Palembang | Momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah/2026 membawa dampak positif terhadap perekonomian di Sumatera Selatan. Tingginya mobilisasi masyarakat yang didukung pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) terbukti mampu meningkatkan daya beli sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi.
Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menyampaikan bahwa lonjakan aktivitas masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran memberikan kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi daerah.
“Momen Ramadan ini jika dikaitkan dengan statistik, keramaian masyarakat menciptakan mobilisasi yang sangat besar. Hal ini mempengaruhi banyak hal, terutama secara ekonomi melalui pergerakan manusia yang mengeluarkan banyak uang untuk berbagai kebutuhan,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
THR Tingkatkan Daya Beli Masyarakat
Menurut Wahyu, pencairan THR menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transportasi mudik, belanja kebutuhan pokok, hingga konsumsi makanan dan minuman selama perayaan Idulfitri.
Kondisi ini menciptakan efek berantai pada sektor ekonomi lainnya. Tidak hanya konsumen yang merasakan manfaatnya, pelaku usaha di berbagai sektor juga ikut terdongkrak.
Pasar tradisional, pusat perbelanjaan modern, hingga pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan selama periode tersebut.
Ekosistem Usaha Ikut Bergairah
Tingginya aktivitas belanja masyarakat selama Ramadan dan Lebaran turut menghidupkan ekosistem usaha di seluruh wilayah Sumatera Selatan.
Permintaan terhadap berbagai komoditas meningkat, mulai dari bahan pangan, pakaian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan omzet pedagang, baik di pasar tradisional maupun ritel modern.
Fenomena ini menunjukkan bahwa momentum hari besar keagamaan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama dari sisi konsumsi domestik.
Inflasi Tetap Dalam Kendali
Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi, stabilitas harga di Sumatera Selatan tetap terjaga. BPS mencatat bahwa inflasi selama periode Lebaran masih berada pada level yang terkendali.
Meskipun terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti daging ayam ras, telur, dan minyak goreng, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar.
“Sejauh ini kami bersyukur karena melalui beberapa acara Pasar Murah yang digagas pemerintah daerah melalui TPID, harga-harga relatif terkendali. Memang ada kenaikan, namun masih tipis,” jelas Wahyu.
Peran TPID dan Program Pasar Murah
Keberhasilan menjaga stabilitas harga tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang secara konsisten melakukan intervensi pasar.
Melalui program Pasar Murah, pemerintah daerah menyediakan bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Langkah ini efektif dalam menekan lonjakan harga yang biasanya terjadi saat permintaan meningkat.
Program ini juga membantu menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan di pasar, sehingga gejolak harga dapat diminimalisir.
Inflasi Dinilai Wajar dalam Pertumbuhan Ekonomi
Wahyu menegaskan bahwa inflasi merupakan fenomena yang wajar dalam dinamika ekonomi, terutama saat terjadi peningkatan konsumsi seperti pada momentum Ramadan dan Idulfitri.
Namun demikian, inflasi harus tetap berada dalam batas yang terkendali agar tidak berdampak negatif terhadap daya beli masyarakat.
“Itulah berkah Ramadan dan Idul Fitri yang memberikan akumulasi kebaikan serta dampak ekonomi yang baik untuk seluruh masyarakat. Kami selalu menekankan bahwa inflasi itu wajar ada, namun jangan sampai tidak terkendali,” ujarnya.
Pentingnya Koordinasi Antarinstansi
Untuk menjaga tren positif ini, koordinasi antarinstansi menjadi faktor kunci. Pemerintah daerah, instansi vertikal, serta pelaku usaha diharapkan terus bersinergi dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Pengendalian inflasi, distribusi barang, serta pengawasan harga harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya saat momen hari besar keagamaan, tetapi juga dalam kondisi normal.
Harapan Pasca Lebaran
Pasca Lebaran, diharapkan tren pertumbuhan ekonomi di Sumatera Selatan tetap terjaga. Meskipun biasanya terjadi penurunan aktivitas konsumsi setelah periode puncak, stabilitas ekonomi harus tetap menjadi prioritas.
Pemerintah diharapkan terus menghadirkan kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat serta mendorong pertumbuhan sektor riil.
Dengan kombinasi antara daya beli yang kuat, stabilitas harga, dan dukungan kebijakan yang tepat, perekonomian Sumatera Selatan diproyeksikan tetap tumbuh positif sepanjang tahun 2026.
Momentum Ramadan dan Idulfitri pun kembali membuktikan perannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah, yang tidak hanya membawa keberkahan secara spiritual, tetapi juga manfaat nyata secara ekonomi bagi masyarakat luas. **












