REFLEKSI SEBUAH PERJALANAN (Bagian 1)

Oleh : Prof. Dr. Dudi Iskandar, S.Ag, M.I.Kom

foto ilustrasi

Me-RESET- Kehidupan; Kembali ke Kampus
Akhir Agustus 2010. Waktu setelah maghrib. Di bilangan Tebet Timur Dalam, Jakarta Selatan. Pada sebuah ruangan berukuran 5 x3 meter persegi. Dua orang duduk berhadapan.

“Saya mau mundur dari beritasatu.com. Saya mau berhenti jadi wartawan. Saya mau melanjutkan sekolah. S2 komunikasi,” kata pria berkacamata dan berumur 38 tahun. “Nanti utang saya Rp3,8 juta saya bayar secara mencicil. Rp1 juta rupiah per bulan.”

“Kamu sudah berpikir panjang untuk resign? Coba dipikirkan ulang. Kamu sekarang pulang dulu saja. Pikirkan di rumah secara matang,” kata pria berambut gondrong yang ada dihadapannya. “Kalau persoalan uang, saya anggap tidak ada. Kamu jangan pikirkan lagi.”

“Sudah. Sudah saya pikirkan secara matang; dipikirkan berulang kali; baik dan buruknya. Saya sudah bulat untuk kuliah. Tidak jadi wartawan lagi. Kalau menulis akan terus saya lakukan.”

“Ya, kalau sudah tidak bisa ditahan lagi, apa boleh buat. Semoga kamu lancar kuliahnya,” kata Ulin Niam Yusron, yang menjadi pemimpin redaksi beritasatu.com (awal).

Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM)

Orasi Ilmiah ; JURNALISME PLASTIK (PLASTIC JOURNALISM) (Bagian 2)

Setelah berkemas dan berpamitan ke teman-teman wartawan lain, saya pulang.  Di kepala berkecamuk berjuta pikiran; imajinasi liar; kekhawatiran; ketakutan; kekalutan; ketidakpastiaan.

Tetapi ada satu yang pasti: keinginan melanjutkan sekolah tidak bisa ditunda lagi. Apapun yang terjadi, saya harus sekolah lagi! Titik.

Sampai di rumah, keputusan resign dikemukakan ke istri. Sebelumnya saya berdiskusi panjang dengan istri untuk melanjutkan sekolah dan meninggalkan dunia wartawan yang sudah digeluti sejak 2001 di Media Indonesia. Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap tentu keputusan berisiko.

Apalagi saat itu kami sudah memiliki dua putri, masing-masing berusia 4 dan 2,5 tahun. Yang sulung sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak. Yang lebih berat lagi, saya memiliki cicilan di dua bank.

September awal 2010, saya resmi menjadi mahasiswa magister ilmu komunikasi. Bersama puluhan teman lainnya, saya kembali ke kampus di usia yang tidak lagi muda.

Usia yang seharusnya produktif bekerja di sebuah kantor bergengsi; menjadi eksekutif kantoran. Usia yang sepantasnya menuju kemapanan uang, karier, dan masa depan. Saya me-RESET hidup pada usia 38 tahun.

Sebuah keputusan yang berani; teramat berani!Wallahu ‘alam bishowab. Tabik!**


Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi (Massa) Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *