Jakarta | Nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Bayang-bayang krisis moneter 1998 pun mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Namun pemerintah menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding situasi menjelang reformasi dua dekade silam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencoba meredam kekhawatiran publik dengan menegaskan bahwa pelemahan rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek pasar global, bukan tanda runtuhnya fundamental ekonomi nasional.
Dalam keterangannya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Purbaya menyebut banyak pihak terlalu cepat menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1997–1998.
Menurutnya, situasi ekonomi Indonesia sekarang jauh lebih stabil dibanding masa krisis moneter dahulu.
Ia menjelaskan bahwa pada 1997 Indonesia sudah memasuki fase resesi sebelum gejolak politik dan ekonomi membesar. Sementara saat ini, pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik, dan sektor keuangan masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor setelah IHSG sempat turun di bawah level 6.500. Pelemahan pasar saham dan kurs rupiah membuat sebagian masyarakat khawatir terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi nasional.
Namun Purbaya justru meminta investor dan masyarakat tetap tenang. Ia bahkan menyebut kondisi pasar saham saat ini masih berpotensi pulih dalam waktu singkat.
Menurut analisa teknikal yang disampaikannya, IHSG diperkirakan bisa kembali menguat dalam satu hingga dua hari ke depan.
Pernyataan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi nasional. Sebab dalam dunia finansial, persepsi dan psikologi pasar sering kali memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi.
Purbaya Sentil Ekonom”Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026 menurut BPS
Di era media sosial, isu ekonomi juga bergerak jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Narasi mengenai ancaman krisis dapat menyebar luas hanya dalam hitungan jam dan memicu kepanikan publik.
Karena itu, pemerintah berusaha memastikan masyarakat memperoleh informasi yang lebih seimbang terkait kondisi ekonomi nasional.
Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius. Nilai tukar mata uang sangat berpengaruh terhadap harga impor, biaya produksi industri, hingga inflasi. Jika tekanan berlangsung lama, daya beli masyarakat juga dapat ikut terdampak.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor domestik, tetapi juga kondisi global. Penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, hingga arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah masih percaya fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Konsumsi masyarakat yang tetap tinggi, proyek hilirisasi industri, dan stabilitas sektor perbankan disebut menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Bagi masyarakat, gejolak rupiah memang selalu memiliki efek psikologis tersendiri karena trauma krisis 1998 masih membekas dalam ingatan publik. Namun pemerintah berusaha menegaskan bahwa kondisi hari ini berbeda, baik dari sisi cadangan devisa, pengelolaan fiskal, maupun stabilitas politik nasional.
Kini tantangan terbesar pemerintah bukan hanya menjaga angka ekonomi tetap stabil, tetapi juga menjaga kepercayaan publik agar tidak mudah terpengaruh oleh kepanikan dan spekulasi yang berkembang di ruang digital.
**












