Walikota Lubuk Linggau Melayat Duka Aktifis 98

LAYAT : Walikota Lubuk Linggau H Rachmat Hidayat melayat ke rumah duka jurnalis Lubuk Linggau sekaligus Aktifis 98, Senin (23/2/2026)

Lubuk Linggau – Pagi tadi Senin, 23 Februari 2026 langit di Kota Lubuk linggau tampak sendu, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti sebuah rumah yang berada di Jalan Dempo Dalam. Dari halaman hingga ke ruang tengah, pelayat datang silih berganti. Sebagian menundukkan kepala seraya turut berduka, sebagian lain tak kuasa menahan air mata.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun” kalimat itu berulang-ulang terdengar, lirih namun dalam. Hari itu, keluarga, sahabat, dan rekan se profesi jurnalis melepas kepergian M Ikhwan yang akrab disapa Awang sekaligus aktivis pada era Reformasi 98 dikenal hangat dan penuh dedikasi.

Di antara kerumunan, tampak Wali Kota Lubuk Linggau, Rachmat Hidayat, melangkah perlahan memasuki rumah duka. Wajahnya menyiratkan kehilangan yang tak bisa disembunyikan. Sesekali ia menyapa keluarga almarhum, menggenggam tangan mereka dengan erat, seolah mencoba berbagi kekuatan di tengah duka yang berat.

Suasana kian khidmat ketika doa-doa dipanjatkan bersama. Dalam hening yang hanya dipecah oleh isak tangis, sang wali kota turut meramaikan sholat dan doa, didampingi Kepala Dinas Sosial, Andrian. Setiap lantunan doa seakan menjadi jembatan harapan—agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Cerita tentang Awang mengalir dari mulut ke mulut di antara para pelayat. Ia bukan hanya seorang jurnalis, tetapi juga sosok yang hidup dengan semangat perjuangan. Lahir di kota ini pada 3 Oktober 1980, ia tumbuh menjadi pribadi yang aktif, komunikatif, dan tak pernah lelah menyuarakan gagasan.

Namun, perjalanan hidupnya harus terhenti. Pada Minggu, 22 Februari 2025, ia menghembuskan napas terakhir di RSUP Dr. Muhammad Husein Palembang setelah berjuang melawan penyakit.

BACA JUGA

Info Mudik Gratis Lebaran 2026, Ini Jadwal, Syarat dan Caranya

Puasa di Bulan Ramadan 1447 H, Pengabdian ASN Tetap Harus Dijalankan

Kepergiannya menyisakan duka tapi tetap harus ikhlas tabah dan sabar atas ketetapan Allah SWT bagi seorang istri, seorang anak, keluarga besar dan banyak orang yang mengenalnya.

Walikota Lubuk Linggau Rachmat Hidayat mengenang almarhum sebagai pribadi dengan etos kerja tinggi dan pemikiran yang memberi warna bagi pembangunan kota. “Ia bukan hanya pekerja keras, tetapi juga sahabat yang menyenangkan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Tak jauh dari sana, Abrar Amir, kakak kandung almarhum, berdiri dengan mata sembab. Suaranya tertahan saat mengucapkan terima kasih atas segala doa, bantuan, dan perhatian yang mengalir sejak hari-hari terakhir adiknya.

Dengan penuh kerendahan hati, ia juga menyampaikan permohonan maaf dari rekan kerja serta keluarga besar yang berkesempatan hadir di lokasi duka. Sebuah tradisi yang selalu mengiringi kepergian, namun tak pernah terasa ringan.

Di rumah itu, duka terasa begitu dekat. Namun di balik kesedihan, terselip kenangan yang tak akan hilang. Tentang tawa, tentang perjuangan, tentang seorang Awang yang hidupnya memberi arti bagi banyak orang.

Dan ketika pelayat mulai beranjak pulang, satu hal tetap tinggal. Ingatan tentang sosok yang sederhana, hangat, dan penuh dedikasi. Sebab bagi mereka yang pernah mengenalnya, Awang tak benar-benar pergi ia hanya berpulang, meninggalkan jejak yang akan terus hidup dalam cerita dan doa.

Dan tentunya kehidupan semua manusia di dunia telah diberikan jatah oleh Sang Maha Pencipta dan akan kembali kepada Allah SWT. Redaksi Interaksi Massa juga turut berduka cita semoga husnul khotimah.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *