MUARA ENIM – Pagi itu udara Ramadhan terasa teduh di halaman Masjid Julaibib, Pondok Pesantren (PP) Laa Roiba, Muaraenim. Sabtu, 14 Maret 2026, jarum jam baru menunjuk pukul 08.45 WIB ketika ratusan santri telah duduk berbaris rapi di lantai masjid.
Karpet hijau berbingkai ornamen bunga putih menjadi alas mereka bersimpuh. Wajah-wajah muda itu tampak tenang, menunggu dimulainya sebuah kegiatan yang telah lama mereka nantikan.
Sambil menunggu para tamu yang dijadwalkan hadir, para santri terlebih dahulu mengikuti sesi motivasi tentang public speaking yang disampaikan oleh pengasuh PP Laa Roiba.
Selama sekitar 37 menit mereka menyimak berbagai kiat berpidato dan menyampaikan ceramah. Di ruang ibadah itu, pelajaran sederhana tentang cara berbicara di depan umum terasa menjadi bekal penting bagi para santri yang kelak akan berdakwah di tengah masyarakat.
Ketika jarum jam mendekati pukul 09.45 WIB, suasana di halaman pesantren mulai berubah. Enam mobil perlahan memasuki halaman PP Laa Roiba.
Para tamu yang datang hari itu adalah jajaran CSR PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama Dewi Yustisiana, salah satu Anggota Komisi XII DPR, Daerah Pemilihan Sumsel II.
Kehadiran mereka disambut hangat oleh para pengasuh pesantren serta para santri yatim, piatu, dan dhuafa yang menjadi penerima santunan dalam Kegiatan Sosial Ramadhan (Santunan Anak Yatim, Piatu, dan Dhuafa, Wilayah Ring-1 PT Bukit Asam Tbk).
Acara yang berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB itu menjadi bagian dari rangkaian Safari Ramadhan yang dilaksanakan Dewi Yustisiana di daerah pemilihannya.
Belajar Kepemimpinan Sejak Dini
Di hadapan ratusan santri, Dewi memulai sambutannya dengan sebuah pertanyaan sederhana: apakah mereka mengetahui apa itu DPR-RI?
Beberapa santri tampak saling berpandangan. Dewi kemudian menjelaskan bahwa DPR-RI adalah lembaga legislatif yang salah satu tugasnya mengawasi jalannya pemerintahan.
Menurutnya, para santri perlu mengenal lembaga negara karena bukan tidak mungkin kelak ada di antara mereka yang menjadi pemimpin bangsa.
“Boleh jadi di antara kalian nanti ada yang duduk di DPR, atau menjadi pemimpin perusahaan seperti bapak-bapak dari PTBA yang hadir hari ini,” ujarnya.
Dewi menekankan bahwa menjadi pemimpin tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga ketangguhan mental. Para santri, terutama yang laki-laki, harus memiliki semangat juang dan tidak mudah menyerah.
“Pemimpin harus kuat menghadapi tantangan. Bisa jadi nanti ada di antara kalian yang memimpin pesantren, memimpin masyarakat, atau memimpin lembaga lain,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa di DPR-RI terdapat berbagai komisi dengan bidang tugas yang berbeda-beda. Dewi sendiri berada di Komisi XII yang berkonsentrasi pada bidang ketahanan energi dan sumber daya mineral.
Mengenal Ketahanan Energi
Dalam penjelasannya, Dewi mengajak para santri memahami konsep ketahanan energi. Salah satu contoh sumber energi penting di Indonesia adalah batubara yang digunakan untuk pembangkit listrik.
Dalam konteks itu, PT Bukit Asam Tbk menjadi salah satu mitra kerja Komisi XII dalam sektor energi.
Penjelasan itu memberi wawasan baru bagi para santri tentang hubungan antara dunia pendidikan, pemerintahan, dan sektor industri yang menopang kehidupan masyarakat.
Doa dan Nasihat dari Pengasuh Pesantren
Setelah sambutan Dewi Yustisiana, acara dilanjutkan dengan sambutan dari KH Taufik Hidayat, S.Ag., M.I.Kom, pendiri dan pimpinan PP Laa Roiba.
Ustadz Taufik membuka sambutannya dengan doa. Ia mendoakan agar Dewi Yustisiana, jajaran Komisi XII DPR-RI, serta jajaran PT Bukit Asam Tbk senantiasa dilindungi Allah dari segala bala dan bencana.
Baik dari kawan maupun lawan, dari yang tampak maupun yang tidak tampak, dari gangguan manusia maupun jin.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Taufik juga mengingatkan bahwa bulan Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan semangat bekerja.
“Puasa atau Ramadhan bukan berarti harus mengurangi etos kerja. Alhamdulillah di bulan Ramadhan ini jajaran PTBA dan Komisi XII tetap bekerja dengan baik sehingga bisa hadir di pondok ini,” ujarnya.
Ustadz Taufik kemudian berseloroh tentang sebagian orang yang memaknai Ramadhan secara berbeda.
“Meski bekerja itu ibadah, ada juga yang memanfaatkan sisa waktunya di bulan Ramadhan untuk tidur, dengan alasan tidurnya orang berpuasa itu ibadah. Tapi ada juga yang ingin mendapatkan keduanya sekaligus, sehingga dia tidur di tempat kerja,” katanya disambut tawa ringan para hadirin.
Kisah Nama Laa Roiba
Dalam sambutannya, Ustadz Taufik juga menceritakan asal-usul nama Pondok Pesantren Laa Roiba.
Nama itu diambil dari ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 2: “Dzalikal kitabu laa raiba fiih.” Kata Laa Roiba berarti tidak ada keraguan.
“Pada tahun 2018 ketika peletakan batu pertama pesantren ini, kami hanya bermodal keyakinan. Bahkan bisa dibilang sedikit ‘nekad’, tetapi di dalamnya ada keyakinan bahwa pertolongan Allah itu pasti,” katanya.
Keyakinan itu perlahan terjawab. Seiring waktu, Allah menghadirkan banyak orang baik yang membantu pembangunan pesantren.
Kini PP Laa Roiba bahkan telah membuka Kampus B di Desa Panangjaya, Kecamatan Gunung Megang. Di sana sedang dibangun Masjid R Hasan yang masih dalam tahap penyelesaian.
“Kalau berkenan, Bu Dewi boleh ‘melempar’ satu atau dua sak semen untuk pembangunan Masjid R Hasan di Pondok Pesantren Laa Roiba 2,” ujar Ustadz Taufik sambil tersenyum.
Kebahagiaan Anak Yatim
Ustadz Taufik menjelaskan bahwa sebagian besar santri di pesantren tersebut berasal dari kalangan yatim dan dhuafa.
Setiap tahun menjelang Idul Fitri, para santri yang pulang ke kampung halaman telah terbiasa membawa baju baru, sarung baru, peci baru, serta sedikit uang jajan.
Karena itu, para pengasuh pesantren selalu berdoa agar di akhir Ramadhan Allah menghadirkan orang-orang baik yang ikut membahagiakan anak-anak yatim tersebut.
Hari itu doa itu kembali terjawab. Kehadiran Dewi Yustisiana dan jajaran PT Bukit Asam Tbk menjadi salah satu bentuk kebaikan yang dihadirkan Allah melalui tangan manusia.
Ustadz Taufik mengutip ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada balasan bagi sebuah kebaikan kecuali kebaikan yang serupa.
Muhasabah di Penghujung Acara
Menjelang akhir kegiatan, suasana di Masjid Julaibib berubah semakin khusyuk. Para santri, tamu, dan pengasuh pesantren bersama-sama mengikuti doa dan muhasabah diri.
Mereka diajak mengevaluasi diri, mengingat dosa kepada diri sendiri, kepada kedua orang tua, kepada pasangan hidup, kepada guru, hingga kepada tetangga.
Doa dimulai dengan istighfar, dilanjutkan kalimat tahlil, kemudian membaca Surah Al-Fatihah.
Beberapa santri tampak menundukkan kepala dalam-dalam. Ada yang mengusap mata, larut dalam suasana perenungan.
Sekitar pukul 11.00 WIB, acara pun ditutup dengan penyerahan santunan kepada para santri yatim, piatu, dan dhuafa.
Sebelum meninggalkan pesantren, para tamu dan santri berfoto bersama. Pagi itu, di sebuah pesantren sederhana di Muaraenim, Ramadhan kembali menghadirkan pelajaran tentang kepedulian, persaudaraan, dan harapan bagi masa depan umat. (imr)












