Religi  

Mengetuk Pintu Langit : MUI dan Pemkab Muara Enim Ajak Umat Gelar Shalat Istisqa

Diselengagrakan pada Hari Kamis, 2 September 2026 | Pkl. 07.00 | Di Halaman Kantor Bupati Muara Enim

Memohon Hujan, Menguatkan Istighfar, dan Mengharap Rahmat Allah SWT di Tengah Kemarau

KH DR Solihan, S.Ag, M.Pd,I, Ketua MUI Kabupaten Muara Enim

MUARA ENIM — Ketika langit mulai jarang menurunkan hujan, tanah mengering, sumber air menyusut, dan ancaman kebakaran hutan dan lahan membayangi sejumlah wilayah, manusia kembali diingatkan akan satu kenyataan: betapa lemahnya manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Di tengah kondisi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Muara Enim mengajak umat Islam untuk tidak hanya melakukan ikhtiar secara lahiriah, tetapi juga mengetuk pintu langit melalui Shalat Istisqa.

Shalat Istisqa akan dilaksanakan di Masjid Agung Muara Enim pada pukul 09.00 WIB, atas kerja sama MUI Kabupaten Muara Enim dan Masjid Agung Muara Enim.

Ketua MUI Kabupaten Muara Enim, Dr. H. Solihan, M.Pd.I., mengajak seluruh umat Islam menjadikan Shalat Istisqa sebagai momentum untuk merendahkan diri, memperbanyak istighfar, memperkuat doa dan mengembalikan kesadaran bahwa air, hujan dan kehidupan seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

“Shalat Istisqa adalah bentuk ketundukan dan pengakuan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ketika air berkurang dan hujan belum turun sebagaimana yang kita harapkan, kita kembali memohon kepada Allah SWT,” ujar Solihan.

Ketika Air Menjadi Langka

Kemarau bukan sekadar persoalan perubahan cuaca. Bagi sebagian masyarakat, kemarau dapat berarti berkurangnya persediaan air, terganggunya pertanian, mengeringnya sumber-sumber air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Di sejumlah wilayah Tanah Air, persoalan tersebut mulai dirasakan masyarakat. Karena itu, kondisi alam yang terjadi hendaknya menjadi bahan renungan bagi setiap Muslim.

Apakah kita hanya akan mengeluh ketika hujan tidak turun, atau justru menjadikan kemarau sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah?

Solihan mengingatkan, ikhtiar menghadapi kemarau tidak cukup hanya dilakukan dengan pendekatan teknis. Doa, istighfar, sedekah, ibadah dan kepedulian terhadap sesama juga merupakan bagian dari ikhtiar seorang mukmin.

Allah SWT berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”
(QS Al-Baqarah: 186)

Ayat ini memberikan harapan kepada manusia bahwa tidak ada doa yang sia-sia ketika seorang hamba benar-benar menghadap Allah dengan kerendahan hati.

Kemarau, dengan demikian, dapat menjadi sebuah panggilan untuk kembali kepada Allah.

Istighfar dan Pintu Langit

Al-Qur’an juga mengajarkan hubungan antara istighfar dan turunnya rahmat Allah.

Allah SWT mengabadikan seruan Nabi Nuh AS kepada kaumnya:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.”
(QS Nuh: 10–11)

Ayat ini mengajarkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan astaghfirullah yang berulang di bibir. Istighfar adalah kesadaran untuk mengakui kelemahan, menyesali kesalahan, memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.

Karena itu, Shalat Istisqa bukan semata-mata ritual untuk meminta hujan.

Ia adalah momentum muhasabah.

Manusia diajak bertanya kepada dirinya sendiri: apakah selama ini telah menjaga amanah Allah? Apakah lingkungan telah dijaga? Apakah air telah digunakan dengan bijak? Apakah hubungan antarmanusia telah dipelihara? Dan yang paling penting, apakah hati masih bergantung kepada Allah atau justru merasa mampu berdiri sendiri?

Jangan Menunggu Bencana untuk Berdoa

Menurut Solihan, musim kemarau hendaknya dipandang sebagai ujian bagi manusia agar tetap bersabar, berikhtiar, berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT.

“Ujian itu bukan hanya ketika terjadi musibah besar. Ketika hujan terlambat turun, ketika air mulai sulit diperoleh, ketika tanaman membutuhkan air, itu juga menjadi pengingat bagi kita bahwa kehidupan ini berada dalam kekuasaan Allah,” katanya.

Karena itu, umat Islam tidak semestinya menunggu sampai kebakaran hutan dan lahan meluas, sumur mengering atau masyarakat benar-benar mengalami krisis air untuk kemudian menengadahkan tangan kepada Allah.

“Jangan menunggu terjadi kebakaran hutan dan lahan, jangan menunggu sumur-sumur mengering, baru kita mengangkat tangan kepada Allah. Selama kita masih diberi kesempatan, mari kita memohon kepada Allah sebelum keadaan menjadi semakin berat,” ujarnya.

Inilah salah satu pesan penting dari Shalat Istisqa: manusia mengetuk pintu langit sebelum keadaan menjadi lebih berat.

Memohon Hujan yang Membawa Rahmat

Melalui Shalat Istisqa, MUI Muara Enim mengharapkan Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat, keberkahan dan keselamatan.

Bukan sekadar hujan yang turun dari langit, tetapi hujan yang menjadi rahmat bagi manusia, menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, memenuhi sumber-sumber air dan menghentikan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Doa juga dipanjatkan agar persoalan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan yang terjadi di berbagai penjuru Tanah Air segera mendapatkan pertolongan Allah SWT.

“Semoga Allah SWT menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan. Semoga kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah segera berhenti, masyarakat yang mengalami kekurangan air segera mendapatkan pertolongan, dan Muara Enim senantiasa dijauhkan dari bencana,” tutur Solihan.

Mari Bersama Mengetuk Pintu Langit

MUI Kabupaten Muara Enim mengajak seluruh elemen umat Islam untuk bersama-sama mengikuti Shalat Istisqa.

Ajakan tersebut ditujukan kepada ormas-ormas Islam, pondok pesantren, masjid dan musala, majelis taklim, para ulama, ustaz dan ustazah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh umat Islam di Kabupaten Muara Enim.

Menurut Solihan, Shalat Istisqa bukan milik satu organisasi atau kelompok tertentu. Ia merupakan ikhtiar bersama seluruh umat untuk memohon pertolongan Allah SWT.

“Ini bukan kegiatan satu organisasi saja. Ini adalah ikhtiar bersama umat Islam. Karena itu, kami mengajak seluruh umat Islam di Muara Enim untuk hadir dan bersama-sama memohon kepada Allah SWT,” katanya.

Ia mengajak jamaah datang dengan hati yang bersih dan penuh kerendahan diri. Memperbanyak istighfar, memperbanyak doa dan mengakui bahwa manusia sangat membutuhkan rahmat Allah.

“Mari kita datang dengan hati yang rendah, memperbanyak istighfar, memperbanyak doa dan memohon kepada Allah. Kita ikhtiar secara lahir dan batin. Semoga Allah segera menurunkan hujan dan memberikan keselamatan serta keberkahan bagi negeri kita,” ujar Solihan.

Kemarau, Sebuah Pelajaran Kehambaan

Sesungguhnya, kemarau dapat mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar kepada manusia: air adalah nikmat, dan nikmat tidak boleh membuat manusia lupa kepada Pemberi Nikmat.

Ketika hujan turun, manusia sering lupa bahwa setiap tetesnya adalah rahmat Allah. Ketika air tersedia, manusia terkadang menggunakannya tanpa rasa syukur. Tetapi ketika hujan berhenti dan sumber air mulai menyusut, manusia kembali menyadari betapa berharganya setetes air.

Di situlah kemarau menjadi madrasah kehidupan.

Ia mengajarkan kesabaran. Ia mengajarkan kepedulian. Ia mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam menggunakan nikmat Allah. Dan yang paling utama, ia mengajarkan manusia untuk kembali kepada Allah.

Karena itu, Shalat Istisqa bukan sekadar menunggu hujan.

Ia adalah perjalanan batin untuk kembali mengakui bahwa manusia hanyalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan Yang Mahakuasa atas langit dan bumi.

Mari Hadir dan Berdoa Bersama

Shalat Istisqa di Kantor Bupati Muara Enim – Pukul: 07.00 WIB, digelar MUI  bersama Pemkab Muara Enim

Mari ajak keluarga, jamaah masjid, majelis taklim, santri pondok pesantren, ormas Islam dan seluruh umat Muslim untuk bersama-sama mengetuk pintu langit.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, menerima doa dan istighfar kita, menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan, memadamkan kebakaran hutan dan lahan, mencukupi kebutuhan air masyarakat, serta melindungi Muara Enim dan seluruh negeri dari berbagai bencana.

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyegarkan, subur, bermanfaat dan tidak membawa mudarat.”

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Dari Masjid Agung Muara Enim, mari kita mengetuk pintu langit dengan doa, istighfar dan penuh pengharapan kepada Allah SWT.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *