Dr. H. Joncik Muhammad “Urgensi Mata Pelajaran Geografi :Geografi sebagai Penjaga Bangsa dan Kedaulatan NKRI

Bupati Empat Lawang Joncik Muhammad/Foto Ist

Jakarta | Di tengah derasnya arus globalisasi dan kompleksitas tantangan dunia modern, pendidikan tidak lagi sekadar soal angka dan hafalan.

Ia menjadi alat strategis dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap bangsa dan negaranya.

Dalam konteks ini, mata pelajaran geografi kembali mendapat sorotan penting sebagai fondasi pemahaman kebangsaan.

Hal tersebut mengemuka dalam forum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia khususnya Komisi X yang membidangi pendidikan.

Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas arah Sistem Pendidikan Nasional, sekaligus menegaskan kembali urgensi geografi dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Salah satu tokoh yang menyuarakan pentingnya geografi adalah “Joncik Muhammad”Ketua Umum Keluarga Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (Kagegama).

Dalam forum tersebut, ia memimpin dialog yang menghadirkan para guru besar geografi dengan satu pesan kuat: geografi bukan sekadar pelajaran, melainkan instrumen pemersatu bangsa.

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Dengan lebih dari 17 ribu pulau, keragaman bentang alam, serta kekayaan sumber daya alam, Indonesia memiliki kompleksitas geografis yang luar biasa.

Namun, keunggulan ini juga membawa tantangan tersendiri, mulai dari kesenjangan pembangunan hingga potensi konflik sumber daya.

Di sinilah geografi memainkan peran penting. Ilmu ini tidak hanya mempelajari peta dan lokasi, tetapi juga menghubungkan aspek fisik dengan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya.

Dengan memahami geografi, generasi muda dapat melihat Indonesia secara utuh—bukan sebagai wilayah yang terpisah-pisah, tetapi sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

Dalam paparannya, para akademisi menekankan pentingnya literasi geospasial.

Kemampuan ini memungkinkan seseorang memahami hubungan antara ruang dan aktivitas manusia, termasuk dalam konteks pembangunan, mitigasi bencana, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Lebih jauh, geografi juga berperan dalam memperkuat ketahanan nasional. Tidak hanya dalam aspek pertahanan militer, tetapi juga dalam sektor pangan, energi, lingkungan, dan sosial budaya.

Misalnya, pemahaman tentang pola iklim dan kondisi tanah dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan.

Begitu pula dengan pemetaan sumber energi yang dapat mendukung kemandirian energi nasional.

Konsep Indonesia sebagai poros maritim dunia juga tidak dapat dilepaskan dari pemahaman geografi.

Letak strategis Indonesia di antara dua samudra dan dua benua memberikan peluang besar dalam sektor perdagangan dan geopolitik.

Namun, tanpa pemahaman yang kuat terhadap potensi dan risiko geografis, peluang tersebut sulit dimaksimalkan.

Pendidikan geografi sejak dini menjadi kunci untuk menanamkan kesadaran tersebut.

Dengan kurikulum yang tepat, siswa tidak hanya belajar tentang peta, tetapi juga tentang identitas nasional, keberagaman, dan pentingnya menjaga lingkungan.

Selain itu, geografi juga dapat menjadi alat untuk memperkuat rasa persatuan.

Dengan memahami bahwa setiap daerah memiliki karakteristik dan peran masing-masing, generasi muda akan lebih menghargai perbedaan dan melihatnya sebagai kekuatan, bukan kelemahan.

Dalam era perubahan iklim dan krisis lingkungan global, peran geografi semakin relevan.

Generasi yang memiliki pemahaman geografi yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan tersebut, sekaligus mampu mencari solusi yang berkelanjutan.

Forum RDPU ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Geografi, yang selama ini mungkin dianggap sebagai pelajaran pelengkap, justru memiliki peran strategis dalam membangun masa depan bangsa.

Dari ruang kelas hingga kebijakan nasional, geografi hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pengetahuan dengan realitas.

Ia bukan hanya tentang memahami dunia, tetapi juga tentang menjaga Indonesia tetap utuh, berdaulat, dan berdaya saing di kancah global.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *