JAKARTA – Meski Idul Fitri 1447 H masih terbilang kisaran 3 minggu lagi, namun dapat diprediksi laju kendaraan akan memadati di sepanjang jalan utama negeri ini saat arus mudik lebaran 2026 M.
Sehingga harus ada ruang yang disiapkan oleh pemerintah pusat Republik Indonesia beserta pemerintah daerah. Bukan hanya sekadar untuk berhenti melainkan untuk memulihkan kondisi tubuh dan istirahat para pemudik.
Presiden Republik Indonesia H Prabowo Subianto melalui Menteri Agama H Nasaruddin Umar menyampaikan, tahun 2026 ini Kementerian Agama menyiapkan 6.859 masjid di seluruh Indonesia sebagai tempat singgah gratis bagi para pemudik.
Inisiatif ini digagas oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam melalui program Ekspedisi Masjid Indonesia 2026. Yakni sebuah langkah yang menghidupkan kembali peran masjid sebagai ruang pelayanan publik.
“Program ini akan diterapkan sejak H-7 hingga H+7 Idul Fitri 1447 H. Selama kisaran waktu itu, masjid-masjid yang berada di jalur mudik harus dibuka 24 jam. Di sanalah para pemudik bisa berhenti sejenak melaksanakan sholat lima waktu dan ibadah lainnya. Juga merebahkan tubuh yang lelah, atau sekadar menenangkan pikiran sebelum kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju kampung halaman,”kata Menag, Senin (23/2/2026) saat pertemuan antara Kementerian Agama yang langsung dipimpinnya dengan Menteri Perhubungan langsung dipimpin Dudy Purwagandhi beserta perangkatnya di Jakarta.
Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda formal, melainkan bagian dari upaya merajut sinergi lintas kementerian demi memastikan perjalanan mudik yang aman dan nyaman bagi jutaan orang.
Di balik angka ribuan masjid itu, ada kerja senyap yang dilakukan dari pusat hingga daerah. Koordinasi menjangkau hingga tingkat Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan, memastikan setiap masjid siap menyambut para musafir dengan fasilitas yang layak.
Fasilitas yang disiapkan bukan sekadar formalitas. Ruang istirahat akan dibuka, toilet dijaga kebersihannya, air wudhu tersedia, bahkan diupayakan adanya ruang laktasi bagi ibu yang membutuhkan. Air minum, pengisian daya ponsel gratis, hingga area parkir aman tanpa biaya menjadi bagian dari layanan yang diharapkan hadir.
“Kita instruksikan dan koordinasikan dengan seluruh kemenag kanwil, kabupaten kota serta sampai ke tingkat kantor urusan agama (KUA) memastikan masjid yang berada di jalur mudik khususnya, harus di buka 24 jam,”tambahnya.
Bagi pemudik yang masih menjalankan ibadah di bulan Ramadan, kehadiran masjid menjadi semakin berarti. Takjil di waktu berbuka, serta minuman hangat di malam hari, diharapkan bisa menjadi penawar lelah bagi para pengemudi yang menempuh perjalanan jauh.
BACA JUGA
Gara-gara Turis Selandia Baru, Isu Pengeras Suara Masjid Kembali Mencuat
Pemerintah Indonesia Proyeksikan Masjid IKN Jadi Mediator Islam Asia Tenggara
Sebab di balik perjalanan mudik yang penuh haru, ada risiko yang tak bisa diabaikan: kelelahan. Jalur-jalur padat seperti Pantura, Trans Jawa, hingga Trans Sumatra kerap menjadi saksi bagaimana kantuk sejenak bisa berujung petaka. Dalam konteks inilah, masjid mengambil peran yang lebih luas. Bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang perlindungan.
“Bila kondisi lelah beristirahlah di masjid. Dan lindungi nyawa dan tubuh agar kembali fit. Jangan sampai ada menelan korban jiwa,”kata Menag seraya menyebut untuk memudahkan akses, masjid-masjid yang terlibat akan diberi penanda khusus di jalur utama. Sebuah tanda sederhana bahwa di tengah perjalanan panjang, selalu ada tempat untuk berhenti tanpa rasa khawatir.
“Adanya program ini, dapat meniru kebijaksanaan masjid di zaman nabi, masjid juga menerima tamu baik muslim dan non muslim, jangan ada diskriminasi. Masjid harus jadi rumah besar kemanusiaan, dan sebagai strategi yang membantu kesuksesan manajemen mudik Lebaran,” pungkas Menag.
Gagasan ini sekaligus mengingatkan pada fungsi masjid di masa awal Islam yakni sebagai tempat menerima siapa saja, tanpa memandang latar belakang. Sebuah rumah besar kemanusiaan, yang pintunya selalu terbuka.
Sementara itu, dari sisi transportasi, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perhubungan memperkirakan akan ada sekitar 143 juta orang akan melakukan perjalanan mudik tahun 2026.
Angka yang besar, sekaligus tantangan yang tidak kecil. Karena itu, sinergi data dan kesiapan lapangan antara kementerian menjadi kunci agar program ini tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya.
Di tengah hiruk pikuk mudik, mungkin yang paling dibutuhkan bukan sekadar kecepatan sampai tujuan, tetapi ruang untuk berhenti. Dan tahun 2026 ini, ribuan masjid harus bersiap menjadi tempat di mana perjalanan menemukan tempat yang sejuk dan menyenangkan.**












