PALEMBANG – Di banyak tempat, hari Jumat identik dengan meningkatnya aktivitas ibadah. Namun, di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Alang Lebar, Palembang, Jumat kini memiliki makna yang lebih dalam. Sebelum loket pelayanan dibuka dan masyarakat mulai berdatangan mengurus berbagai keperluan, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terlebih dahulu memenuhi ruangan kantor.
Bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan sebuah ikhtiar untuk mengawali pelayanan publik dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Komitmen itu diwujudkan melalui peluncuran Program Tadarus Al-Qur’an Tiap Jumat (TAAT) yang digagas Kepala KUA Kecamatan Alang Lebar, Zulfikar Ali Fajri. Program ini menjadi salah satu inovasi pembinaan spiritual bagi seluruh aparatur KUA agar budaya kerja tidak hanya dibangun di atas disiplin administrasi, tetapi juga bertumpu pada nilai-nilai Al-Qur’an.
Bagi Zulfikar, pelayanan kepada masyarakat bukan semata-mata pekerjaan birokrasi. Di balik setiap dokumen yang diterbitkan, setiap pasangan yang dinikahkan, dan setiap warga yang datang meminta layanan, terdapat amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Allah SWT.
“Al-Qur’an harus menjadi pedoman hidup sekaligus inspirasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Melalui Program TAAT, kami berharap tumbuh semangat kebersamaan, keikhlasan, dan profesionalisme sehingga pelayanan KUA semakin berkualitas dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Budaya Kerja
Program TAAT lahir dari kesadaran bahwa kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis aparatur, tetapi juga oleh kualitas spiritual orang-orang yang menjalankannya. Aparatur yang dekat dengan Al-Qur’an diharapkan memiliki kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, serta kepedulian yang lebih tinggi terhadap masyarakat.
Karena itu, setiap Jumat pagi, sebelum aktivitas pelayanan dimulai, seluruh pegawai berkumpul untuk melaksanakan tadarus Al-Qur’an secara bersama-sama. Suasana kantor yang biasanya dipenuhi aktivitas administrasi berubah menjadi majelis ilmu yang menghadirkan ketenangan.
Pada pelaksanaan perdana, kegiatan diawali dengan membaca Al-Qur’an secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan materi Pengenalan Makharijul Huruf. Pembelajaran tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar sesuai kaidah tajwid, sehingga tadarus tidak berhenti pada kebiasaan membaca, tetapi juga memperbaiki kualitas bacaan.
Pelayanan Bernilai Ibadah
Dalam perspektif Islam, bekerja merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar. Semangat inilah yang ingin dihidupkan melalui Program TAAT.
Pelayanan kepada masyarakat akan memiliki nilai yang berbeda ketika diawali dengan hati yang bersih, lisan yang terbiasa membaca ayat-ayat Allah, dan jiwa yang disegarkan oleh nilai-nilai Al-Qur’an. Tadarus menjadi proses penyucian diri sebelum melayani kebutuhan masyarakat.
Budaya seperti ini sesungguhnya memiliki akar kuat dalam tradisi Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah bukan hanya dengan sistem pemerintahan yang baik, tetapi juga dengan pembinaan ruhani yang terus-menerus. Integritas lahir dari hati yang dekat dengan wahyu.
Dari Kantor Menjadi Majelis Ilmu
Program TAAT juga menunjukkan bahwa kantor pemerintah dapat menjadi ruang pembinaan keagamaan tanpa mengurangi profesionalisme kerja. Sebaliknya, pembinaan spiritual justru memperkuat etos kerja karena aparatur diingatkan bahwa setiap tugas adalah amanah.
Kebersamaan dalam membaca Al-Qur’an membangun hubungan antarsesama pegawai yang lebih hangat. Tidak ada sekat jabatan ketika semua duduk melingkar di hadapan mushaf. Yang ada hanyalah semangat belajar, memperbaiki bacaan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dengan cara itu, lingkungan kerja tidak hanya menjadi tempat menyelesaikan administrasi, tetapi juga menjadi ruang bertumbuhnya akhlak dan karakter.
Menginspirasi KUA Lain
Program TAAT merupakan contoh sederhana bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu harus berbentuk aplikasi digital atau sistem administrasi baru. Inovasi juga dapat lahir dari penguatan dimensi spiritual aparatur.
Ketika Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi dalam bekerja, pelayanan yang diberikan bukan lagi sekadar memenuhi standar operasional, melainkan menghadirkan keramahan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab sebagai bagian dari nilai ibadah.
Semangat tersebut selaras dengan visi Kementerian Agama dalam membangun aparatur yang profesional sekaligus berintegritas. Profesionalisme tanpa akhlak akan kehilangan ruh, sedangkan akhlak tanpa profesionalisme akan sulit menghadirkan pelayanan yang berkualitas. Program TAAT berupaya memadukan keduanya dalam praktik keseharian.
Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks, langkah KUA Kecamatan Alang Lebar menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan yang sederhana. Dimulai dengan membaca satu demi satu ayat Al-Qur’an, lalu menghadirkannya dalam sikap melayani masyarakat.
Karena sejatinya, pelayanan terbaik bukan hanya lahir dari kecakapan bekerja, tetapi juga dari hati yang diterangi cahaya Al-Qur’an. Ketika ayat-ayat suci menjadi pembuka aktivitas setiap Jumat pagi, di sanalah birokrasi menemukan ruhnya, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.**












