Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Muslim di berbagai daerah di Indonesia kembali menjalankan tradisi Ruwahan, sebuah ritual sosial-keagamaan yang telah mengakar dalam budaya masyarakat, sebagian besar kepulauan di negara Indonesia
Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Sya’ban, beberapa hari sebelum Ramadhan, dengan tujuan mendoakan leluhur sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah.
Salah satunya dilakukan oleh kepengurusan masjid Al Huda Tanjung Beringin Tebing Tinggi. Bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan tentunya jamaah semuanya, serta para kalangan remaja dalam rangka menuju bulan suci Ramadhan 1447 H ini, melaksanakan ruwahan dengan begitu meriah. Ada yang langsung dilaksanakan di masjid Al Huda Tanjung Beringin mulai dari pengajian majelis taklim ibu-ibu. Juga dilaksanakan secara menyeluruh jamaah dan masyarakat sekitar. Pun juga dilakukan di rumah masing-masing.
“Ruwahan berasal dari kata “ruh” yang merujuk pada arwah atau roh orang-orang yang telah meninggal dunia. Dalam praktiknya, tradisi ini diwujudkan melalui ziarah kubur, tahlilan, pembacaan Yasin, doa bersama, serta sedekah kepada tetangga dan kaum dhuafa,”terang Ketua Pengurus Masjid Al Huda Tanjung Beringin Tebing Tinggi Empat Lawang Sumatera Selatan, KH Andi Aziz Saidi.
Ketua Rois Syuriah PC NU Kabupaten Empat Lawang Provinsi Sumatea Selatan ini pun menerangkan, meski berakar pada kearifan lokal, Ruwahan mengandung nilai-nilai keislaman yang kuat, seperti memperbanyak doa, istighfar, dan amal kebaikan di bulan Sya’ban. “Diisi dengan pembacaan surat yasin lalu doa bersama,”imbuhnya.
Di banyak daerah, masyarakat berbondong-bondong mendatangi pemakaman keluarga untuk membersihkan makam dan membacakan doa. Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi pengingat akan kematian serta momentum untuk memperbaiki diri sebelum memasuki Ramadhan.
Selain ziarah, tahlilan dan doa bersama menjadi bagian tak terpisahkan dari Ruwahan. Warga biasanya berkumpul di masjid, musala, atau rumah salah satu tokoh masyarakat untuk membaca Yasin dan doa arwah. Tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga serta menjaga kebersamaan di tengah perubahan zaman.
Selamatan dan Sedekah Wujud Kepedulian Sosial
Dalam tradisi Ruwahan, banyak keluarga mengadakan selamatan dengan membagikan makanan kepada tetangga. Praktik ini mencerminkan nilai berbagi dan kepedulian sosial, sekaligus menjadi sarana membersihkan harta sebelum Ramadhan.
Menurut Andi Aziz, selama Ruwahan diisi dengan doa, zikir, dan sedekah, tradisi ini sejalan dengan ajaran Islam. Namun, ia pun kembali mengingatkan agar Ruwahan tidak dianggap sebagai kewajiban agama, melainkan sebagai tradisi budaya yang bernilai spiritual.
“Di tengah arus modernisasi, Ruwahan tetap bertahan sebagai tradisi yang menguatkan identitas budaya dan religius masyarakat. Selain menjadi sarana spiritual, Ruwahan juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi, refleksi diri, dan penguatan solidaritas sosial. Dan yang terpenting adalah saling bermaafan maafan sesama keluarga dan masyarakat, bersilaturahmi sekaligus tanda syukur kepada Allah SWT dengan cara bersedekah,”tambahnya.
Variasi Ruwahan di Berbagai Daerah
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Ruwahan identik dengan tahlilan dan kenduri kecil. Di Jawa Timur, tradisi serupa dikenal sebagai “Nyadran”, yang biasanya dilakukan secara kolektif di makam desa. Sementara di Jawa Barat, sebagian masyarakat menggabungkan Ruwahan dengan tradisi “Munggahan” sebagai bentuk syukur menyambut Ramadhan.
Bagi banyak umat Muslim, Ruwahan bukan sekadar ritual, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan—sebuah tradisi yang mengajarkan penghormatan kepada leluhur sekaligus kesiapan menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.**











