Hari itu Selasa, 14 Oktober 2025. Waktu baru menunjukkan pukul 10.30 wib. Di sebuah ruangan program doktoral Universitas Budi Luhur sedang berlangsung monitoring dan evaluasi penerima hibah penelitian dan pengabdian masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Sebagai salah seorang penerima hibah penelitian, saya mempersentasikan semua proses penelitian, laporan kemajuan, penggunaan anggaran sampai pada luaran hasil penelitian. Selesai presentasi dan tanya jawab, saya kembali duduk di tempat semula.
Karena tugas utama sudah selesai, saya membuka laman http://www.sister.kemdiktisaintek.go.id/www.sister.kemdiktisaintek.go.id. Setelah login, langsung bagian menuju jenjang kenaikan karier. Begitu diklik tertera tulisan “Selamat atas Kenaikan Jabatan Anda.” Membaca itu semua rasa bercampur aduk. Beberapa teman yang duduk di samping memberi ucapan selamat. Saya langsung keluar ruangan menuju gedung SDM menemui Mas Uno, operator sister Universitas Budi Luhur. “Terima kasih, Mas,” kata saya berkaca-kaca. “Selamat, Bapak,” balas Mas Uno.
Setelah itu saya langsung mengirimkan pesan melalui Whatsapp ke keluarga, Ketua Harian Yayasan Budi Luhur Chakti Pak Kasih Anggoro, dan Pak Rektor Prof. Agus Setyo Budi. “Terima kasih atas segalanya,” pesan Whatsapp saya kepada mereka berdua. “Pak Dudi,… selamat atas pencapaian GB-nya. Semoga semua perjuangannya selama ini terus menjadi yang terbaik.
Sekali lagi selamat,” balas Pak Aang. “Siap,” balas Pak Rektor singkat, padat, dan jelas.
Mata ini masih berkaca-kaca. Saya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Saya menuju musola di unit 7 untuk sujud syukur. Saya kirim Whatsapp ke keluarga di Bandung dan Cimahi. Kemudian teman-teman menjabat tangan seraya mengucapkan selamat atas pencapaiannya. Setelah salat dhuhur berjamaah di musola kampus saya pulang cepat. Saya ingin mengabari keberhasilan ini kepada istri yang setia menunggu di rumah. Sesampainya di rumah, motor Honda Beat saya standarkan di depan rumah. Pintu dibukakan istri. Kami berpelukan….
***
BACA JUGA
Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 9) ; Proses Menuju Puncak
Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 8) ; Disertasi dan Scopus-Scopusan
Guru besar bukan sesuatu yang turun dari langit; ia berada dalam ruang dan waktu tertentu; dalam konteks sosial tertentu. Pun, guru besar bukan wahyu yang turun dari langit. Ia diperjuangan untuk mendapatkannya dan memperjuangkan nilai-nilai tertentu. Guru besar bukan keadaan yang statis; selamanya ada dan disandang.
Menjadi guru besar bukan berarti vacuum berkarya. Justeru sebaliknya. Berkarya itu bukan karena guru besar; berkarya adalah transformasi ilmu pengetahuan; wahana pertukaran makna; membentuk kultur masyarakat; membangun struktul ilmu pengetahuan yang tidak pernah selesai.
Oleh sebab itu, saya adalah Dudi Iskandar, sebagaimana adanya Dudi Iskandar yang Anda kenal. Dudi Iskandar mafhumnya seorang tetangga, kerabat, dan sahabat Anda; Dudi Iskandar seorang dosen yang secara kebetulan memiliki jabatan fungsional guru besar. Sebagai mana jabatan yang temporer, jabatan guru besar pun akan saya tinggalkan, suatu saat. Jabatan fungsional guru besar akan lepas dengan sendiri, tanpa paksaan, ketika persyaratan sudah tidak memenuhinya lagi. Maka, panggilah saya Dudi Iskandar, bukan gelarnya; tanpa tambahan gelar. Titik!
Guru besar adalah jabatan yang tidak akan dibawa mati; tidak akan ditulis di nisan pemakaman; pun, tidak akan menyelamatkan di alam kubur (bagi yang menyakininya) kalau tidak berasal dari yang benar memperolehnya; memenuhi kewajiban bagi yang menyandang jabatannya.
Guru besar tidak akan menyelamatkan dari siksa neraka dan mengantarkan ke syurga kecuali seperti yang diungkapkan di atas. Sebab gelar tertinggi yang akan (pasti) disandang semua manusia adalah almarhum/almarhumah.
Kita harus akui, (dalam beberapa segmen kehidupan ini) guru besar atau profesor (sengaja saya sebutkan profesor dalam konteks ini sebagai penanda retoris) adalah “berhala” baru. Orang memperolehnya dengan beragam cara, termasuk menghalalkan segala cara; menginjak ke bawah, menjilat ke atas; sikut kanan kiri; saling sikat saling sikut sehingga banyak yang sakit; rela membayar mahal.
Guru besar dijadikan mistis. Semua orang dipaksa harus menyembahnya.
Kita harus berani mengatakan guru besar (profesor) adalah titik awal melangkah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, negara, dan masyarakat; guru besar (profesor) merupakan momentum menjadi pribadi yang lebih baik; lebih bermanfaat; lebih berdampak. Wallahu ‘alam bil murodihi. Tabik!
Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi (Massa) Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta












