Ketika MUI Muara Enim dan PT Bukit Asam Menyatukan Dakwah dan Pemberdayaan

Membangun Desa dari Mimbar, Sinergi Wujudkan Desa Berkarakter

pertemuan silaturahmi dan audiensi antara jajaran Pengurus MUI Kabupaten Muara Enim dengan manajemen PT Bukit Asam (Persero) Tbk yang berlangsung di Ruang VIP Pertemuan PTBA, Tanjung Enim, Kamis (2/7/2026).

Penguatan karakter bukan sekadar ceramah di atas mimbar, tetapi ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam dalam denyut kehidupan masyarakat desa. Itulah semangat yang melandasi sinergi MUI Kabupaten Muara Enim dan PT Bukit Asam.

TANJUNG ENIM – Suasana Ruang VIP PT Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim, Senin (6/7/2026), terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada pembahasan mengenai target produksi batu bara, angka investasi, ataupun strategi bisnis perusahaan. Yang hadir justru para ulama dan pengelola program pemberdayaan masyarakat. Yang diperbincangkan pun bukan soal keuntungan perusahaan, melainkan bagaimana membangun manusia agar menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan desa.

Pertemuan silaturahmi antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim dan manajemen PT Bukit Asam menjadi penanda lahirnya sebuah ikhtiar bersama: menyatukan pembangunan fisik dengan pembangunan ruhani.

Ketua Umum MUI Kabupaten Muara Enim, KH. Dr. Solihan, M.Pd.I., memimpin langsung rombongan pengurus harian MUI. Dari pihak PT Bukit Asam hadir mewakili Sustainability Division Head, Dedy Saptaria Rosa, yakni Mustafa Kamal, didampingi jajaran Sustainable Community Development PTBA.

Bagi MUI, dakwah tidak boleh berhenti di mimbar masjid. Dakwah harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, menguatkan keluarga, membangun karakter generasi muda, dan menumbuhkan budaya gotong royong sebagai bagian dari ajaran Islam.

“Pembangunan fisik akan kehilangan makna jika manusianya tidak dibangun. Jalan bisa diaspal, gedung bisa didirikan, tetapi karakter hanya bisa dibangun melalui pembinaan nilai dan keteladanan,” ujar KH. Solihan.

Kalimat itu menjadi ruh dari seluruh gagasan yang dipaparkannya.

Dakwah yang Menyentuh Kehidupan

Selama ini, PT Bukit Asam dikenal aktif menjalankan berbagai program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Berbagai bantuan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga pembinaan UMKM telah dilakukan di desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan.

Namun MUI mengingatkan, pembangunan yang hanya bertumpu pada aspek ekonomi belum tentu melahirkan masyarakat yang kuat.

Islam mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan hanya soal terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga hadirnya akhlak, kejujuran, kepedulian sosial, serta keluarga yang harmonis.

Karena itulah MUI menawarkan konsep Penguatan Karakter Desa, sebuah model pembinaan masyarakat yang berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Menurut KH. Solihan, perubahan besar selalu dimulai dari perubahan manusia.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat inilah yang menjadi pijakan utama dalam merancang program bersama tersebut.

Dari Individu hingga Desa

Model pembinaan yang ditawarkan MUI disusun secara bertahap.

Pertama, membangun karakter individu melalui pembinaan akhlak dan pembentukan Duta Karakter Desa sebagai teladan di tengah masyarakat.

Kedua, memperkuat ketahanan keluarga melalui pendidikan parenting Islami, pembinaan pasangan suami istri, serta literasi keuangan keluarga agar tercipta rumah tangga yang sakinah sekaligus produktif.

Ketiga, memperkuat kelompok masyarakat, mulai dari majelis taklim, kelompok tani, organisasi pemuda hingga komunitas perempuan agar budaya gotong royong kembali menjadi tradisi.

Tahap terakhir adalah melahirkan Gerakan Desa Berkarakter, yakni desa yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki kehidupan sosial yang harmonis, kepemimpinan yang amanah, serta masyarakat yang menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai langkah awal, program ini akan diterapkan di wilayah Ring 1 PT Bukit Asam, meliputi Desa Lingga, Desa Darmo, dan Tanjung Karangan, sebelum diperluas ke desa-desa lainnya di Kabupaten Muara Enim.

Sinergi Dakwah dan Dunia Usaha

Mewakili PT Bukit Asam, Mustafa Kamal menyampaikan apresiasi atas inisiatif MUI Kabupaten Muara Enim yang menawarkan pola kemitraan berbasis kelembagaan.

Menurutnya, selama ini perusahaan telah menjalin komunikasi dengan banyak tokoh agama. Namun, kerja sama tersebut lebih banyak dilakukan secara personal.

Kini PT Bukit Asam ingin membangun kolaborasi yang lebih sistematis bersama lembaga yang memiliki legitimasi keagamaan dan kedekatan dengan umat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada MUI Kabupaten Muara Enim atas kesediaannya menjadi mitra strategis. Ke depan kami siap saling mendukung agar program-program pemberdayaan masyarakat berjalan lebih optimal,” ujar Mustafa.

Ia menilai, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya program yang dijalankan, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya.

Karena itu, penguatan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan.

Masjid sebagai Pusat Peradaban

Dalam perspektif Islam, masjid bukan hanya tempat mendirikan salat. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, masjid menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, musyawarah, hingga pembinaan masyarakat.

Semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui sinergi antara MUI dan PT Bukit Asam.

MUI berharap, setiap desa nantinya memiliki komunitas yang tumbuh dari semangat masjid: masyarakat yang gemar bermusyawarah, saling menolong, menjaga amanah, dan merawat hasil pembangunan bersama-sama.

Ketika nilai-nilai masjid hidup di tengah masyarakat, pembangunan tidak lagi hanya menghasilkan bangunan yang megah, tetapi juga melahirkan manusia yang berakhlak mulia.

Menuju Desa yang Berkah

Audiensi tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk segera menyusun langkah-langkah teknis pelaksanaan program di lapangan.

Lebih dari sekadar kerja sama kelembagaan, pertemuan itu menghadirkan optimisme bahwa dakwah dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan ekonomi.

PT Bukit Asam menghadirkan sumber daya dan program pemberdayaan. MUI menghadirkan nilai, pembinaan, dan keteladanan.

Keduanya berpadu dalam satu tujuan: menghadirkan desa yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara spiritual, harmonis dalam kehidupan sosial, dan berkah dalam setiap langkah pembangunannya.

Sebab, sebagaimana diajarkan Islam, kemajuan yang sejati bukan hanya tampak pada banyaknya bangunan yang berdiri, melainkan pada hadirnya manusia-manusia yang jujur, amanah, dan bertakwa. Dari sanalah lahir sebuah masyarakat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr—negeri yang baik, makmur, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah Swt. (imr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *