Jakarta | Gejolak nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah mata uang Garuda nyaris menyentuh level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat.
Situasi ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan pelaku pasar, terutama karena pelemahan rupiah sering dikaitkan dengan ancaman terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Namun di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut”Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.Menurutnya, kondisi ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang relatif kuat dan stabil.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya ketika kurs dolar AS ditutup di level Rp17.795 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026.
Ia menilai kondisi saat ini berbeda jauh dibanding masa-masa krisis ekonomi terdahulu yang dipicu lemahnya fundamental ekonomi dalam negeri.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan.
Purbaya Sentil Ekonom”Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026 menurut BPS
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga optimisme pasar di tengah tekanan global yang mempengaruhi pergerakan mata uang berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global, ketidakpastian geopolitik, hingga pergerakan suku bunga internasional yang masih tinggi.
Meski demikian, pemerintah menilai kondisi ekonomi domestik masih cukup solid untuk menghadapi tekanan eksternal tersebut.
Purbaya juga memastikan pemerintah belum melihat perlunya melakukan simulasi ulang atau stress test terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, berbagai skenario pelemahan rupiah sebenarnya sudah diperhitungkan sebelumnya, termasuk ketika harga minyak dunia diasumsikan mencapai US$100 per barel.
Pemerintah juga disebut terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah tersebut bertujuan menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali agar kepercayaan investor tidak terganggu.
Menariknya, di tengah pelemahan rupiah, yield obligasi pemerintah justru mengalami penurunan. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahwa investor masih melihat pasar keuangan Indonesia memiliki daya tarik.
Menurut Purbaya, stabilitas pasar obligasi menjadi faktor penting dalam menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.
Ia bahkan menyebut pemerintah akan kembali mengambil langkah lanjutan untuk membantu memperkuat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
Situasi ini menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Di era ekonomi global yang saling terhubung, gejolak mata uang kerap dipengaruhi sentimen eksternal yang bergerak sangat cepat.
Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap harga impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.
Pemerintah pun dituntut menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, kepercayaan investor, dan perlindungan terhadap sektor riil.
Di tengah tekanan tersebut, optimisme pemerintah menjadi pesan penting bahwa Indonesia dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak global yang belum sepenuhnya mereda.
**












