Menag: Ketahanan Mental Mukmin Lahir dari Cara Pandang Tasawuf, Bukan Situasi Eksternal

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ketahanan mental (resilience) seorang mukmin bersumber dari cara pandang berbasis tasawuf, bukan dari kondisi eksternal.

Dilansir situs kementerian agama RI, Menag menjelaskan bahwa kedamaian batin sejati tercapai ketika seseorang mampu melampaui dualitas antara penderitaan dan kenikmatan.

Menurutnya, pada tingkatan spiritual tertentu (maqam), jarak antara ujian dan kenikmatan akan semakin menyempit hingga tidak lagi terasa perbedaan yang mencolok.

“Bagi orang yang beriman, tidak ada lagi bedanya antara penderitaan dan kenikmatan. Semakin menganga jarak antara keduanya bagi orang awam, namun menyempit bagi mereka yang paham. Di mata orang yang sudah fana (larut dalam kehendak Tuhan), semuanya sama,” ujar Nasaruddin Umar.

BACA JUGA !

Kabar Baik! Kemenag Tegaskan TPG Lulusan PPG 2025 Tetap Dibayar

Kemenag Alokasikan Rp1,6 Triliun untuk KIP Kuliah 2026

Strategi Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H

Ia menambahkan, ketahanan mental dibangun dengan memahami bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam pasangan-pasangan yang saling melengkapi untuk menciptakan keseimbangan.

Menag mencontohkan relasi siang dan malam sebagai analogi untuk memahami hakikat cahaya.

“Tanpa adanya siang, kita tidak tahu apa itu malam. Tanpa adanya malam, tidak mungkin kita tahu hakikat cahaya. Bahkan, kita tahu adanya surga karena ada neraka. Begitu pula dalam hidup, makna kebaikan seringkali baru bisa kita pahami melalui adanya keburukan atau ujian,” katanya.

Menag juga mengajak jamaah mengubah cara pandang (mindset) dalam menghadapi dinamika kehidupan. Menurutnya, ketenangan batin tidak ditentukan oleh situasi luar, melainkan oleh bagaimana hati memproses setiap peristiwa.

“Jika kita melihat segala sesuatu sebagai manifestasi dari kehendak Sang Pencipta, maka tidak ada lagi alasan untuk merasa terpuruk secara berlebihan. Semuanya adalah bagian dari jalan menuju pengenalan diri dan Tuhan,” jelasnya.

Menjelang Ramadan, Menag berpesan agar umat Islam mempersiapkan diri secara ruhani dengan memurnikan niat ibadah hanya kepada Allah SWT, bukan sekadar mengejar fenomena spiritual semata.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *