Opini  

TEOLOGI AYAM PAK MAJID (Mengenang Kiai Abdul Majid, Guru yang Mengajari Kami Berbaik Sangka)

Selamat Jalan Guru yang Mengajari Kami Menyikapi Hidup...

Almarhum Kiai Abdul Majid

Ada orang yang mengajari kita melalui buku. Ada yang mengajari kita melalui mimbar. Ada pula yang mengajari kita melalui khutbah yang panjangnya sampai membuat jamaah diam-diam menghitung kapan khatib akan mengucapkan “Aqûlu qaulî hâdzâ…”

Oleh Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Ponpes Laa Roiba Muaraenim

Tetapi ada juga orang yang mengajari kita hanya dengan seekor ayam. Kiai Abdul Majid atau yang akrab saya panggil Pak Majid, atau sebagian jemaah memanggilnya Mbah Majid.

Ia tidak pernah mengatakan dirinya seorang guru besar. Tidak perlu. Sebab kadang-kadang seorang guru sejati justru tidak sibuk memperkenalkan dirinya sebagai guru. Ia cukup menjalani hidup, dan orang lainlah yang kemudian menemukan pelajaran dari kehidupannya.

Saya pertama kali bertemu Pak Majid pada malam Hari Raya Idul Adha 1423 H bertepatan tahun 2002 Masehi.

Malam itu sebenarnya saya hendak pulang ke Desa Telatang, Kabupaten Lahat, tempat orang tua saya tinggal.

Namun, saya membawa amanah dari Taufik Hidayat—teman kos saya saat di IAIN Raden Fatah Palembang–yang sekarang mendirikan sekaligus menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim—berupa teks khutbah Idul Adha.

Karena amanah, saya mampir ke rumah Taufik sampai numpang tidur. Rumah Taufik di belakang Masjid Jamik PTBA, Tanjung Enim, persis bersebelahan dengan Rumah Almarhum Pak Majid.

Bagi orang lain, mungkin peristiwa itu tidak ada istimewanya. Sebab, ketika itu, Saya hanya mengantarkan satu rem teks khutbah. Sudah itu, selesai.

Tetapi hidup sering bekerja dengan cara yang aneh. Kita mengira sedang mengantarkan kertas, ternyata Tuhan sedang mengantarkan kita kepada seseorang.

Kenangan Bersama Pak Majid (alm) dan Gus Amu (Ketua PC NU Muara Enim) di Muara Enim tahun 2025

Saya datang membawa teks khutbah. Saya pulang membawa pelajaran hidup. Di rumah Taufik itulah saya bertemu Pak Majid, untuk kali pertama.

Secara lahiriah, tidak ada yang membuat beliau tampak seperti seorang “tokoh besar”. Penampilannya sederhana. Hartanya biasa saja. Kerut di keningnya menyimpan panjangnya perjalanan hidup. Giginya pun sudah tidak lagi lengkap.

Tetapi bukankah manusia memang sering keliru? Kita terlalu mudah mengukur seseorang dari apa yang tampak di luar.

Kita melihat pakaian, lalu membuat kesimpulan tentang martabat. Melihat rumah, lalu menilai keberhasilan. Melihat kendaraan, lalu mengira-ngira kekayaan. Melihat gelar, lalu menganggap seseorang pasti berilmu.

Padahal, ilmu Allah tidak pernah memakai ukuran yang kita buat sendiri. Pak Majid adalah salah satu orang yang kemudian membuat saya sadar bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu memakai pakaian kemuliaan.

Malam itu saya lebih banyak diam. Saya mendengarkan percakapan Taufik dan Pak Majid.  Dari perbincangan itu saya baru mengetahui bahwa Pak Majid adalah guru khattil Quran, tempat belajar bagi puluhan bahkan ratusan pelaku kaligrafi di Sumatera Selatan.

Bersama Alm. Kiai Abd. Majid (batik paling kiri) saat diajak Sultan Iskandar Mahmud Badarudin (Sultan Palembang)  untuk keliling mengitari Bandara SMB II, untuk mengggas dan merancang Desain Visual tentang Sriwijaya di lantai II di Bandara SMB Palembang (2019), setelah sebelumnya Almarhum Kiai Abdul Majid bersama penulis dan Sultan Iskandar diskusi panjang di Kediaman Sultan Iskandar di daerah Sekip Palembang, tahun 2019. (Foto : ScreenShot : Video) 

Saya baru tahu, kalau ternyata Pak Majid, adalah satu diantara guru Kaligrafer Indonesia yang masih ada ketika itu (2002) di Sumsel.

Dalam hati saya sempat berkata: “Kenapa saya bertemu beliau sekarang, bukan ketika saya sedang getol-getolnya belajar khat?”

Kalau saja pertemuan itu terjadi ketika semangat belajar khat saya sedang tinggi-tingginya, mungkin sudah banyak karya kaligrafi yang saya lahirkan di kota ini.

Tetapi kemudian saya berpikir : Barangkali Tuhan memang tidak mempertemukan kita dengan seseorang untuk satu pelajaran saja.

Kadang kita dipertemukan bukan untuk belajar apa yang sedang kita cari, melainkan untuk menemukan sesuatu yang tidak sedang kita cari. Dan dari Pak Majid, saya menemukan sebuah pelajaran yang sampai hari ini masih saya ingat.

Pelajaran itu datang dari seekor ayam. AYAM YANG DICURIGAI.

Coba perhatikan ayam. Begitu ayam masuk ke rumah kita, apa yang biasanya kita lakukan?

“Syuuut!”

“Pergi!”

“Hus!”

Kalau perlu dikejar-kejar memakai sapu. Ayam belum melakukan apa-apa, tetapi kita sudah memberikan hukuman sosial kepadanya. Mengapa? Karena kita sudah memiliki prasangka.

Kita membayangkan ayam itu akan berak di lantai. Mengotori rumah. Mengacak-acak barang. Merusak kebersihan. Jadi sebelum ayam melakukan kesalahan, kita sudah menjatuhkan vonis. Bukankah manusia juga sering begitu?

Orang baru datang, sudah dicurigai.

Tetangga membeli mobil, kita curiga dari mana uangnya.

Teman mendapatkan jabatan, kita bilang ada “orang dalam”.

Seseorang naik pangkat, kita bilang pasti pandai mencari muka.

Orang lain memperoleh rezeki, kita sibuk menghitung dosa-dosanya. Hebat sekali manusia.

Seolah, kita bisa mengetahui niat orang lain hanya dari penampilannya.

Padahal membaca isi hati adalah pekerjaan Tuhan. Kita bahkan sering lebih rajin menjadi hakim atas orang lain daripada menjadi hakim atas diri sendiri. Ayam masuk rumah saja kita curigai. Apalagi manusia.

Ayam Pak Majid

Suatu hari, Pak Majid membiarkan seekor ayam betina masuk ke dalam rumahnya. Bagi saya aneh, yang melihat kejadian itu. Ayam masuk rumah, tetapi Pak Majid tidak mengusirnya.

Beliau tetap duduk di kursinya. Ayam itu berjalan perlahan menuju ruang tamu. Pak Majid memperhatikannya. Ayam itu mendekat. Kemudian berhenti di samping tempat Pak Majid duduk. Seolah-olah sedang mencari tempat yang nyaman.

Pak Majid tidak mengusik. Tidak menghardik. Tidak mengambil sapu. Tidak meneriakkan “hus!” Beliau hanya menunggu. Tak lama kemudian, ayam itu melompat dari kursi, berjalan keluar rumah.

Kunjungan Almarhum saat di Kantor Media Tablod METRONEWS di Palembang, thn 2010. Beliau menyempatkan hadir dalam diskusi terbatas di Kantor Redaksi.
Kunjungan Almarhum saat di Kantor Media Tabloid METRO NEWS di Palembang, thn 2010. Beliau menyempatkan hadir dalam diskusi terbatas di Kantor Redaksi.

Pak Majid tersenyum. Sebab di samping tempat duduknya ternyata tertinggal sebutir telur.

Nah. Di sinilah ayam mengajari manusia. Selama ini kita mengira ayam masuk rumah pasti membawa kotoran. Ternyata ia justru meninggalkan telur. Kita mengusirnya karena takut mendapatkan sesuatu yang buruk. Padahal ia datang membawa sesuatu yang baik.

Maka pertanyaannya sederhana: Berapa banyak orang yang sudah kita usir dari kehidupan kita hanya karena kita takut pada keburukannya, padahal mungkin ia datang membawa kebaikan yang belum sempat kita kenali?

Dan pertanyaan yang lebih pedas: Berapa banyak kebaikan yang gagal kita terima hanya karena kita terlalu sibuk mencurigai siapa yang membawanya?

Su’udzon : Penyakit yang tidak kelihatan

Di sinilah cerita ayam Pak Majid berubah dari lelucon menjadi semacam “teologi kehidupan”. Kita sering menganggap su’udzon hanya persoalan akhlak. Padahal ia juga persoalan cara kita memandang dunia.

Orang yang terbiasa berburuk sangka akan melihat kebaikan sebagai jebakan.

Melihat bantuan sebagai kepentingan.

Melihat senyum sebagai basa-basi.

Melihat pemberian sebagai pencitraan.

Melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman.

Akhirnya hidup menjadi melelahkan.

Sebab setiap orang dianggap musuh sebelum terbukti sebagai kawan.

Setiap peristiwa dicurigai sebelum dipahami. Setiap pemberian dicari motif tersembunyinya.

Padahal Islam mengajarkan husnuzhon—berbaik sangka. Bukan berarti kita harus menjadi manusia polos yang mudah ditipu. Bukan.

Islam tetap mengajarkan kewaspadaan. Tetapi kewaspadaan berbeda dengan kecurigaan.

Kita boleh berhati-hati terhadap seseorang, tetapi jangan buru-buru menghakimi isi hatinya.

Sebab hati adalah wilayah yang tidak diberikan Allah kepada kita untuk menguasainya.

Telur Sebutir dan Cermin Sebesar Dunia

Ada yang menarik dari ayam Pak Majid.

Ayam itu tidak berpidato. Tidak berceramah. Tidak mengutip ayat.

Tidak membuat seminar tentang “Pentingnya Husnuzhon di Era Digital.”

Ia hanya bertelur. Tetapi justru dari sebutir telur itu, kita bisa bercermin.

Bukankah manusia sering terlalu banyak bicara tentang kebaikan, tetapi terlalu sedikit menghasilkan kebaikan?

Kita hafal banyak ayat tentang sedekah, tetapi tangan terasa berat ketika diminta memberi.

Kita hafal hadis tentang persaudaraan, tetapi grup WhatsApp kita penuh dengan gunjingan.

Kita bicara tentang ukhuwah, tetapi mudah memutus silaturahmi hanya karena perbedaan pilihan.

Kita menyerukan persatuan, tetapi sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Kita mengaku mencintai Nabi, tetapi akhlak kita kadang belum sempat mengenal Nabi.

Ayam tidak pernah mengaku saleh. Ia tidak pernah mengatakan, “Saya akan memberi manfaat kepada manusia.” Ia hanya melakukan apa yang menjadi fitrahnya. Dan manusia?

Kita memiliki akal, ilmu, bahasa, hati, tangan, kaki, harta, jabatan, kesempatan—tetapi terkadang untuk memberikan manfaat kepada orang lain saja kita harus berpikir tujuh kali.

Maka ayam Pak Majid seperti sedang bertanya: “Kalau saya saja bisa meninggalkan telur, kamu meninggalkan apa?”

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi mungkin justru karena sederhana ia menjadi menakutkan. Sebab kelak yang ditanyakan Tuhan kepada kita bukan seberapa banyak kita berbicara tentang kebaikan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang benar-benar kita tinggalkan.

Allah mengingatkan:  “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Ayam Pak Majid mungkin tidak memahami ayat itu. Tetapi ia menjalankannya dengan caranya sendiri. Ia masuk ke rumah. Tidak mengotori. Tidak merusak. Lalu meninggalkan telur. Sedangkan kita?

Kadang masuk ke kehidupan orang lain dengan membawa iri hati. Masuk ke sebuah kelompok membawa kepentingan. Masuk ke sebuah jabatan membawa ambisi. Masuk ke sebuah persahabatan membawa perhitungan. Dan setelah keluar, yang tertinggal bukan telur. Melainkan masalah.

Pak Majid dan Warisan yang Tak Tertulis

Kini  Pak Majid telah pergi (14 September 2026). Tetapi orang seperti beliau barangkali tidak benar-benar pergi. Sebab manusia tidak hanya meninggalkan rumah, tanah, uang, atau benda.

Ada manusia yang meninggalkan cara berpikir. Ada yang meninggalkan cara memandang kehidupan. Ada yang meninggalkan kalimat sederhana yang bertahun-tahun kemudian baru kita mengerti.

Pak Majid meninggalkan kepada saya cerita seekor ayam. Bagi orang lain, mungkin itu hanya cerita lucu. Bagi saya, ia adalah sebuah pelajaran tentang manusia.

Tentang su’udzon dan husnuzhon.

Tentang bagaimana kita terlalu cepat mengusir sesuatu yang belum kita pahami.

Tentang bagaimana kita sering melihat kotoran sebelum melihat telur.

Tentang bagaimana manusia lebih mudah menemukan alasan untuk membenci daripada alasan untuk memahami.

Dan mungkin, inilah salah satu bentuk ilmu yang paling mahal: ilmu untuk tidak tergesa-gesa menilai.

Sebab kita tidak pernah tahu apa yang sedang dibawa seseorang ketika ia datang kepada kita. Bisa jadi ia membawa masalah. Bisa jadi ia membawa ujian. Tetapi bisa jadi pula ia membawa telur. Dan tugas kita bukan selalu mengusir.

Kadang-kadang tugas kita hanya memberi ruang, mengamati, bersabar, lalu membiarkan kebaikan menunjukkan dirinya sendiri. Terima kasih, Pak Majid.

Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa cerita ayam itu masih saya simpan sampai bertahun-tahun kemudian. Tetapi begitulah guru. Ia tidak pernah tahu pelajaran mana yang kelak paling lama tinggal di kepala muridnya.

Almarhum Kiai Abdul Majid saat singgah di Pondok Kami (Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Rahmat Palembang), mengajari anak saya (M Kahfi El Hakim) menggambar dan menulis Kaligrafi, tahun 2017), dan menginap semalam di pondok kami.

Kepada Anda para kaligrafer, Pak Majid mengajari khat. Tetapi kepada saya, dan kepada kita, Pak Majid meninggalkan pelajaran yang lebih luas: Jangan buru-buru mengusir sesuatu hanya karena kita takut ia membawa kotoran.  Sebab boleh jadi, setelah ia pergi, kita baru sadar: ternyata ia meninggalkan sebutir telur. 

Dan mungkin, sebutir telur itu adalah cara Tuhan menegur kita: “Jangan terlalu cepat berburuk sangka. Tidak semua yang masuk ke rumahmu datang untuk mengotorinya.”

Selamat jalan, Kiai Abdul Majid.  Ayahku, Guruku yang mengajariku cara memandang dan menyikapi hidup. Seamat jalan..selamat jalan…

Insya Allah menerima seluruh amal baik panjenengan, mengampuni segala khilaf, melapangkan alam kubur, dan menempatkan panjenengan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan semoga kami yang masih hidup ini tidak hanya pandai mengenang panjenengan, tetapi juga mampu menjadi manusia yang meninggalkan telur-telur kebaikan bagi kehidupan.

Sebab pada akhirnya, barangkali ukuran hidup bukanlah berapa lama kita tinggal di dunia. Melainkan: setelah kita pergi, apa yang masih bisa dirasakan orang lain dari kebaikan yang pernah kita tinggalkan.**

Tanjung Enim, Idul Adha 1423 H/2002 M

ditulis kembali sebagai In Memoriam Kiai Abdul Majid pada 01.42 WIB dini hari Hari Selasa, 15 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *