Waktu menunjukkan pukul 22.00 wib. Awal Maret 2010. Di sebuah jalan besar pusat Ibu Kota. Ruangan lantai dua itu mulai sepi. Sebagian besar sudah pulang. Pekerjaan mereka sudah selesai. Hanya tinggal beberapa orang saja yang asyik membaca koran, mengobrol, dan memainkan telepon selular.
Seorang pria berusia 38 tahun bersiap kembali ke rumahnya di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Pria berkacamata itu sedang membereskan perangkat kerjanya (laptop, mouse), ketika sebuah suara memanggilnya.
“Dud, ke sini. Masuk ke ruangan saya,” kata pria yang menjabat pemimpin redaksi Koran Jakarta itu. Tanpa menaruh curiga dan memiliki perasaan apa-apa, saya masuk ke ruangan yang kira-kira berukuran 4×4 meter persegi itu. Ruangan itu sangat dingin.
Mungkin AC-nya memancarkan udara yang sangat dingin. Di ruangan itu sudah ada seorang teman bernama Hasbunal Arief. Dia duduk di kursi berjaket kesayangannya, berwarna biru.
“Duduk di situ, Dud?” kata pria bernama Selamet Mathin Susanto, yang menjadi pemimpin redaksi Koran Jakarta.
Baru saja pantat ini sempurna duduk di kursi samping Hasbunal, Slamet langsung berbicara. “MULAI MALAM INI KAMU DIBERHENTIKAN SEBAGAI WARTAWAN KORAN JAKARTA.”
Jegerrrrrrrr…(basa Sunda). Bahasa Indonesianya, dhuarrrrrr. Sebuah idiom metafora untuk menggambarkan besarnya suara dan efek yang ditimbulkannya.
Kaget; bingung; terkejut; marah bercampur beragam rasa yang membuat saya tidak bisa bicara barang sedikitpun. Mulut melongo; hati panas; kepala pusing; dada emosi dan sebagainya.
Ruangan yang tadinya sangat dingin dan nyaman berubah panas dan teu puguh rasanya (ngak jelas rasanya). Mendengar kabar pemecatan itu Asa Kabentar Gelap Tengah Poe Ereng-Erengan (Seperti Terkena Petir di Saat Terik Panas Matahari). Teu gugur, teu angin (tidak jelas asal usulnya; tidak ada indikasi apapun).
“Semua perangkat kerja kamu tinggalkan di kantor. Tidak perlu dibawa,” kata Selamet melanjutkan di tengah ketidakpercayaan.
“Apa dosa saya? Apa kesalahan saya? Apa khilaf saya? Sehingga saya dipecat?”
“Tidak ada. Kamu diberhentikan bersama empat orang lainnya,” kata Selamet.
REFLEKSI SEBUAH PERJALANAN (Bagian 1)
Selain Hasbunal, ada (alm) Rusdi Mathari, Nurcholish M. Basyari dan satu orang lagi saya lupa yang dipecat malam itu. Saya melirik jam di dinding ruangan Selamet pukul 22.30 wib lebih.
Ngobrol menjadi empat orang setelah Selamet memanggil masuk redaktur eksekutif (alm) Adi Murtoyo ke ruangan.
Perbincangan tidak menemukan titik temu karena Selamet dan Adi Murtoyo hanya bilang. “Ini keputusan kantor. Tidak ada alasan apapun.”
Selamet dan Adi Murtoyo tidak ngomong apapun dan selalu bilang “Ini keputusan kantor. Tidak ada alasan apapun,” ketika saya dan Hasbunal puluhan kali bertanya. Obrolan selesai. Saya dipecat dari Koran Jakarta pukul 23.00 wib lebih tanpa alasan apapun kecuali “Ini keputusan kantor. Tidak ada alasan apapun.”
Keluar dari ruangan Selamet, pikiran kosong; dada berkecamuk; air mata mulai keluar. Beberapa orang yang masih ada di ruangan tengah kantor menatap kami berdua dengan miliaran tanda tanya. Saya langsung turun ke lantai dasar.
Duduk di depan kantor kemudian menyalakan sebatang rokok Sampoerna Mild. Kelepus…kelepus…hasep rokok kaluar tina sungut. (Asap rokok keluar dari mulut). Ngak jelas enak dan tidaknya. Hampa…
Selesai merokok, saya pamitan ke Hasbunal yang ada di samping. “Has, saya duluan,” kata saya hambar sambil berjabat tangan dengan Hasbunal yang pasti memiliki perasaan yang sama.
Motor Honda Supra Fit tahun 2004 saya pacu di tengah malam “jahannam.” Tidak ada ingatan apapun selain menangisi nasib anak dan istri di rumah. Sampai di rumah lebih tengah malam.
Seperti biasa anak dan istri sudah terlelap tidur. Motor saya masukan ke rumah. Saya masuk ke kamar memandang kedua anak dan istri saya. Tak terasa air mata kembali keluar dan mengalir di pipi.
“Eh..Ayah sudah pulang,” kata istri yang tiba-tiba terbangun. “Kenapa menangis?” tanya istri terheran-heran.
Saya pegang tangan istri dengan kuat. Saya ajak ke kamar sebelah. Saya peluk dengan sangat erat. Setelah lampu listrik dinyalakan, kami duduk berdampingan di pinggir tempat tidur.
“Ayah dipecat dari Koran Jakarta,” kata saya pelan sambil melepaskan pelukan sambil menatap wajah istri yang polos terbengong-bengong; kebingungan.
“Kenapa dipecat?” tanya istri yang mulai meneteskan airmata.
“Ini keputusan kantor. Tidak ada alasan apapun,” kata saya meniru ucapan Selamet yang berulang kali.
Suasana kamar hening. Kami berpelukan erat. Dan semakin erat.
Menangis bersama… Wallahu ‘alam bishowab. Tabik!
Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi Massa Fakultas Komunikasi dan Desian Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta











