Gemar Bersedekah, Maka Harta Pun Menemukan Jalannya

foto sedekah

Sahabat Pembaca Interaksi Massa yang berbahagia. Bagaimana puasanya di bulan Ramadan 1447 H ? semoga berjalan lancar dan selalu diberkahi Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin.

Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Pagi-pagi yang lebih hening, siang yang terasa lebih panjang, dan malam yang dipenuhi doa serta harapan.

Di bulan suci Ramadan inilah, hati manusia sering kali menjadi lebih lembut, mudah tersentuh oleh kisah sesama, mudah tergerak oleh kebutuhan orang lain. Terlebih lagi Ramadan 1447 Hijriah masih di awal perjalanan.

Inilah saat terbaik untuk menata niat dan memperbanyak kebaikan, salah satunya melalui amalan sedekah. Bukan sekadar memberi, tetapi menghadirkan makna di balik setiap harta yang dititipkan Allah SWT kepada manusia.

Dalam sejarah Islam, teladan agung tentang kedermawanan telah diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau dikenal sebagai manusia paling dermawan, dan kedermawanan itu semakin memuncak ketika Ramadan tiba.

Terdapat sebuah riwayat, digambarkan bahwa kemurahan hati Rasulullah SAW di bulan Ramadan bahkan lebih cepat dan luas daripada angin yang berembus. Memberi tanpa menunggu diminta, berbagi tanpa menghitung untung rugi.

Gambaran itu seolah menjadi cermin bagi umatnya hari ini. Bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang bagaimana hati dilatih untuk peka, tangan dibiasakan memberi, dan harta diarahkan pada jalan yang diridhai-Nya.

Sedekah, Jalan Sunyi Menuju Keberkahan

Sedekah di bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri. Setiap amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya. Setiap rupiah yang dikeluarkan dengan ikhlas tak sekadar berpindah tangan, melainkan berubah menjadi investasi akhirat.

Al-Qur’an menggambarkan sedekah layaknya sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh bulir, dan setiap bulir berisi seratus biji. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 261 ;

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١

Artinya : Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.

Sebuah metafora tentang betapa luasnya balasan Allah SWT bagi mereka yang gemar berbagi. Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini terasa semakin relevan.

Di tengah ketimpangan sosial, sedekah menjadi jembatan antara kelapangan dan kekurangan, antara kelebihan dan kebutuhan.

Lebih dari itu, sedekah juga berfungsi sebagai pembersih jiwa. Ia memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Memberi bukan hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga melapangkan dada pemberinya.

Sifat kikir perlahan luruh, cinta berlebihan pada dunia mulai terkikis, digantikan rasa syukur dan empati.

BACA JUGA

Ramadhan Bulan ‘Laundry’, Kesempatan Raih Derajat Ketaqwaan

Ruwahan Menjelang Ramadhan 1447 H : Tradisi Doa, Ziarah, dan Silaturahmi yang Masih Lestari di Masyarakat

Tak berhenti di situ, sedekah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan kelak akan menjadi pelindung di hari kiamat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang bersedekah secara tersembunyi.

Hingga tangan kiri tak mengetahui apa yang diberikan tangan kanan. Maka akan mendapatkan naungan Allah di hari yang sangat panas dan menegangkan itu. Sebuah keutamaan yang tak ternilai dengan harta apa pun.

Memberi Tak Pernah Membuat Miskin

Ada kekhawatiran yang kerap menghantui sebagian orang: takut kekurangan setelah memberi. Namun ajaran Islam justru menegaskan sebaliknya. Sedekah tidak akan mengurangi harta.

Ia justru membuka pintu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat As Saba’ ayat 39 ;

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ۝٣٩

Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.

Banyak kisah nyata membuktikan hal ini. Mereka yang gemar bersedekah sering kali merasakan keberkahan dalam hidupnya—urusan yang dimudahkan, rezeki yang cukup, dan hati yang tenang.

Karena pada hakikatnya, apa yang disedekahkan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk, menjadi keberkahan yang menetap.

Lebih jauh lagi, sedekah bisa menjadi amal jariyah. Pahala yang terus mengalir meski seseorang telah berpulang. Wakaf tanah, bantuan pendidikan, pembangunan masjid, atau penyediaan air bersih—semuanya menjadi saksi bahwa kebaikan tak berhenti di liang lahat.

Merawat Ramadan dengan Aksi Nyata

Ramadan memberi banyak ruang untuk bersedekah dalam berbagai bentuk. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, misalnya, adalah amalan sederhana dengan pahala luar biasa.

Menyantuni anak yatim dan fakir miskin menghadirkan senyum di wajah mereka yang sering terpinggirkan. Menyumbang untuk masjid dan pesantren berarti ikut menjaga denyut peradaban Islam.

Bagi yang ingin manfaat jangka panjang, wakaf menjadi pilihan mulia. Sementara bagi mereka yang menginginkan penyaluran yang aman dan tepat sasaran, sedekah dapat disalurkan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, begitupun juga dengan masyarakat di daerah ada BAZNAS Kabupaten Kota agar amanah kebaikan sampai kepada yang berhak.

Penutup: Jangan Tunda Kebaikan

Ramadan tak pernah menunggu. Ia datang, singgah sebentar, lalu pergi meninggalkan jejak. Maka jangan tunda kebaikan. Selagi Ramadan masih di awal, selagi hati masih mudah tersentuh, selagi tangan masih mampu memberi bersegeralah sedekah.

Karena bisa jadi, harta yang kita keluarkan hari ini adalah sebab diturunkannya pertolongan Allah esok hari. Dan bisa jadi pula, sedekah kecil yang kita anggap biasa, menjadi cahaya besar yang menyelamatkan kita di akhirat kelak. Aamiin ya robbal alamiin.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *