Sambil kuliah magister ilmu komunikasi di Universitas Mercu Buana, Jakarta, pada 2010-2012, saya menjadi staf dari staf ahli Menpora bidang olahraga, Ivana Lie. Saya bisa menjadi staf dari staf ahli Menpora berkat bantuan teman baik di IAIN Bandung dan di HMI, Iim Rohimah.
Kebetulan Iim menjadi sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng. Karena saya memiliki darah wartawan beberapa kali saya diminta membantu mengisi situs kemenpora.go.id, khususnya jika ada event olahraga besar.
Seingat saya dua kali diminta liputan oleh pemimpin redaksi kemenpora.go.id, yaitu ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Timur dan SEA Games Jakarta-Palembang.
Selama di Kemenpora saya berhasil menulis tiga buah buku. Saya kerjakan buku-buku tersebut bareng teman yang menjadi ASN di Kemenpora, Dwi Agus Susilo.
Saya pun pernah diminta mengelola majalah untuk Pekan Olahraga dan Seni Santri Seluruh Indonesia (Pospenas).
Memasuki 2012 belum juga ada perubahan dalam urusan pekerjaan. Masih sebatas insidental; pekerjaan pendekatan proyek. Ada tawaran pekerjaan tetap tetapi gajinya jauh dari cukup.
Ratusan lamaran dengan modal ijasah magister komunikasi disebar ke seantero Nusantara. Namun, belum juga ada yang nyangkut. Karena itu pekerjaan banting tulang dengan modal ijasah strata dua terus dilakukan. Yang penting dapur ngebul. Berkecukupan untuk biaya anak-anak sekolah.
Penasaran karena tidak ada juga panggilan dari berbagai kampus yang disodori lamaran kerja, iseng-iseng saya menemui kawan yang dititipi lamaran ke Fakultas Ilmu Komunikasi Budi Luhur. Alhamdulillah dapat jawaban. Saya diminta datang dan menemui Ibu Rini Lestari.
Siang itu di awal Januari 2013, saya menginjakkan kaki di kampus Universitas Budi Luhur. Beberapa tahun lalu ketika menjadi wartawan desk humaniora di Media Indonesia, saya beberapa kali disuruh redaktur memenuhi undangan liputan di kampus biru ini.
Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 3) ; Dari Sinikah Bermula? Kesalahan atau Berkah Tertunda?
Saya masih ingat ruangan dan gedung tempat para wartawan yang diundang berkumpul dan menerima penjelasan dari petinggi kampus dalam konferensi pers tentang Universitas Budi Luhur. Sekarang menjadi ruangan Drs. Djaetun HS yang suka dipakai kegitan mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISIG). Ia berada di unit 3 lantai dasar.
Saya pun masih ingat contact person bagian humas yang tertera dalam surat undangan liputan tersebut. Namanya (alm) Linda Islami. Seperti mafhumnya humas zaman dahulu, pasti suka memberikan kartu nama kepada semua wartawan yang diundang. Seingat saya begitu juga yang dilakukan Ibu Linda.
Ia memberikan kartu nama dalam beberapa kali kesempatan saya bertemu. Sayangnya kartu nama Ibu Linda hilang entah kemana. Tampaknya puluhan kartu nama dan beberapa dokumen lain yang dianggap kurang dibutuhkan hilang atau dibuang ketika saya pindah rumah.
Menjelang siang, saya bertemu Ibu Rini Lestari di unit 8 lantai 2 yang menjadi sekretariat Fakultas Ilmu Komunikasi. Singkat cerita, lamaran saya diterima. Saya diminta mengajar di kelas eksekutif pada malam hari.
Saya memegang mata kuliah Ekonomi Politik Media. Semester-semester selanjutnya saya mulai mengajar di kelas reguler meski masih sebagai dosen honorer. Saya mulai menjadi pembimbing Kuliah Kerja Praktik (KKP). Pun, ikut membimbing dan menguji skripsi. Meski sudah mengajar secara reguler di Universitas Budi Luhur, tetapi keuangan belum juga stabil. Bingung dan bimbang: apakah terus menjadi dosen atau mencari pekerjaan lain? Mau melanjutkan S3 terkendala biaya.
Di tengah kebingungan dan kebimbangan, tiba-tiba telepon berdering. Ternyata panggilan dari teman lama yang berada di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Ngimadudin. Dia sudah menjadi dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIS) Bumi Silampari. Dari obrolan saya diminta ke Lubuklinggau.
Ngimadudin akan meminta kepada ketua yayasan Bumi Silampari untuk menarik saya sebagai dosen tetap di STAIS Bumi Silampari. Kalau permintaan Ngimadudin dikabulkan, saya diminta segera pindah ke Lubuklinggau. Saya sudah obrolkan dengan istri tentang rencana ini. Istri setuju. Rumah sudah saya tawar-tawarkan. Pokoknya semua persiapan hijrah ke negeri seberang dilakukan.
Namun, takdir berkata lain. Pemohonan Ngimadudin kepada ketua yayasan Bumi Silampari untuk menjadikan saya sebagai dosen tetap ditolak. Mungkin kalau permohonan Ngimadudin diterima, alur, dan cerita hidup saya berbeda dari saat ini. Wallahu’alam bishowab. Tabik!
Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi (Massa) Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta











