cita-cita, Rina justru harus membantu ibunya bertahan hidup.

Dilansir situs resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Kamis (26/2/2026) Rini menceritakan pengalamannya menjadi asisten rumah tangga (ART).  Dengan upah yang bahkan hari ini terdengar nyaris tak masuk akal. Hanya dengan angka upah Rp150 ribu per bulan.

“Sejak bapak tidak ada, saya sama ibu kerja jadi ART,” kenangnya pelan, dengan senyum yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan getir.

Tak ada raket, tak ada sepatu khusus, apalagi fasilitas latihan. Namun mimpi tak pernah benar-benar membutuhkan kelengkapan.

Di sebuah Gedung Olahraga (GOR) kecil dekat rumahnya di Tasikmalaya Jawa Barat. Rina sering menjadi wasit demi uang jajan. Saat lapangan kosong, ia diam-diam mencoba bermain. Dengan apa? Bukan raket. Melainkan piring seng.

Bayangkan suara logam menggantikan dentingan senar raket profesional. Dari sanalah, mimpi itu mulai tumbuh secara pelan, tapi pasti.

Di sela keterbatasan, Rina menyimpan keyakinan sederhana yang terus ia pelihara dalam diam: suatu hari, ia akan berdiri di tengah lapangan, dikelilingi penonton yang menyaksikan permainannya.

BACA JUGA

Indonesia Melaju Ke Panggung All England Open Badminton Championships 2026

Mengulas Sejarah ; Mia Audina ‘Anak Ajaib’ Peraih 2 Medali Perak Olympiade Dunia

Mimpi itu bukan sekadar angan. Ia menjadikannya bahan bakar. Langkah kecil berubah menjadi prestasi. Medali emas di Peparda Bogor. Lalu emas di Kejurnas 2019. Hingga akhirnya, panggilan yang mengubah segalanya datang pelatnas. Sejak saat itu, dunia yang dulu hanya ia bayangkan perlahan menjadi nyata.

Namun, di balik semua pencapaian, ada satu sosok yang tak pernah absen dalam perjalanan Rina yakni ibunya. Dari perempuan sederhana itulah Rina belajar untuk tidak minder. Untuk tetap percaya, bahkan ketika dunia terasa sempit. Doa dan dukungan sang ibu menjadi kekuatan yang tak terlihat, tapi selalu terasa.

“Saya tidak menyangka bisa sampai ke sini,” ucap Rina, suaranya bergetar. “Bisa main di APG, bahkan sampai Paralimpiade bisa keliling dunia,”imbuhnya seraya mata berkaca-kaca sulit untuk membedakan antara haru dan pilu.

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi mereka yang memahami perjalanan seorang atlet, itu adalah puncak dari ribuan hari penuh pengorbanan.

Kemenangan di Thailand bukan hanya emas biasa. Itu adalah hattrick. Sebuah pencapaian yang menempatkan namanya dalam barisan salah satu atlet luar biasa Indonesia.

Namun, bagi Rina, medali itu bukan akhir. Ia masih bermimpi. Tentang tampil di Asian Para Games Jepang. Tentang berdiri di panggung Paralympic Games Los Angeles 2028. Tentang kembali mengibarkan Merah Putih di hadapan dunia.

Kisah Rina Marlina ini merupakan refleksi sejarah pengingat yang jujur.  Bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan. Dari piring seng hingga podium internasional, dari upah ratusan ribu hingga prestasi mendunia. Semuanya terjalin dalam satu benang merah yakni keteguhan hati.

Dan bisa jadi, suatu sudut Indonesia hari ini dan mendatang , ada anak lain atlit lain yang memegang mimpi dengan cara sederhana. Siapa tahu, mereka sedang menulis kisah emas berikutnya. Aamiin ya robbal alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *