Interaksimassa.com – Tanjung Atap Barat, Ogan Ilir | Suasana penuh khidmat menyelimuti pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Al-Marwah Desa Tanjung Atap Barat pada Rabu, 27 Mei 2026. Ratusan jamaah memadati masjid sejak pagi hari untuk melaksanakan shalat Idul Adha bersama dalam nuansa kebersamaan dan penuh kekhusyukan.
Pada pelaksanaan tersebut, Drs. Soryanto bertindak sebagai khotib yang menyampaikan khutbah Idul Adha dengan tema tentang keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan sejati kepada Allah SWT. Sementara itu, shalat Idul Adha dipimpin oleh Ust. Kurniawan sebagai imam.
Adapun yang bertugas membacakan Ma’asyirol adalah Iswadi, yang menambah suasana religius dan khidmat sebelum khutbah dimulai.
Dalam khutbahnya, Drs. Soryanto mengajak jamaah untuk memahami bahwa Idul Adha bukan hanya sekadar hari raya penyembelihan hewan qurban, tetapi juga momentum besar untuk meningkatkan ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah SWT. Gema takbir, tahlil, dan tahmid yang berkumandang di seluruh penjuru dunia menjadi pengingat akan kebesaran Allah dan pentingnya manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar Walillahil Hamd.”
Menurutnya, Idul Adha merupakan simbol pengorbanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah itu menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang bagaimana seorang hamba harus tetap taat kepada Allah meskipun menghadapi ujian yang sangat berat.
Dalam khutbahnya, Drs. Soryanto kembali mengisahkan ketika Nabi Ibrahim AS menerima wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS.
“Wahai anakku Ismail, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” ujar Nabi Ibrahim kepada putranya.
Dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan, Nabi Ismail menjawab:
“Wahai ayahku, jika itu adalah perintah Allah, makai laksanakanlah. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban Nabi Ismail menunjukkan betapa besarnya keimanan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Tidak ada penolakan, melainkan keikhlasan menerima perintah Allah meskipun nyawa menjadi taruhannya.
Ketika Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah SWT melihat ketulusan hati keduanya, Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bukti bahwa mereka telah lulus dalam ujian keimanan dan ketaatan.
Peristiwa itulah yang kemudian menjadi asal mula ibadah qurban yang dilaksanakan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha.
Selain mengangkat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, khutbah tersebut juga mengingatkan jamaah kepada perjuangan Siti Hajar. Sebagai seorang ibu, Siti Hajar berlari-lari dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail kecil, yang menangis kehausan di tengah padang pasir.
Dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT, Siti Hajar terus berusaha tanpa menyerah hingga akhirnya Allah menghadirkan sumber air dari dekat kaki Nabi Ismail yang kini dikenal sebagai Air Zam-Zam.
Perjalanan Siti Hajar antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah kini menjadi bagian dari rangkaian ibadah sa’i dalam pelaksanaan haji dan umrah. Kisah tersebut mengajarkan umat Islam tentang arti perjuangan, kesabaran, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada hambanya yang tidak pernah putus asa.
Dalam khutbahnya, Drs. Soryanto juga menyinggung suasana ibadah haji di Tanah Suci, ketika seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sama dan berkumpul di Padang Arafah untuk bermunajat memohon ampunan kepada Allah SWT.
Menurutnya, di hadapan Allah semua manusia sama tanpa memandang jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan keikhlasan hati.
Tidak lupa, Drs. Soryanto mengajak seluruh jamaah untuk mendoakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Dengan suara yang penuh haru, ia mengingatkan bahwa begitu besar jasa seorang ayah dan ibu kepada anak-anaknya.
“Begitu banyak dosa kita kepada orang tua. Sampai kapan pun, kita tidak akan mampu membalas jasa mereka,” ucapnya di hadapan jamaah.
Suasana masjid pun mendadak hening dan penuh haru. Banyak jamaah terlihat menundukkan kepala sambil meneteskan air mata ketika mengingat perjuangan dan pengorbanan kedua orang tua mereka selama membesarkan anak-anaknya.
Drs. Soryanto mengingatkan bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah terputus, sejak anak masih kecil hingga dewasa. Karena itu, umat Islam diminta untuk terus mendoakan bapak dan ibu mereka setiap waktu.
“Teruslah doakan bapak dan ibu kita. Bagi yang masih hidup semoga diberikan kesehatan dan umur yang berkah. Bagi yang sudah meninggal dunia semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menempatkan mereka di surga-Nya,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa arti ketaatan sejati adalah tetap menjalankan perintah Allah meskipun hati terasa berat. Sebab dalam kehidupan, hati manusia akan selalu diuji oleh Allah SWT melalui berbagai cobaan dan pengorbanan.
“Allah melihat bagaimana hambanya terus berusaha untuk tetap taat kepada-Nya,” ujar Drs. Soryanto.
Karena itu, ia mengajak seluruh umat Islam untuk menanamkan iman yang kuat dan membangun keikhlasan dalam hati. Dengan hati yang ikhlas, setiap pengorbanan akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Khutbah Idul Adha tersebut berlangsung penuh haru dan kekhusyukan. Jamaah tampak menyimak dengan penuh perhatian pesan-pesan yang disampaikan, terutama tentang pentingnya kesabaran, pengorbanan, ketakwaan, dan bakti kepada kedua orang tua dalam menjalani kehidupan.
Momentum Idul Adha tahun ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh umat Islam bahwa pengorbanan terbesar bukan hanya menyembelih hewan qurban, tetapi juga bagaimana manusia mampu mengalahkan ego, kesombongan, dan hawa nafsu demi meraih ridha Allah SWT.(irhansyah)












