Kuliah magister, mempunyai istri dan dua anak kecil, serta memiliki dua cicilan di bank, di satu sisi, dan tidak memiliki pekerjaan tetap, pada sisi lainnya, adalah salah satu episode yang pernah terlewati dalam hidup ini.
Fase kehidupan yang “ajaib” bisa dilalui; kalau bukan karena “mukzizat” rentang ini tidak mungkin selamat. Masyarakat (atau kita) sering menyebutkan dengan “karena agama/Allah;” sebuah sebutan pendekatan kehidupan teologis yang “dianggap benar.” Entahlah…
Inilah salah satu dari tiga potongan kemiskinan yang pernah dilewati sepanjang hayat hingga kini. Rentang waktu 2010-2014. Saya terpaksa harus menjual sawah. Padahal sawah itu adalah aset yang memiliki nilai historis tak terhingga.
Sawah itu saya beli dari ua dan paman saya ketika membagi warisan kakek-nenek. Jalan lain mengatasi kemiskinan adalah kembali ke habitat Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang ditinggalkan sejak menjadi wartawan Media Indonesia dan Koran Jakarta.
Kembali ke KAHMI (jalan Turi, Jakarta Selatan) untuk menyambungkan tali silaturahmi kembali sekaligus menemukan networking lama. Dari sini pintu rezeki terbuka meski tidak tetap tetapi ada. Cukup untuk menyelesaikan sekolah magister.
Tentu saja pada tahap ini saya kerja serabutan. Selama halal dikerjakan; dijambanin. Mulai menjadi staf dari staf ahli di kementerian, menulis artikel di media massa, menyusun buku, mengadakan pelatihan jurnalisme dan manajemen, membantu mengumpulkan data untuk disertasi.
Hasilnya tidak tentu. Terkadang mengecewakan. Ada juga mendapat bayaran dolar Amerika; Ada dapat gepokan uang, pun sering cap tengkyu. Berangkat subuh dan pulang dinihari adalah kerapkali dilalui. Semuanya dijalani demi kelangsungan kehidupan keluarga. Ini seiring dengan lagu Pance Pondaag “Demi kau dan si buah hati, terpaksa aku lakukan…”
Sesungguhnya fase hidup miskin diawali ketika usia muda, dalam kurun 1980-1991 di kota kelahiran. Alhamdulillah bisa menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama berkat jasa baik teman Bapak saya, H. Udin Syarifuddin di Cicalengka.
Melanjutkan ke pesantren Al Muayyad di Solo dibiayai Mang Ujang (adik Ibu yang bekerja di PT Batik Ketis dan Liris). Kembali ke Bandung sampai selesai kuliah di Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati berkat beasiswa Supersemar dan Gudang Garam.
Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 3) ; Dari Sinikah Bermula? Kesalahan atau Berkah Tertunda?
Saking miskinnya keluarga kami, Bapak terpaksa menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Bapak tiga kali bolak-balik menjadi TKI sejak 1985 hingga 1998. Sedangkan Ibu menjadi tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia sejak 1993-2000. “Ibu, piraku makan teh kangkung deui kangkung deui,”ujar salah satu adikku ketika setiap kali sayur yang tersedia di rumah adalah kangkung.
Kangkung yang ada bukan dari membeli tetapi kangkung liar yang Ibu kami ambil di sawah belakang rumah.“Bray berang teh ripuh jeung ripuh we. Kokotetengan neangan anjukeun sangkan barudak dahar.” Ketika siang hidup susah dan susah. Keliling mencari pinjaman agar anak bisa makan. Bapak dan Ibu kami memiliki delapan anak. Enam laki-laki dan dua perempuan.
Episode kemiskinan yang lain harus dilalui 1999-2001 ketika awal di Ibu Kota, tepatnya di jalan Muria 40 dan Putri Dalam, Pasar Manggis, Jakarta Selatan.
Hidup hanya mengandalkan honor dari artikel/tulisan yang dimuat di media massa. Artikel di muat berarti punya uang untuk makan; tidak ada ada tulisan yang terbit berarti puasa.
“Kalau saya, nasi dan kurupuk seperti itu, saya buang,” celetuk salah seorang teman ketika melihat saya makan dengan nasi serta lauk miskinnya.Tidak perlu dihitung saya makan dua hari sekali.
Bahkan hanya minum air putih. Korek-korek tong sampah barang kali ada makanan tersisa. Merokok, cukup puntung yang saya pungut dari asbak. “Mas Dudi, mulai minggu depan, warung kami mau pindah ke Bekasi. Bagaimana dengan utang Mas Dudi? Kapan mau bayar?” kata ibu warteg langganan makan saya di Pasar Manggis.
Saya terdiam; hanya bisa menunduk. Tidak bisa menjawab. Saya tidak tahu kapan bisa membayar utang bekas makan. “Bu, ini nomor telepon kontrakan saya. Insya Allah saya di sini sampai 2001,” kata saya kepada ibu warteg.
Satu bulan setelah ibu warteg pindah ke Bekasi, saya diterima menjadi wartawan Media Indonesia. Beberapa bulan kemudian saya bisa membayar utang tersebut ketika ada anak ibu warteg datang menagih ke kontrakan.
Mengalami tiga fase kemiskinan di atas, akhirnya, falsafah Mang Eman (anak dari kakak Ibu) adalah benar adanya. “Aing mah Miskin ti Baheula, Sangsara, Eukeur. Naon anu Dihariwangkeun. (Saya ini Miskin dari Dulu, Sengsara sedang Dijalani. Apa yang dikhawatirkan).
Makanya saya sering berkata kepada dua puteri saya, Salsabila (Anfang) Mahadewi dan Salsabila (Alfa) Mahaputeri. Miskin dan kaya itu keadaan. Sederhana adalah sikap hidup. Wallahu ‘alam bishowab.Tabik!
Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi Massa Fakultas Komunikasi dan Desian Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta











