Kolektif IBU menggelar pameran perdana “Benah Benih” di Yogyakarta. Mereka membawa lukisan buangan, daster, sajadah, saset kopi, cermin, hingga aroma ke dalam percakapan tentang ibu dan ingatan.
YOGYAKARTA — Di belakang gedung kampus seni, sesuatu yang seharusnya menjadi karya telah berubah menjadi barang buangan. Lukisan-lukisan yang pernah dibuat dengan tenaga, waktu, uang, dan mungkin juga ambisi, teronggok di tempat pembuangan sampah.
Bagus Lintang Pamungkas menemukan benda-benda itu di sana.
Ia tidak membawanya pulang karena tiba-tiba menemukan ilham. Ada alasan yang lebih sederhana: menghemat ongkos produksi. Namun dari alasan sederhana itu muncul pertanyaan yang lebih mengganggu. Mengapa sebuah kampus seni dapat menghasilkan sampah seni?
Pertanyaan itulah yang kemudian dibawa Bagus ke dalam “Adopsi Seri”, salah satu karya dalam pameran perdana Kolektif IBU bertajuk “Benah Benih”.
Pameran itu dibuka pada Sabtu, 5 September 2026, pukul 16.00 WIB di Rumah Jala Production milik Bonnie Hermansyah, Jalan Jogoripon Barat, Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Empat mahasiswa angkatan pertama Program Studi Seni Intermedia Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta—Bagus, Yazid Ibrahim Movic Albadi alias Bram, Muhammad Hanan Izzuddin alias Izzu, dan Naufal Al Rabbani—untuk pertama kalinya membawa pekerjaan mereka ke hadapan publik di luar lingkungan kampus.
Mereka menyebut diri Kolektif IBU.
Nama itu terdengar sederhana, bahkan akrab. Tetapi dalam pameran ini, “ibu” bukan sekadar perempuan yang melahirkan. Ia menjadi ruang ingatan: rumah, kehilangan, kasih sayang, kebiasaan, benda-benda domestik, juga hal-hal yang barangkali baru terasa penting ketika seseorang mulai jauh dari rumah.
Pameran dibuka oleh seniman senior Yogyakarta Samuel Indratma. Catatan kuratorial ditulis Syam Terajana.
Lukisan yang Dibuang
Bagus mengambil lukisan-lukisan rusak yang ditemukan di tempat pembuangan di belakang kampusnya. Ia tidak mengecat ulang seluruh permukaan atau menyulapnya menjadi benda baru yang tampak mengilap. Jejak masa lalunya justru dipertahankan.
Tanggal dan nama seniman, sejauh masih dapat dilacak, tetap dicantumkan.
Di sana ada semacam pembalikan. Sampah yang biasanya disingkirkan justru diberi panggung. Karya yang dianggap selesai atau gagal kembali dipaksa untuk berbicara.
“Lukisan yang hadir ini, yang rusak-rusak ini, bukan buatanku semua. Buatan orang lain,” kata Bagus.
Ia mengatakan karyanya bukan semata-mata hendak menyudutkan pembuat lukisan maupun kampus. Yang ingin dibuka adalah percakapan tentang penghargaan terhadap kerja artistik.
“Menurutku rada aneh kampus seni memproduksi atau menjadi produsen sampah seni,” ujarnya.
Di titik ini “Adopsi Seri” tidak lagi sekadar perkara daur ulang bahan. Ia menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah institusi pendidikan seni memperlakukan hasil kerja yang pernah dianggap penting.
Seni rupanya juga memiliki tempat pembuangan.
Dan seperti sampah pada umumnya, sesuatu baru dianggap tidak berguna setelah tidak lagi dibutuhkan.
Ibu yang Tidak Tunggal
Jika Bagus berangkat dari benda yang ditemukan di luar dirinya, tiga anggota lain lebih banyak menggali sesuatu yang tersimpan di dalam diri: ingatan.
Bram, Izzu, dan Naufal mengolah pengalaman personal tentang rumah, keluarga dan ibu. Mereka tidak menghadirkan ibu dalam satu wajah yang utuh. Ingatan justru muncul dalam serpihan.
Daster.
Sajadah.
Cermin.
Teks.
Saset kopi.
Cetakan gambar.
Aroma.
Bahkan makanan kecil.
Benda-benda yang sehari-hari tampak remeh itu memperoleh kehidupan baru ketika ditempatkan dalam ruang pamer.
Di sinilah seni intermedia bekerja: medium tidak harus tunduk pada batas-batas lama. Lukisan tidak harus berbicara hanya melalui kanvas. Patung tidak harus berhenti pada bentuk tiga dimensi. Bunyi, aroma, tubuh, teks, benda rumah tangga, bahkan pengalaman penonton dapat menjadi bagian dari karya.
Bram melihat intermedia sebagai kemungkinan untuk “mengawinkan” berbagai disiplin medium yang sebelumnya terasa berjarak. Perkawinan itu dilakukan bukan sekadar untuk membuat karya tampak eksperimental, melainkan untuk menyampaikan kritik, makna, dan pesan kepada masyarakat.
Dalam “Benah Benih”, campuran medium tersebut justru membuat tema ibu semakin tidak sederhana.
Syam Terajana dalam catatan kuratorialnya menyebut pendekatan tersebut sebagai semacam “awuran” medium. Ibu hadir melalui berbagai benda dan pengalaman yang tidak selalu memiliki hubungan langsung.
Namun justru karena tidak langsung itulah ingatan bekerja.
Ingatan jarang datang dalam bentuk lengkap.
Ia biasanya muncul dari suara tertentu, bau tertentu, kain tertentu, makanan tertentu, atau benda yang tiba-tiba membuat seseorang terlempar ke masa lalu.
“Ibu,” tulis Syam, “berusaha dihadirkan lewat ketidakhadirannya.”
Kalimat itu menjadi semacam kunci untuk memasuki pameran.
Ibu mungkin tidak berada di ruang pamer. Tetapi jejaknya ada di mana-mana.
Benah Rasa
“Benah Benih” terdengar seperti pekerjaan yang belum selesai.
Ada sesuatu yang sedang dibenahi, tetapi juga sesuatu yang baru ditanam.
Bagi Kolektif IBU, judul tersebut berkaitan dengan usaha membenahi rasa sekaligus menjadi benih awal perjalanan mereka sebagai kelompok seniman muda.
Kolektif itu sendiri lahir tanpa upacara resmi. Bram mengenang pembentukannya berlangsung spontan di trotoar Universitas Sebelas Maret (UNS), ketika mereka berbuka puasa bersama pada Ramadan 2026.
Dari percakapan yang tidak terlalu formal itu tumbuh keinginan untuk bekerja bersama.
Kemudian mereka memilih Yogyakarta sebagai tempat pameran pertama.
Pilihan itu bukan tanpa alasan.
Mereka ingin keluar dari “kandang” Solo.
Bukan karena Solo tidak cukup, melainkan karena medan seni tidak berhenti pada batas kota tempat seseorang belajar. Mereka ingin melihat bagaimana karya mereka dibaca di tempat lain, bertemu seniman lain, memperluas pertemanan dan membangun jaringan.
“Medan seni rupa yang kita baca pinginnya kita itu nggak cuma dari Solo,” kata Bram.
Mereka ingin membuka relasi dan melihat siapa saja yang bergerak di medan seni rupa Yogyakarta.
Bagi empat mahasiswa ini, pameran perdana bukan semata-mata pembuktian bahwa mereka mampu membuat karya. Ia juga semacam perjalanan keluar dari lingkungan yang sudah mereka kenal.
Kolektif, pada akhirnya, bukan hanya soal bekerja bersama.
Ia juga soal menemukan dunia di luar diri sendiri.
Oplosan yang Tidak Sembarangan
Samuel Indratma melihat keberanian menggunakan beragam medium sebagai salah satu kekuatan pameran ini.
Namun kebebasan medium memiliki jebakannya sendiri. Ketika semua benda boleh menjadi medium seni, persoalannya bukan lagi apakah sebuah benda dapat dijadikan karya, melainkan apakah seniman mengetahui mengapa benda itu dipilih.
Kebebasan dapat menjadi kemerdekaan.
Tetapi kebebasan juga dapat menjadi kebingungan.
Karena itu, menurut Samuel, tantangan seni intermedia adalah ketelitian dalam memaknai pilihan medium.
“Campuran” tidak dengan sendirinya menjadi karya.
“Eksperimental” juga bukan jaminan bahwa sebuah karya akan berbicara.
Di situlah empat mahasiswa ini sedang diuji.
Mereka masih berada pada awal perjalanan. Karya-karya mereka mungkin belum semuanya menemukan bentuk yang paling matang. Tetapi justru karena masih mencari, ada energi yang terasa hidup.

Samuel mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah pameran tidak berhenti pada hari pembukaan atau tepuk tangan penonton.
Yang lebih penting adalah keberlanjutan.
Apakah apa yang mereka temukan hari ini akan dibawa ke perjalanan berikutnya?
Apakah kritik terhadap sampah seni akan berkembang menjadi pembacaan yang lebih luas tentang institusi pendidikan?
Apakah memori tentang ibu akan terus digali ketika mereka beranjak dari mahasiswa menjadi seniman?
Dan apakah “Benah Benih” benar-benar akan menjadi benih?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum membutuhkan jawaban sekarang.
Keluar untuk Kembali
Seni rupa punya cara sendiri untuk menguji seseorang. Kadang ia meminta seniman meninggalkan rumah. Kadang justru memaksanya kembali ke rumah melalui ingatan.
Kolektif IBU melakukan keduanya.
Mereka meninggalkan Solo menuju Yogyakarta untuk mencari medan yang lebih luas. Tetapi karya-karya mereka justru membawa mereka kembali ke ruang paling personal: rumah, keluarga, ibu, dan benda-benda yang selama ini mungkin dianggap biasa.
Ada ironi kecil di sana.
Untuk menemukan sesuatu yang baru, mereka harus berani keluar.
Tetapi setelah keluar, mereka menemukan bahwa yang mereka bawa adalah sesuatu yang sangat lama.
Ingatan.
Dan dari tempat pembuangan kampus, Bagus membawa pulang lukisan-lukisan yang telah kehilangan pemiliknya. Dari rumah dan masa lalu, Bram, Izzu, dan Naufal membawa benda-benda yang belum selesai kehilangan maknanya.
Barangkali itulah “Benah Benih”.
Membenahi apa yang selama ini dianggap selesai.
Menanam kembali apa yang sempat dibuang.
Dan menguji apakah sesuatu yang kecil, ketika dirawat, dapat tumbuh menjadi perjalanan yang lebih panjang.
Pameran perdana itu akhirnya bukan sebuah kesimpulan.
Ia baru sebuah awal.
Samuel menyebut keberhasilan kerja seni justru terletak pada kesinambungannya: apa yang ditemukan hari ini perlu ditakar kembali untuk perjalanan berikutnya, diperdalam, lalu dihadirkan kembali kepada publik.
Bagi empat mahasiswa ini, panggung pertama telah dibuka.
Kini mereka tinggal membuktikan apakah benih itu akan tumbuh.
Atau kembali menjadi sesuatu yang kelak dibuang.
Teks / Foto : Jajang R Kawentar | Editor : Imron Supriyadi












