Bocoran SNBT 2026! Ini Jurusan Sepi Peminat di Unair yang Diam-Diam Buka Peluang Lolos Lebih Besar

Kampus Universitas Airlangga. (*/IST)

Surabaya| Calon mahasiswa yang bersiap menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 kini punya “senjata rahasia” untuk menyusun strategi: membaca data keketatan program studi tahun sebelumnya.

Data resmi PPMB Universitas Airlangga (Unair) 2025 menunjukkan bahwa peluang lolos tidak selalu bergantung pada nilai tinggi semata, tetapi juga pada kecermatan memilih jurusan.

Keketatan menjadi indikator penting yang sering diabaikan.

Semakin tinggi persentase keketatan, semakin longgar persaingan dalam program studi tersebut.

Artinya, peluang diterima justru lebih besar dibandingkan jurusan dengan peminat membludak.

Jurusan Saintek: Peluang Besar di Balik Nama yang Kurang Populer

Pada rumpun Saintek, beberapa program studi menunjukkan tingkat keketatan yang cukup tinggi, menjadikannya peluang emas bagi calon mahasiswa.

Program studi Akuakultur di FIKKIA Banyuwangi mencatat keketatan tertinggi dengan 33,04 persen, diikuti Fisika (22,38 persen) dan Teknologi Hasil Perikanan (21,13 persen).

Selain itu, Akuakultur reguler (20,44 persen) dan Matematika (18,26 persen) juga termasuk kategori dengan peluang lebih besar.

Sementara itu, jurusan seperti Biologi (14,07 persen) dan Kimia (12,33 persen) masih tergolong lebih “ramah” dibandingkan program studi kesehatan yang dikenal sangat kompetitif setiap tahunnya.

BACA JUGA: 

SNBT 2026 Dibuka, Universitas Brawijaya Siapkan Ribuan Kursi: Pertanian hingga Hukum Masih Jadi Primadona

Menko Airlangga Sampaikan Arahan Peningkatan Ekonomi Sumsel

Fenomena ini menunjukkan bahwa jurusan non-favorit kerap menjadi jalur alternatif yang realistis tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.

Soshum: Strategi Cerdas di Tengah Persaingan Ketat

Pada kelompok Soshum, peluang besar juga terbuka di sejumlah program studi dengan peminat relatif lebih sedikit.

Ilmu Sejarah mencatat keketatan 16,10 persen, disusul Bahasa dan Sastra Indonesia (12,31 persen), Ekonomi Islam (11,54 persen), serta Bahasa dan Sastra Inggris (11,00 persen). Bahasa dan Sastra Jepang bahkan berada di angka 10,10 persen.

Di tengah dominasi jurusan populer seperti Psikologi dan Ilmu Komunikasi, pilihan alternatif ini bisa menjadi strategi cerdas bagi peserta SNBT 2026 yang ingin meningkatkan peluang lolos.

Jalur Vokasi: Opsi Realistis yang Sering Terlupakan

Selain jalur sarjana, data juga menunjukkan bahwa program Sarjana Terapan dan Diploma memiliki tingkat keketatan yang jauh lebih longgar.

Pada jenjang Sarjana Terapan, Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (9,31 persen), Teknologi Veteriner (6,91 persen), dan Pengobatan Tradisional (6,21 persen) menjadi pilihan dengan peluang cukup terbuka.

Sementara itu, pada jenjang Diploma III, hampir semua jurusan menawarkan persaingan yang lebih ringan.

Akuntansi (1,70 persen), Perpajakan (1,69 persen), Bahasa Inggris (1,57 persen), hingga Keperawatan (1,15 persen) menunjukkan peluang masuk yang jauh lebih besar dibandingkan jalur sarjana.

Membaca Peluang, Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Data ini menegaskan bahwa strategi masuk perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti jurusan populer.

Justru, memahami pola keketatan dan berani memilih jalur alternatif bisa menjadi kunci keberhasilan.

SNBT bukan hanya soal siapa yang paling pintar, tetapi juga siapa yang paling cermat membaca peluang.

Bagi calon mahasiswa 2026, keputusan hari ini bisa menjadi penentu masa depan esok. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *