Jakarta – Lanskap industri smartphone pada 2026 mengalami pergeseran yang signifikan.
Jika beberapa tahun lalu RAM 8GB masih diasosiasikan dengan perangkat kelas menengah atas, kini kapasitas tersebut mulai menjadi standar baru bahkan di segmen harga terjangkau.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan didorong oleh transformasi perilaku pengguna, perkembangan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya kebutuhan multitasking.
Dalam rentang harga Rp3–6 jutaan, konsumen Indonesia kini dapat menemukan berbagai pilihan smartphone dengan RAM 8GB hingga 12GB.
Kombinasi tersebut sebelumnya hanya tersedia di kelas flagship.
Fenomena ini menandakan bahwa persaingan tidak lagi semata soal desain atau resolusi kamera, melainkan tentang bagaimana produsen menghadirkan performa optimal dengan harga yang tetap rasional.
Multitasking dan AI Jadi Pendorong Utama
Ekosistem digital 2026 menuntut perangkat yang mampu bekerja lebih keras.
Aplikasi media sosial kini terintegrasi dengan fitur AI generatif, pengolahan video instan, hingga live streaming resolusi tinggi.
Pengguna juga semakin sering menjalankan beberapa aplikasi sekaligus—mulai dari platform pesan instan, marketplace, hingga aplikasi editing konten.
Kapasitas RAM besar menjadi fondasi penting untuk memastikan kelancaran proses tersebut.
RAM 8GB kini dianggap sebagai “baseline” agar perangkat tidak mudah lag saat berpindah aplikasi.
Sementara itu, konfigurasi 12GB memberi ruang lebih luas untuk gaming berat dan aktivitas kreatif.
: Strategi Agresif di Mid-Range
Salah satu pemain yang paling agresif memanfaatkan tren ini adalah Infinix.
Melalui seri Infinix Note 60 Pro, perusahaan menghadirkan opsi RAM 8GB dan 12GB yang dipadukan dengan chipset Snapdragon 7s Gen 4 serta layar AMOLED 144Hz.
Dengan baterai 6.500 mAh dan pengisian cepat 90W, perangkat ini menawarkan spesifikasi yang biasanya ditemukan pada segmen harga lebih tinggi.
Di kisaran Rp3,5–5 jutaan, Infinix membidik konsumen muda dan pengguna aktif media sosial yang membutuhkan stabilitas multitasking tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Strategi ini memperkuat posisi brand sebagai disruptor di kelas menengah.
: RAM Besar dan Kamera Stabil
Sementara itu, Tecno Camon 50 Pro menjadi contoh bagaimana RAM besar dipadukan dengan diferensiasi kamera.
Dengan RAM hingga 12GB dan kamera utama 50MP yang telah dilengkapi Optical Image Stabilization (OIS), perangkat ini menargetkan kreator konten dan pengguna yang mengutamakan kualitas visual.
Di rentang Rp3,5–5 jutaan, fitur OIS masih belum sepenuhnya menjadi standar.
Tecno memanfaatkan celah tersebut untuk menonjolkan keunggulan fotografi dan video stabil, sekaligus tetap mempertahankan layar AMOLED 120Hz dan baterai besar.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa persaingan kini tidak hanya soal angka RAM, tetapi bagaimana fitur tersebut diintegrasikan dengan kebutuhan pengguna.
: Value Performance untuk Gaming
Di sisi lain, POCO X Pro Max tetap konsisten dengan DNA “value performance”.
Dengan RAM 8GB hingga 12GB serta layar 120Hz, perangkat ini menyasar gamer dan pengguna yang membutuhkan performa mentah tinggi.
Dengan harga Rp4,5–6 jutaan, POCO bersaing langsung dengan lini mid-range dari berbagai brand besar.
Keunggulan utamanya terletak pada optimalisasi chipset dan sistem pendingin, yang memungkinkan pengalaman gaming stabil dalam durasi panjang.
Strategi ini menunjukkan bahwa RAM besar harus didukung manajemen performa yang matang.
: Kekuatan Brand dan Stabilitas Software
Berbeda dengan pendekatan agresif brand Tiongkok, Samsung Galaxy A37 mengedepankan stabilitas dan dukungan pembaruan jangka panjang.
Opsi RAM 8GB dan 12GB hadir dengan layar Super AMOLED 120Hz, namun harga sedikit lebih tinggi dibanding beberapa kompetitor.
Di pasar Indonesia, faktor brand equity masih menjadi penentu keputusan pembelian.
Dukungan update sistem operasi yang konsisten serta jaringan layanan purna jual luas membuat Samsung tetap relevan di segmen menengah.
Dalam konteks ini, RAM besar menjadi pelengkap dari reputasi yang telah terbangun.
: Diferensiasi Melalui AI
Sementara itu, Google Pixel 10a hadir dengan RAM 8GB dan chipset Tensor G4.
Dengan harga global sekitar US$499, perangkat ini memang berada sedikit di atas rentang harga agresif Rp3–6 jutaan.
Namun kekuatan utama Pixel terletak pada integrasi AI dan dukungan pembaruan Android langsung dari Google.
Fotografi komputasional, fitur keamanan, serta pengalaman Android murni menjadi nilai jual yang sulit disaingi.
Bagi segmen pengguna yang mengutamakan ekosistem software dan keamanan data, spesifikasi mentah bukan satu-satunya faktor penentu.
Pergeseran Strategi Industri
Tahun 2026 memperlihatkan bahwa kapasitas RAM besar bukan lagi simbol eksklusivitas flagship.
Dengan harga yang semakin kompetitif, konsumen memperoleh lebih banyak nilai dalam satu perangkat.
Produsen pun berlomba menekan biaya produksi tanpa mengorbankan performa inti.
Strategi industri kini bergeser dari sekadar adu kamera megapiksel tinggi atau desain premium, menuju optimalisasi multitasking dan efisiensi daya.
RAM 8GB menjadi standar minimum baru, sementara 12GB menjadi daya tarik tambahan untuk pengguna power user.
Bagi konsumen Indonesia, kondisi ini menciptakan momentum ideal untuk upgrade perangkat.
Pilihan semakin beragam, fitur semakin kaya, dan harga relatif terkendali.
Pada akhirnya, 2026 bukan sekadar tentang angka RAM yang membesar, melainkan tentang demokratisasi performa—di mana teknologi yang dulu eksklusif kini dapat dinikmati lebih luas.
**












