Mau Dunia Beserta Isinya ? Ini Amalannya

foto ilustrasi

Sahabat Pembaca Interaksi Massa yang berbahagia. Ada yang menginginkan dunia beserta isinya ? yok simak ini amalannya dan penjelasannya.

Di tengah hiruk-pikuk masyarakat modern yang berlomba mengejar kekayaan, ada satu amalan yang kerap luput dari perhatian.

Ia tidak menghasilkan uang secara instan, tidak viral di media sosial, dan tidak tercantum dalam seminar-seminar motivasi finansial.

Namun dalam tradisi Islam, amalan ini disebut lebih berharga daripada dunia dan seluruh isinya yaitu shalat sunnah qobliyah Subuh.

Maka tidak salah bila penulis juga mengingat diri sendiri beserta umat muslim se dunia khususnya umat muslim di Indonesia.

Pernyataan tersebut bukan datang dari sembarang tokoh, melainkan dari teladan kita umat Islam, junjungan besar Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW menegaskan bahwa dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.  Hadits yang cukup masyhur diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah sebagai berikut:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya: Dua rakaat shalat fajar lebih utama dari dunia dan seisinya. (HR Muslim)

Mengutip kanal youtube Al Bahjah TV, seorang ulama Indonesia H Buya Yahya menjelaskan, shalat ini memiliki nilai pahala besar.

Sebab tak ada yang mampu menandingi bahkan dunia dan seisinya. Keutamaan shalat ini, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berbagai keutamaan melaksanakan shalat fajar ini.

“Ulama-ulama mengatakan itu yang dikukuhkan di dalam mazhab kita Imam Syafi’i, disebut dua rakaat fajar itu adalah dua rakaat qobliyah subuh pendapat yang dikukuhkan,” ungkapnya.

Dilansir dari NU Online, Kamis (26/2/2026), Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia seisinya. Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menunjukan dua rakaat sebelum shubuh. Dari redaksi hadits tersebut sebagian ulama mengatakannya shalat sunnah fajar.

Adapula yang menamainya sebagai shalat sunnah subuh karena dilakukan sebelum shalat subuh. Ada pula yang mengatakan shalat sunnah barad mungkin karena dilaksanakan ketika hari masih dingin.

Ada pula yang menamakan shalat sunnah ghadat yaitu shalat sunnah yang dilakukan pagi-pagi sekali. Oleh karena itu dalam Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi memperbolehkan niat shalat dua rakaat subuh ini dengan berbagai macam istilah tersebut.

Misalkan ushalli sunnatal fajri rok’ataini ada’an lillahi ta’ala. Atau boleh juga ushalli sunnatal barodi rok’ataini ada’an lillahi ta’ala  sunnatas  subhi, dan seterusnya. Atau boleh juga yang lebih lengkap adalah Usholli sunnatas shubhi rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta’aala.

Ungkapan ini memantik pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin sebuah ibadah singkat, yang hanya dilakukan beberapa menit, dinilai melebihi seluruh kekayaan dunia?

Para ulama menjelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak dimaksudkan sebagai perbandingan material semata, melainkan sebagai penegasan nilai keberkahan.

Dunia dan isinya bersifat sementara, hanya kesenangan yang menipu, mudah berpindah, dan kerap menimbulkan kegelisahan.

BACA JUGA

Lailatul Qadar ; Ini Pengertian, Tanda, dan Cara Amalan Meraihnya

Gemar Bersedekah, Maka Harta Pun Menemukan Jalannya

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al Hadid ayat 20

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةً وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرْبِهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدُ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانَ وَمَا الْحَيُوةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya : Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Sementara qobliyah Subuh mengandung nilai spiritual yang berdampak langsung pada kualitas hidup seorang muslim, termasuk dalam urusan rezeki.

Fenomena ini menarik jika ditarik ke dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini. Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga malam, namun tetap merasa hidupnya sempit.

Di sisi lain, tidak sedikit yang secara ekonomi biasa saja, tetapi hidupnya terasa cukup, tenang, dan terarah. Dalam perspektif Islam, perbedaan itu sering kali terletak pada keberkahan, bukan semata kuantitas harta.

Qobliyah Subuh menempati posisi istimewa karena dikerjakan di waktu yang sangat krusial. Saat sebagian besar manusia masih terlelap, seorang hamba bangun untuk beribadah. Ia mengorbankan kenyamanan tidur demi memenuhi panggilan Allah.

Dalam logika ibadah, pengorbanan inilah yang bernilai tinggi. Semakin berat perjuangannya, semakin besar ganjarannya.

Selain berdimensi spiritual, qobliyah Subuh juga berdampak pada pembentukan karakter. Kebiasaan bangun sebelum Subuh melatih disiplin, konsistensi, dan pengendalian diri.

Nilai-nilai ini merupakan fondasi penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Orang yang terbiasa memulai hari dengan ibadah cenderung memiliki ritme hidup yang lebih teratur dan fokus.

Dalam kajian para mufasir, keberkahan rezeki sering dikaitkan dengan ketakwaan. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah SWT akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa.

Qobliyah Subuh menjadi salah satu indikator ketakwaan karena ia dilakukan secara konsisten, ikhlas, dan jauh dari sorotan manusia.

Banyak fakta dan realita personal dan pengalaman para ulama, menjaga qobliyah Subuh sering kali beriringan dengan perubahan hidup yang signifikan. Bukan dalam bentuk kekayaan mendadak, melainkan kemudahan urusan, ketenangan batin, relasi keluarga yang lebih harmonis, dan rezeki yang terasa cukup meski tidak berlimpah.

Konsep “kaya dunia” dalam Islam memang tidak tunggal. Kaya bukan hanya soal memiliki, tetapi juga soal merasa cukup.

Qobliyah Subuh mengajarkan bahwa kekayaan sejati dimulai dari hubungan yang benar dengan Allah SWT. Ketika seorang hamba mendahulukan Rabb-nya di awal hari, maka urusan dunia akan mengikuti dengan sendirinya.

Pada akhirnya, orang yang konsisten menjaga qobliyah subuh akan merasakan makna sabda Rasulullah SAW itu sendiri.

Ia mungkin tidak memiliki seluruh dunia, tetapi dunia terasa cukup di tangannya. Dan itulah kekayaan sesungguhnya. Kaya hati, kaya berkah, dan kaya ridho Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *