Warga Tanjung Beringin Resah! Gelombang Pencurian Semakin Marak

Foto ilustrasi

Empat Lawang – Keresahan melanda warga Tanjung Beringin kelurahan Pasar Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang dalam beberapa bulan terakhir.

Aksi pencurian yang terus berulang, mulai dari skala kecil hingga menyasar peralatan usaha, membuat masyarakat hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan resah.

Tidak hanya merugikan secara materi, kejadian ini juga memicu kekhawatiran akan keamanan lingkungan yang semakin melemah.

Sejumlah warga menjadi korban dalam rentetan kasus pencurian yang terjadi hampir tanpa jeda.

Khoiri, salah satu warga, mengaku kehilangan berbagai barang penting dari rumahnya. Mulai dari wajan besar, tempat masak air berukuran besar, sarung, hingga tabung gas dan salon speaker.

Barang-barang tersebut bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menunjang kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Saya sangat kaget, karena hampir semua barang yang biasa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga hilang. Ini sangat merugikan,” ungkap Khoiri dengan nada kecewa.

Tak hanya itu, pelaku usaha kecil pun ikut terdampak. Hendra, seorang tukang las, harus menelan kerugian besar setelah peralatan kerja las miliknya digondol pencuri.

Kehilangan ini tentu berdampak langsung pada penghasilannya, mengingat alat tersebut merupakan sumber utama mata pencahariannya.

Hal serupa dialami Dina, pemilik usaha katering. Ia kehilangan oven yang biasa digunakan untuk memasak kue. Kehilangan alat produksi tersebut membuat aktivitas usahanya terganggu bahkan terancam berhenti sementara.

Rita, warga lainnya, juga mengaku kehilangan berbagai peralatan memasak dari rumahnya.

Kejadian ini semakin memperpanjang daftar korban dan memperkuat kekhawatiran warga bahwa aksi pencurian di wilayah ini sudah semakin sistematis dan berani.

Sementara itu, Iwan mengalami kejadian yang tak kalah mengejutkan. Rolling door miliknya ditemukan dalam kondisi telah dicongkel oleh pelaku.

BACA JUGA

Polsek Tebing Tinggi Amankan Terduga Pencuri Mobil

Pelaku Pencurian Dengan Penganiayaan diringkus Polisi

Meski belum sempat membawa barang, aksi tersebut menunjukkan bahwa pelaku tidak segan merusak fasilitas demi melancarkan aksinya.

Tidak hanya menyasar barang elektronik dan peralatan rumah tangga, pencurian juga menyasar sektor peternakan warga.

Safran mengaku kehilangan sejumlah ayam peliharaannya. Bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil ternak, kehilangan ini tentu menjadi pukulan berat.

Hasan pun turut menjadi korban. Ia kehilangan stok kopi beserta terpal yang digunakan untuk melindungi barang dagangannya.

Kejadian tersebut disebut sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir, menandakan bahwa aksi pencurian ini bukan insiden tunggal, melainkan rangkaian kejadian yang terus berulang.

Bahkan pada 7 April 2026 sekitar pukul 15.30 wib kemarin, percobaan pencurian tabung gas milik Caesar.

Seorang remaja kisaran usia 14 tahun mencoba mencuri tabung gas milik Caesar. Untung saja di ketahui oleh warga dan sempat di interogasi oleh sejumlah warga.

“Iya betul, saya lagi berada dalam rumah, lalu ada suara gaduh, ternyata ada orang yang hendak mencuri tabung gas usaha kecil kami,”ungkap Caesar.

Yang lebih mengkhawatirkan, aksi pencurian juga menyasar tempat ibadah. Di Masjid Al Huda, telah terjadi dua kali percobaan pencurian sepeda motor.

Percobaan pertama terjadi pada hari Jumat di bulan Ramadan, sementara kejadian kedua berlangsung pada Rabu, 8 April 2026, saat waktu salat Subuh.

Meski belum berhasil membawa kendaraan, upaya tersebut membuat jamaah semakin waspada dan merasa tidak aman bahkan saat beribadah.

Fenomena ini memicu kekhawatiran kolektif di tengah masyarakat. Warga menilai bahwa tingkat keamanan lingkungan saat ini sudah sangat memprihatinkan.

Banyak yang merasa bahwa pelaku pencurian semakin berani karena minimnya pengawasan serta lemahnya sistem keamanan di lingkungan tersebut.

Sejumlah warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah setempat serta aparat penegak hukum.

Mereka mendesak agar patroli keamanan ditingkatkan, terutama pada malam hingga dini hari, yang dianggap sebagai waktu rawan terjadinya pencurian.

Selain itu, masyarakat juga mulai berinisiatif untuk meningkatkan sistem keamanan secara mandiri.

Beberapa warga mengusulkan pengaktifan kembali ronda malam serta pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik strategis.

Namun demikian, mereka tetap berharap adanya dukungan dari pemerintah agar upaya tersebut dapat berjalan maksimal.

“Kami butuh tindakan nyata, bukan hanya imbauan. Kalau ini terus dibiarkan, kami khawatir akan semakin banyak korban,” ujar Tarsusi salah satu warga.

Ia pun berharap, apapun bentuknya harus ada solusi dari pemerintah. Baik itu lurah maupun RT dan RW harus ada gerakan nyata.

“Apakah dibentuk kembali ronda malam, atau dibentuk petugas khusus ronda malam. Ini harus disikapi betul oleh pemerintah bersama warga,”tegasnya seraya menyebut harga mati untuk keamanan ya harus dibuatkan pos jaga, jadi masyarakat bisa bergiliran dibuatkan piket jaga malam.

Kondisi ini menjadi peringatan penting bahwa keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, namun tetap membutuhkan peran aktif pemerintah dan aparat.

Tanpa langkah konkret dan cepat, bukan tidak mungkin aksi pencurian akan terus meningkat dan meresahkan masyarakat lebih luas.

Dengan meningkatnya kasus yang terjadi, warga Tanjung Beringin kini hanya berharap satu hal: rasa aman kembali hadir di lingkungan mereka.

Mereka ingin bisa beraktivitas, bekerja, dan beribadah tanpa dihantui rasa takut akan kehilangan.

Sebelumnya, pernah dilakukan rapat warga bersama lurah. Untuk kepastian dan partisipasi keamanan lingkungan.

Apakah dibentuk petugas jaga malam atau dibuat jadwal piket ronda malam.

Serta rencana membuat pos jaga keamanan lingkungan. Namun hal itu berjalan ditempat tidak ada gerakan nyata baik itu dari RT RW maupun lurah yang kini dinantikan oleh warga.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *