Ribuan Gen Z Serbu Coaching Observasi Hilal Kemenag, Jadi Sorotan Jelang Sidang Isbat Ramadan 1447 H

foto ilustrasi

Jakarta — Antusiasme generasi muda terhadap literasi keislaman berbasis sains meningkat tajam. Program “Yasalunaka Anil Ahillah: Hilal Observation Coaching” yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Ditjen Bimas Islam banjir peminat, dengan ribuan peserta mendaftar untuk mengikuti kegiatan edukatif menjelang Ramadan 1447 Hijriah di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Dilansir situs resmi Kementerian Agama RI, Program ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat pemahaman publik tentang proses penentuan awal bulan Hijriah. Tidak hanya fokus pada aspek keagamaan, kegiatan ini mengedepankan pendekatan ilmiah melalui integrasi hisab dan rukyat agar masyarakat memahami proses penetapan awal puasa secara komprehensif, transparan, dan bertanggung jawab.

Nama kegiatan diambil dari penggalan ayat ke-189 Surah Al-Baqarah, “Yas’alūnaka ‘anil-ahillah”, yang berarti “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal.” Frasa tersebut mencerminkan semangat dialog keilmuan dalam menjawab pertanyaan umat mengenai fenomena hilal dari perspektif syariat sekaligus astronomi modern.

Menteri Agama RI, H Nasaruddin Umar melalui Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengungkapkan bahwa peserta luar jaringan (luring) tercatat 127 orang, sementara pendaftar dalam jaringan (daring) mencapai 1.864 peserta.

Mayoritas berasal dari kalangan Generasi Z, meliputi mahasiswa, komunitas falak muda, hingga influencer dan kreator konten yang aktif di media sosial.

Menurutnya, format coaching interaktif dipilih agar generasi muda tidak sekadar menerima hasil keputusan, tetapi memahami proses ilmiah di balik penetapan awal bulan Hijriah, mulai dari hisab, rukyat, hingga musyawarah para ahli yang menjadi dasar keputusan resmi pemerintah.

BACA JUGA

Kemenag Luncurkan “The Most KUA”, Transformasi Besar Layanan Keagamaan Menuju Pusat Edukasi dan Penguatan Keluarga

Gebrakan Kemenag! 49 Kampus Islam Dilibatkan, Program Kampung Zakat dan Kota Wakaf Siap Ubah Ekonomi Umat

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Perpustakaan lantai 2 Gedung Layanan Kementerian Agama Republik Indonesia di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta ini menyajikan materi komprehensif. Peserta mendapatkan pemahaman tentang landasan syar’i penentuan awal bulan Hijriah, integrasi metode hisab dan rukyat di Indonesia, pengenalan instrumen observasi hilal, hingga strategi komunikasi publik berbasis data dan sains.

Sebagai narasumber utama, M Yusuf salah satu peneliti astronomi dari Institut Teknologi Bandung yang aktif di Observatorium Bosscha, memaparkan aspek visibilitas hilal dari perspektif astronomi. Materi mencakup parameter ketinggian, elongasi, hingga perkembangan riset pengamatan hilal di Indonesia yang kini semakin berbasis data observasi.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian penting menjelang pelaksanaan Sidang Isbat awal Ramadan 1446 H yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari 2026 di Hotel Borobudur Jakarta.

Forum resmi tersebut akan menghadirkan perwakilan ormas Islam, pakar astronomi, instansi terkait, hingga duta besar negara sahabat untuk membahas data hisab dan laporan hasil rukyat sebelum keputusan resmi pelaksanaan Ramadan 1447 H diumumkan oleh pemerintah Republik Indonesia yang di komandani Kementerian Agama.

Sidang Isbat diawali seminar posisi hilal secara astronomis yang terbuka untuk publik. Setelah Magrib, sidang digelar tertutup untuk membahas hasil pengamatan serta data ilmiah sebelum Menteri Agama menyampaikan hasil penetapan awal Ramadan 1447 H melalui konferensi pers.

Arsad menegaskan bahwa mekanisme penetapan awal bulan Hijriah mencerminkan kolaborasi antara pertimbangan syar’i dan ilmiah sekaligus, dengan prinsip musyawarah serta tanggung jawab publik sebagai dasar utama keputusan pemerintah Republik Indonesia.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *