Tiga Jendela Emas Doa di Bulan Ramadan: Jangan Sampai Terlewat Satu Detik Pun

Ustaz Khalid Basalamah. (*/IST)

Jakarta | Ramadan selalu datang dengan janji yang sama: ampunan, rahmat, dan limpahan pahala.

Namun, di balik rutinitas sahur yang mengantuk, puasa yang melelahkan, serta buka bersama yang meriah, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian—waktu-waktu istimewa ketika doa nyaris mustahil ditolak.

Bulan suci ini bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah momentum langka, sebuah “obral pahala” yang hanya datang setahun sekali.

Setiap detiknya bernilai ibadah, dan setiap kesempatan yang terlewat tak akan bisa diulang.

Sayangnya, banyak umat Muslim menjalani Ramadan secara otomatis, tanpa benar-benar menyadari adanya jendela-jendela waktu di mana langit seolah terbuka lebar.

Dalam sebuah ceramah yang tayang di kanal YouTube Masih Lurus, pendakwah ternama Ustaz Khalid Basalamah mengungkap tiga waktu paling mustajab untuk berdoa selama bulan puasa.

Pesannya sederhana namun menggugah: jadilah Muslim yang cerdas dan “serakah” dalam berdoa—meminta kebaikan dunia sekaligus akhirat.

Sahur: Saat Langit Terasa Paling Dekat

Bagi banyak orang, sahur identik dengan alarm yang dipukul tunda berkali-kali, lalu diakhiri makan terburu-buru.

Padahal, di balik sunyinya waktu sahur, tersimpan kedahsyatan spiritual yang luar biasa.

Menurut Ustaz Khalid, sahur bertepatan dengan sepertiga malam terakhir—waktu paling utama untuk bermunajat.

Pada saat itulah, Allah SWT “turun” ke langit dunia, membuka ruang dialog yang begitu intim antara hamba dan Tuhannya.

Sebuah momen privasi yang tak ternilai. “Jangan hanya sibuk dengan urusan dapur atau makanan saat sahur,” pesan beliau.

Di waktu inilah Allah bertanya, siapa yang memohon akan diberi, siapa yang meminta ampun akan diampuni.

Jika selama ini doa-doa besar terasa berat untuk dipanjatkan, sahur adalah jawabannya.

Ketika dunia sedang terlelap dan hati lebih jujur, ketuklah pintu langit tanpa ragu.

Puasa Sepanjang Hari: Status yang Menguatkan Doa

Kesalahan umum lainnya adalah menganggap doa hanya mustajab saat menjelang berbuka.

Padahal, menurut Ustaz Khalid, kekuatan doa itu melekat pada status “orang yang berpuasa”—dan status itu berlaku sejak fajar hingga matahari terbenam.

Lisan orang yang berpuasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Karena itu, setiap aktivitas—bekerja, belajar, bahkan perjalanan—bisa diselingi dengan doa.

Puasa Ramadan: Dari Ibadah Waktu Terbatas Menuju Integritas dan Ketakwaan Sepanjang Hayat

Ketika Puasa Diremehkan: Azab Berat di Balik Berbuka Sengaja di Bulan Ramadan

Tidak harus panjang atau berbahasa tinggi. Yang penting tulus dan konsisten.
Puncaknya adalah detik-detik menjelang berbuka.

Kondisi fisik yang lemah dan jiwa yang tunduk menjadikan hati lebih lembut. Inilah saat terbaik untuk “merengek” kepada Allah.

Sayangnya, momen ini sering habis untuk menatap layar televisi atau menggulir media sosial.

Padahal, satu doa yang dipanjatkan dengan khusyuk bisa mengubah arah hidup seseorang.

Antara Azan dan Iqamah: Golden Time yang Diremehkan

Waktu ketiga sering kali luput karena durasinya singkat. Jeda antara azan dan iqamah kerap diisi dengan obrolan ringan atau lamunan.

Padahal, dalam ajaran Islam, ini adalah golden time—waktu yang dijanjikan doa tidak akan tertolak.

Ustaz Khalid menganjurkan agar setiap Muslim datang ke masjid dengan “daftar hajat” di dalam hati.

Gunakan jeda singkat itu untuk fokus sepenuhnya.

Minta ampunan, minta ketenangan rumah tangga, minta rezeki halal, hingga minta akhir hidup yang baik.

Tidak ada doa yang terlalu kecil atau terlalu besar bagi Allah.

Ramadan Tak Pernah Menunggu

Menutup ceramahnya, Ustaz Khalid menyampaikan pengingat yang menyesakkan dada: tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan berikutnya.

Setiap waktu mustajab yang disia-siakan adalah kerugian nyata yang tak bisa ditebus.

Ramadan sejatinya adalah investasi besar. Bukan investasi materi, melainkan tabungan akhirat.

Maka, jadikan sahur lebih dari sekadar makan, jadikan puasa lebih dari sekadar menahan lapar, dan jadikan waktu-waktu singkat penuh makna.

Karena bisa jadi, doa yang paling kita butuhkan justru terkabul di waktu yang hampir kita abaikan. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *