Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 6) ; Cinta dalam Sepotong Roti Bakar dan Sebotol Teh Manis

Oleh : Prof. Dr. Dudi Iskandar, S.Ag, M.I.Kom

foto ilustrasi

Waktu menunjukkan pukul 03.00 wib menjelang subuh. Ketika mayoritas orang masih terlelap dengan mimpi indahnya, seorang pria berusia 43 tahun sudah siap berangkat menuju Bandung. Kotak makan berisi sepotong roti bakar dimasukin ke tas rangselnya yang berwarna hitam.

Tak ketinggalan pula teh manis di botol bekas air mineral dibawanya. Dua bekal itu senantiasa disiapkan oleh sang istri yang telah bangun sejak pukul 02.00 wib. Tak lupa dua setel baju dan celana untuk ganti selama di Bandung, ada dalam tas ransel kesayangannya tersebut.

Semua sudah siap. Tidak ada yang tertinggal. Kemudian, ia mengeluarkan motor Honda Beat dari rumahnya di bilangan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Ketika kedua anaknya masih terlelap, ia pamit ke istrinya.

Mengenakan helm yang rapat dan jaket tebal untuk menahan dinginnya udara subuh, motor dinyalakan dan berangkat menembus jalanan Ibu Kota yang masih lenggang.

Arah motor pria berkacamata minus tiga itu adalah perempatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, tempat penitipan motor. Motor dititipkan selama 24 jam lebih. Besok sore motor diambil kembali untuk dipakai pulang ke rumah.

BACA JUGA

Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 5) ; Berlabuh di Kampus Biru

Refleksi Sebuah Perjalanan (Bagian 4) ; Aing mah Miskin ti Baheula, Sangsara, Eukeur (Saya ini Miskin dari Dulu, Sengsara sedang Dijalani)

Dari Pondok Aren mengambil jalan H. Mencong yang tembus ke jalan Cileduk Raya hingga terus ke Kebayoran Baru/Lama. Lurus terus sampai ke jalan Suryo dan Kapten Tendean. Karena masih menjelang subuh, jalanan Jakarta relatif masih sepi.

Terbalik jika sudah matahari terbit. Masuk jalan MT Haryono berbelok di bawah jembatan tol dalam kota ke jalan Dewi Sartika, Cililitan. Masuk jalan Kramat Jati dan sampai di Pasar Rebo. Jarak Pondok Aren-Pasar Rebo ditempuh sekitar satu jam. Kadang kurang. Bisa juga lebih. Tergantung jalanan yang suka dipakai pedagang seperti di Kebayoran Baru dan Kramat Jati.

Sebenarnya ada jalan yang relatif cepat ke Pasar Rebo dari Pondok Aren, yaitu, melalui Bintaro, Pondok Pinang, dan jalan TB Simatupang, pinggir tol JORR, tetapi pria tersebut tidak mau berspekulasi; mengambil risiko.

Sebab kejahatan terhadap pengendara motor di jalanan yang sepi kerap terjadi di Ibu Kota. Oleh sebab itu, pilihan naik motor melalui tengah kota adalah yang paling rasional dan minim risiko menjadi korban kejahatan.

Untuk solat subuh, pria itu menjalani di berberapa mesjid yang ada di sepanjang perjalanan atau bahkan di musola pom bensin yang terlewati. Tak jarang solat di bis Primajasa jika waktu subuh agak siang.

Yang penting kewajiban menjalankan salat tidak terabaikan. Selama satu tahun, perjalanan Jakarta-Bandung dengan situasi dan kondisi di atas dijalani; selama itu juga kotak makan berisi sepotong roti bakar dan teh manis di botol bekas air mineral ada di tas ransel hitamnya.

Saya mulai kuliah program doktoral di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, September 2015. Selama kuliah saya berada di dua kelas berbeda. Yaitu, kelas Jumat-Sabtu dan Senin-Selasa. Saya menyelesaikan kuliah kurang dari lima semester, tepatnya dua tahun empat bulan. Saya melaksanakan sidang tertutup disertasi pada 15 November 2017.

Sedangkan ujian terbuka/sidang terbuka (sidang promosi), 15 Desember 2017. Wisuda dikampus Dipati Ukur, Bandung, 9 Februari 2018. Alhamdulillah bisa menggapai yudisium cum laude (dengan pujian).

Saya menempuh studi doktoral di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dengan biaya dari beasiswa BPPDN (Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri) tahun terakhir.

Karena pada tahun berikutnya nama beasiswa tersebut diganti dengan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI). Selain mendapat beasiswa pendidikan untuk SPP setiap semester, biaya hidup, buku, dan penelitian, saya juga bersyukur mendapat hibah penelitian disertasi doktor dari Dikti untuk menyelesaikan disertasi.

Jumlah yang diterima untuk beasiswa dan hibah disertasi juga lebih dari cukup. Karena saya menyelesaikan program doktoral kurang dari tiga tahun, ada beasiswa satu semester yang tidak saya ambil. Wallahua’lam bishowab.Tabik!


Penulis adalah seorang jurnalis yang kini bertugas sebagai guru besar di bidang ilmu Komunikasi (Massa) Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *